Guys,
Chapter kali ini hanya bonus
jadi jangan dikaitkan-kaitkan dengan cerita aslinya ya.
XOXO
6124 word
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Cuaca hari ini lagi tidak kompak. Matahari tidak henti-hentinya memancarkan sinarnya yang dahsyat, dan untungnya semua yang ada dirumah keluarga Yudhistira tak mempermasalahin hal itu, semua masih bisa ngumpul dengan semangat walau harus menahan haus dan lapar secara bersamaan.
"Yo, Noval mana? Kok belum datang?" Tanya Hadi.
Gio yang tengah asik bermain video game bersama Arka menoleh sebentar pada lelaki itu sebelum kembali pada layar yang menampilkan permainan Forza Horizon 4.
"Gak tau, Yah. Tadi katanya duluan aja soalnya ada yang harus diurusnya dulu" jawab Gio.
Hadi mengangguk kembali mengamati kedua anak itu bermain.
"Gak kesini kali, Kayo, biasanya kan Masval on time" timpal Arka tanpa menoleh.
"Pasti kesini, Dek. Kayo juga udah nanya tadi. Tungguin aja, toh pacarnya kesini jugakan ntar" jawab Gio yang tangannya sibuk menekan-nekan stik game tersebut.
Arka mengangguk.
"Adeeeek, beli ice yuk" rengek Zeka mengganggu Arka yang sedang bermain.
"Gak ada yang makan ice, tiba-tiba minta ice ni" balas Arka.
Gio menghentikan permainannya menoleh pada gadis kecil itu "Zeka gak puasa?" Tanyanya.
"Lah iya, Zeka kan puasa ngapain minta beli ice? Mau batal ya, kamu?" Tuduhnya mencubit hidung gadis kecil itu dan ikut menghentikan permainannya juga.
"Puasa kok, Zeka mau puasa setengah hari."
Arka dan Gio saling lirik. Sementara Hadi yang disana menyaksikan percakapan abang dan adik itu hanya bisa menyunggingkan senyum khasnya.
"Zee, sini deket papa" panggil Hadi menepuk pahanya, yang langsung dituruti oleh Zeka.
"Puasanya harus full dong sampai sore, masa setengah hari" ucap Hadi, membuat Zeka cemberut.
"Zeka kan masih kecil, Pa. Kata guru ngaji kalau masih kecil boleh gak puasa atau setengah hari aja" jelas Zeka dengan celotehan khas anak kecilnya.
Hadi mengangguk menerima penjelasan gadis kecil itu "Tapi itu untuk yang gak kuat, Zee. Zeka kuat atau nggak?."
"Kuat dong. Kata abang, kalau jadi adik kesayangannya abang harus kuat, pinter, cantik kayak Zeka" jawab Zeka meletakkan kedua jari telunjuknya kepipinya yang membuat Arka memeletkan lidahnya seperti ingin muntah mendengar kata-kata terakhir adiknya itu.
"Kalau jadi adiknya, adek?" Arka bertanya kemudian.
Zeka gak langsung menjawab, dia melirik papanya yang dijawab gidikkan dari Hadi "Kalau jadi adiknya adek, harus mau diajak kerumah Kala" jawabnya dengan polos.
Mendengar itu membuat Arka melebarkan matanya, sementara Hadi dan Gio sudah tertawa menanggapi ucapan polos dari anak kecil itu.
"Pa, adek gak pernah ngomong kayak gitu ya sama, Zeka. Zeka bohong ni" protesnya tak terima dengan perkataan adik kesayangannya yang selalu jadi lawan ributnya jika dirumah.
Zeka turun dari pangkuan papanya lalu berjalan mendekat kearah Arka dan berdiri didepan cowok itu, "Zeka gak bohong, kok. Kemarin adek bilang gitu sama Zeka, adek tipu-tipu Zeka ya? Zeka gak suka, Zeka gak temen ni" ambreknya buang muka dengan bibir yang sudah mengerucut maju kedepan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKANA
Ficção AdolescenteSEQUEL OF A PERFECT FATHER (Duda) Arka si anak bungsu di keluarga Yudhistira, yang memiliki sifat manja dan jutek, harus menerima kenyataan kalau dirinya segera punya adik, yaitu Zekana Yudhistira. Awalnya Raka menolak keras deng...
