"Kok ke sini, Del?" heranku. Bukannya ke dukun, Delia justru membawaku ke komplek candi dekat sekolah. "Lo mau praktek ilmu hitam sendiri? Kenapa nggak ke dukun aja sih, Del? Kan lebih trusted, recommended, dan verified."
"Lo kira olshop!"
Kemudian dia mengajakku menaiki candi yang paling besar. Naik, terus naik sampai puncak. Napas sudah terengah, tapi tenaga masih mampu untuk melayangkan satu jitakan ke kepala Delia.
"Udah. Dah sampe atas, terus ngapain?"
"Turun lagi lah." kata Delia enteng yang langsung kuhadiahi jitakan nyata.
Setelah itu mohon tutupi telinga Anda dan tunggulah beberapa saat.
Sambil menunggu, marilah kita alihkan mata ke pemandangan elok di depan. Hahhh ... surgawi sekali, bukan!
"Kan lo disumpahin jomblo tujuh turunan. Kenapa nggak lo realisasikan aja?"
Aku mengulum senyum. "Otak lo ketinggalan di bawah, ya?"
"Enggak, gue serius. Kalo lo udah jomblo tujuh turunan, berarti sumpahnya udah selesai, 'kan? Nah, yaudah lo coba aja nurunin tujuh tangga. Turunan kan artinya sesuatu yang turun. Apa coba contohnya? Tangga kan! Makanya mending sekarang lo coba nurunin tujuh set undakan candi ini, deh."
Aku meringis senang. Lah, iya juga ya! Masalahnya kan berawal dari sesuatu yang sepele, jadi penyelesaiannya pasti juga akan sesepele itu.
Masuk akal dan pantas dicoba.
"Inget ya, jangan lurus-lurus aja! Soalnya kalo lurus, tangganya nggak sampe tujuh," peringat Delia yang spontan membuatku berhenti di tengah tangga pertama.
"Hah? Trus gimana?"
"Ya belok lah, dudul! Tadi gue liat ada tangga kecil di daerah samping. Mungkin kalo kecil-kecil gitu bakal cukup."
"Oh, oke!" Aku kembali melanjutkan langkah. "Makasih, Del!"
Turunan pertama selesai. Belok kanan, ada tangga pendek. Lalu sebelah kirinya juga terdapat sebuah tangga kecil. Kakiku lanjut menyusuri sayap kiri candi, menyapu pandang dengan amat teliti.
Gotcha! Aku berlari kecil ke tangga sempit dekat arca singa, kemudian kembali berlari menuju tangga pendek lainnya. Tak kusangka menuruni tangga bisa semenyenangkan ini.
Dan sampailah di tangga terakhir. Sengaja kupilih tangga tengah yang panjang dan luas, biar keberhasilanku terasa lebih membanggakan.
Hah! Haha!
Kuatur napasku yang megap-megap kayak ikan kepanasan sambil menatap Delia yang baru menuruni sepertiga tangga.
Sekarang apa? Kenapa aku jadi girang sendiri? Wah parah, udah gila beneran nih!
"Kenapa lari-lari, Nas?"
Aku menoleh. Ah, sial!
Sial, sial, sial!
Rio sialan!!!
===
DIALOG
Penulis: hydra-ngea
Artworker: PenaabuCerita ini diikutsertakan dalam EVENT CERPEN CIRCLE PEDIA BATCH 6 GENRE TEEN FICTION #CPShortStory
Mohon dukungannya dengan klik vote dan berikan kritik saran di kolom komentar, ya.
Terima kasih dan semoga menikmati :)

KAMU SEDANG MEMBACA
Dialog
Teen FictionGue aja dibecandain terus, masa lo mau minta gue seriusin? Penulis: @Hydra-ngea Artworker: @Penaabu BATCH 6 GENRE TEEN FICTION #CPShortStory #CPTeenFiction