Hyura melangkahkan kakinya malas masuk ke rumah. Pada umumnya, anak sekolahan pasti menunggu-nunggu waktu pulang ke rumah. Tapi tidak dengan Hyura. Karena Hyura tau, ia akan selalu sendirian bersama Bibi Yi di rumah.
"Nona Hyura! Akhirnya pulang!" Bibi Yi menyambutnya. Hyura tersenyum simpul.
"Kak Mingyu belum pulang ya, Bi?" Hyura meletakkan tasnya, lalu membanting tubuhnya di sofa ruang tengah. Bibi Yi menghela napas.
"Belum, Non." Bibi Yi menunduk. Ia seolah tau apa yang dipikirkan Hyura.
"Gimana sekolahnya, Non?" Bibi Yi menunjukkan senyum cerianya, berusaha membuat mood Hyura kembali.
Orang ter-perhatian menurut Hyura. Setelah itu, Jisoo dan Tzuyu. Mama? Papa? Entah mereka di peringkat keberapa. Yang jelas, teman-teman kelasnya masih berada di atas mereka.
Mereka sibuk. Sibuk kerja. Sibuk di perusahaan mereka masing-masing. Mama biasa pulang larut malam. Kalau papa pulang setiap weekend. Itupun tidak selalu.
Hyura senang. Hidupnya bergelimang harta. Ia mau ini, bisa beli sendiri. Mau itu, tinggal bayar, selesai. Tapi, rasanya, itu tidak 100%.
Ia butuh kasih sayang orang tuanya.
~•~
Cklek"Darimana aja?" Hyura sudah berdiri di depan pintu, menyambut kakaknya itu dengan tatapan tidak enak.
"Gaperlu tau." Mingyu mengacak rambutnya, pergi begitu saja.
Mulutnya, bau rokok.
"Ngerokok lagi? Sama Bangchan cs lagi?"
"Kak!" Hyura menahan tangan Mingyu.
"Gaperlu ngurusin gue lagi." Ucapan Mingyu membuat Hyura sangat terkejut.
"Bahkan cara kak Mingyu ngomong ke aku udah beda. Kakak berubah."
Hyura melepaskan tangan Mingyu. Dan, Mingyu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah.
Hyura melirik jam tangannya. Pukul 18.00 KST. Mingyu baru datang. Padahal sekolah sudah usai sejak empat jam lalu.
Hyura masih di ruang tengah. Tugas sekolahnya itu membuat ia tak mau kembali ke kamarnya, karena ia yakin, kasur hanya akan membuatnya tertidur.Cklek
Kamar Mingyu terbuka, membuat Hyura menoleh. Tampak kakak lelakinya itu sudah mengganti seragamnya dengan pakaian jeans, membuatnya terkesan berandalan.
"Kak, mau kemana?"
Mingyu tak memedulikannya. Ia terus berjalan ke arah pintu, seolah ia tuli.
"Kak!"
Hyura beranjak, segera mencegah kakaknya itu keluar.
"Mau keluar bentar. Ngapain ngurusin, sih?"
Jawaban Mingyu masih saja sewot. Kalau memang ia benar-benar ingin keluar untuk sekedar refreshing otak, kenapa ia harus sewot seperti itu?
Mingyu mendorong pelan adiknya, menyingkirkan dari hadapannya, agar ia bisa keluar.
Hyura menyerah. Ia hanya bisa melihat kakaknya itu pergi. Kakaknya. Kakaknya yang bukan selama ini ia kenal.
~•~
"Dari mana aja Lo, bro?"
Mingyu melepas helm-nya menghampiri segerombol kawannya yang masih berada diatas motornya. Mereka ber-tos ria.

KAMU SEDANG MEMBACA
Reasons
Fanfic"Udah, please. Pergi." "Kenapa? Kenapa aku harus pergi kalo aku emang bener-bener sayang sama kamu?" "Gue punya alasan sendiri. Lo ga perlu tau." "Aku juga punya alasan sendiri kenapa aku masih tetep ngejar kamu kayak gini. Aku punya alasan." "Aku s...