D.2

1.1K 113 12
                                    

Baru sampai kantin, eh si masa depan udah ketawa-ketiwi aja di meja pojok. Iya, itu tuh yang kubilang tadi. Kak Albar, yang senyumnya manis-manis dingin kayak es krim. Duh Kak, udah melting nggak karuan ini!

Sengaja kuambil duduk tak jauh dari tempat doi biar bisa curi pandang. Namun Delia sejatinya memanglah pemakan toa. Jadi dia malah berteriak, "Kak Albar! Kemarin tanding basketnya keren banget, ih!"

Seisi kantin langsung noleh, dong! Hebat kan, temen acu?

"Oh ya? Thanks!" Kak Albar, yang notabene kakak kelas Delia semasa SMP itupun menjawab diiringi cengiran cool andalannya.

"Kemarin temenku juga nonton, Kak! Katanya, Kak Albar ganteng pol!"

Kak Albar tertawa. Saat itulah tanganku auto sibuk menjepret keindahan Tuhan Yang Maha Esa secara diam-diam.

"Siapa temenmu?" tanya doi yang langsung direspons cepat oleh Delia dengan cara menunjukku menggunakan kedua tangannya. Kampret!

Kulihat wajah Kak Albar yang tiba-tiba jadi datar. Hah? Apa nih? Apakah ini semacam penolakan halus metode raut muka?

Tepat ketika Kak Albar kembali melanjutkan obrolannya, aku bangkit dan pergi meninggalkan area kantin.

Sial! Aku dikutuk!

Sumpah itu beneran diijabah!

===

DialogTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang