2. Rumah Sakit

133 90 13
                                        

Kafka melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Setelah cukup lama menyusuri lorong rumah sakit akhirnya ia menemukan Rafi yang sedang duduk sambil memejamkan matanya di depan ruang rawat inap yang Adara tempati.

Tak mau membuang-buang waktu akhirnya Kafka menghampiri Rafi. "Raf, gimana keadaan Rara sama bunda?" tanya Kafka.

"Rara lagi istirahat dikamarnya. Bunda koma akibat cedera berat di kepalanya" balas Rafi.

Mendengar hal itu, tubuh Kafka langsung melemas. "Gue pengen liat Rara sama bunda" ucap Kafka lirih.

"Rara lagi istirahat, lo coba masuk aja ke kamarnya. Kalo bunda, baru boleh dijenguk besok" timpal Rafi.

"Tapi Rara gapapa kan?" tanya Kafka. "Pelipis Rara luka karena terbentur aspal, tadi juga sempet mimisan karena syok yang berlebihan. Terus pergelangan tangan kanannya retak karena benturan yang cukup keras" jelas Rafi.

Kafka semakin frustasi mendengar penjelasan Rafi. Ia menyesal menonaktifkan hpnya dan malah bersenang-senang dengan temannya di kafe.

"Lo masuk aja, Rara pengen ketemu lo" ucap Rafi.

Kafka mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya menuju ruang rawat inap Adara. Terlihat Adara yang sedang berbaring di kasur rumah sakit sambil menatap langit-langit ruangan itu. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Pikirannya sedang sangat kacau. Sampai-sampai ia tak menyadari kehadiran Kafka.

Kafka duduk dibangku yang terletak disamping kasur yang ditempati Adara. Kafka mengusap pergelangan tangan Adara yang terbalut perban.

"Ra" panggil Kafka. Adara langsung mendongak dan langsung tersenyum manis saat melihat Kafka.

"Maaf ya tadi gue gak angkat telfon lo" ucap Kafka. "Iya gapapa. Gue tau lo sibuk" balas Adara.

Ucapan Adara membuat dirinya semakin merasa bersalah. Ia tidak ada disaat Adara benar-benar membutuhkannya. Sedangkan Adara dan bunda nya selalu ada dan selalu siap menolong Kafka kapan pun Kafka butuh.

"Istirahat gih, gue mau ngobrol dulu sama Rafi sebentar" sahut Kafka. "Iya" balas Adara singkat.

Setelah Kafka keluar ruangan, Adara kembali membuka matanya. Ia tidak bisa tidur karena memikirkan siapa yang menabrak ia dan bundanya.

Tetapi setelah berlama-lama memikir keras, Adara tak kunjung menemukan titik terang. Daripada merasakan sakit di pelipisnya Adara lebih memilih untuk tidur.

Sedangkan diluar, ada Rafi dan Kafka. Kafka terus menerus bertanya kepada Rafi tentang kejadiannya secara detail.

"Jadi, kenapa Adara sama bunda bisa ada dipinggir jalan gitu?" tanya Kafka. "Gue gak tau detail nya gimana. Tapi kayanya mereka ditabrak bukan ketabrak" balas Rafi.

"Maksud lo ini semua udah direncanain?"

Rafi hanya membalasnya dengan deheman.

"Lo tau siapa orangnya?" Kafka kembali bertanya. Sedangkan Rafi hanya membalas dengan gelengan.

"Kok lo bisa mikir kalo ini direncanain?"

"Karena si pelaku gak ada etikat baik sama sekali, gak ada niatan buat tanggung jawab" ucap Rafi. "Tapi bukan berarti gue berburuk sangka ya" lanjut.

"Iya. Tapi lo yakin itu doang alesannya?" tanya Kafka. Rafi mengangguk sebagai jawaban.

Gue rasa belum saatnya ada yang tau tentang ini. Batin Rafi.

"Yaudah lo pulang aja. Lo kan udah daritadi disini. Biar gue yang jagain Rara sama bunda" ucap Kafka.

"Yaudah deh gue pulang duluan ye" balas Rafi sambil bangkit dari duduknya dan langsung melakukan tos ala lelaki dengan Kafka.

"Ati-ati lo udah malem nih. Awas digodain banci perempatan!" ucap Kafka sambil tertawa.

"Yeu gila lo. Udah ah gue pulang duluan yo" sahut Rafi. "Yoi" balas Kafka singkat.

***
3 jam yang lalu

"Bisa dipercepat gak rapatnya?" tanya Al pada teman-temannya.

"20 menit lagi deh sisanya kita bahas lagi besok" balas Devan--Sahabat sekaligus saksi hidup Alfa.

"Oke" sahut Al.

Sebenarnya Al malas berurusan dengan Adara. Ia takut jatuh dalam pesona gadis itu makanya Al selalu jaga jarak. Karena, ada janji yang harus ditepati.

Setelah 20 menit akhirnya rapat selesai dengan sukses. Al langsung berpamitan kepada teman-temannya dan berjalan ke luar. Ke tempat dimana tadi Adara menunggunya. Padahal Devan memanggilnya dan menanyakan ada apa. Tapi Al tak menggubris perkataan Devan. Ia meninggalkan Adara sudah cukup lama.

Al memang malas berurusan dengan Adara. Tapi hati nuraninya sebagai manusia yang harus saling tolong menolong membuat Al tidak tega.

Setelah mengelilingi area sekitar sana, Adara tetap tidak terlihat. Al mencoba menghubungi Adara tapi hasilnya nihil.

Ia merasa bersalah karena lebih memetingkan rapat pertandingannya daripada menyelamatkan nyawa Adara dan Anandita--Ibu dari Adara.

Awalnya ia lebih memilih rapat karena ia akan mewakili kota Bandung dalam pertandingan basket yang akan diselenggarakan minggu depan.

Akhirnya Al mencoba untuk menghubungi Kafka. Tapi ponsel Kafka tidak aktif. Al juga berusaha menghubungi Reynand tapi pria paruh baya itu tidak menjawab panggilannya.

Al memutuskan untuk pulang dan bertanya pada mamanya. Karena, mamanya sangat dekat dengan Adara maupun bundanya Adara.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan Al langsung bergegas ke kamar sang mama.

Tok tok tok

"Mah. Ini Alfa" ucap Al.

"Iya. Masuk aja nak" balas mamanya dari dalam kamar.

Tak mau membuang-buang waktu, Al langsung membuka kamar mamanya.

"Mama tau ga Rara sama Tante Dita dibawa ke rumah sakit mana?" tanya Al.

Sedangkan Adila--Ibu dari Al mengernyitkan dahi bingung.

"Rumah sakit? Maksud kamu? Emang mereka kenapa?" Dila bertanya balik pada putranya dengan nada khawatir karena mendengar kata rumah sakit.

"Jadi mama gak tau?" tanya Al. Dila hanya menggeleng.

"Nanti aja ceritanya. Al harus cari Adara sama Tante Dita" ucap Al


© andinaarahma

Adara [remake]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang