"Kadit ... Kadit..." teriak anak kecil yang berdiri didepan rumah bercat putih memanggil pemilik rumah yang bernama Dita.
"Kadittttttt, ini Zeka" teriaknya kembali.
"Eh Zeka, cari siapa sayang?" Tanya seoarang wanita berumur membukakan pagar, tak lain tak bukan adalah mamanya Dita.
"Zeka mau cari Kadit, tante" jawabnya tersenyum menyalim tangan wanita itu.
"Oh Kak Dita, didalam baru aja sampai rumah. Yuk masuk dulu" ajaknya mengelus kepalas Zeka, "sama siapa kesini? Sama adek?" Tanyanya, tapi tak menemukan Arka disana.
Zeka memarkirkan otopetnya didepan garase rumah itu lalu menggeleng "Adek belum pulang sekolah tan".
"Oh gitu, tapi mama tau kan kalau Zeka kesini? Tadi pamit kan?".
"Tau kok" jawabnya tersenyum.
"Loh Zee" ucap Dita yang baru keluar dari dapur membawa segelas minuman dingin.
"Nah itu Kaditanya, tante tinggal ya. Kak, jagain adiknya ni" sahut Mama Dita kepada anaknya.
"Iya ma" jawabnya.
"Sini duduk. Zeka mau minum gak?" Tawar Dita yang sudah duduk di sofa panjang depan TV yang menyiarkan acara music.
Zeka menggelengkan kepalanya menolak.
"Ngapain kesini Zee? Tumben banget. Sendiri lagi".
"Kala gak kesini ya Kadit?" Tanya Zeka mencari keberadaan Lala.
"Kala?" Tanya Dita bingung, "oh Lala? Kala gak pernah mampir kesini Zee. Kenapa nyariin Kala?" Tanya Dita penasaran.
Tampak jelas diwajah Zeka langsung berubah cemberut mendengar Lala tak ada disana.
"Zeka mau beli ice dung-dung" Jawabnya tampak sedih.
Dita mengerutkan keningnya.
"Terus hubungannya sama Kala apa?" Tanyanya kembali penasaran.
"Perasaan Lala gak jual ice dung-dung deh" lanjutnya bermonolog menggaruk palanya yang tak gatal.
Zeka langsung menatap Dita dengan tatapan malasnya "Bukan. Waktu itu Kalakan janji mau ngajakin Zeka beli ice dung-dung" jawabnya malas.
Dita mengangguk mengerti "oh itu, yaudah ajak aja Kalanya. Pasti dia mau kok" ucap Dita santai, kembali meminum minumannya.
"Iiih" Geram Zeka yang membuat Dita langsung menolehkan pandangannya kearah Zeka.
"makanya Zeka kesini cari Kala, Kadit. Mau diajakin beli ice dung-dung Kadit" jawab Zeka yang mulai tak sabar.
"Eh iya ya hehe " jawab Dita dengan cengiran, "telfon aja kalau gitu" sarannya.
"Zeka gak punya nomernya" jawab Zeka memelas.
"Iya-ya Zeka gak punya" balas Dita ikut terlihat sedih, "kenapa Zeka gak minta sama adek aja? Adek punya nomer Kala kok. Kemarin Kadit ada kasih sama adek" lanjutnya santai.
"Beneran adek ada?" Tanya Zeka antusias, yang dianggukin oleh Dita.
"Tapi Zeka kan gak punya handphone, Kadit" lanjutnya kembali cemberut.
"Kasian ya gak punya" jawab Dita ikut merasa prihatin sama anak kecil itu "Kenapa gak pinjem handphone adek aja kalau gitu Zee. Nunggu Zeka punya handphone kayaknya lama deh" lanjut Dita memberi usul, walau kalimat di akhirnya gak banget.
Zeka tersenyum "Iya ya Kadit. Kadit pinter" pujinya tulus.
Padahal dibalik itu ada sifat lemot Dita yang gak disadari oleh Zeka.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKANA
Novela JuvenilSEQUEL OF A PERFECT FATHER (Duda) Arka si anak bungsu di keluarga Yudhistira, yang memiliki sifat manja dan jutek, harus menerima kenyataan kalau dirinya segera punya adik, yaitu Zekana Yudhistira. Awalnya Raka menolak keras deng...
