<Cuplikan sebelumnya>
Kita manusia, derajat kita lebih tinggi, jangan mudah terbawa pengaruh tegas Eca dalam hati.
(1: Awal Mula)
"Eca, cepetan kita ke kantin nanti kita nggak kebagian tempat duduk lohh!" Jean menarik narik lengan Eca, seraya memelas.
"Sabar, telat semenit nggak akan bikin kita mati juga." Eca menggerutu sambil manyun dan beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju kantin.
Kantin yang tengah ramai itu membuat Eca merasa gerah dan lagi perempuan itu hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan.
Ini sudah tak asing lagi ketika para murid mendengar suara nyaring bel istirahat. Semua pasti akan berhamburan keluar kelas hanya untuk ke satu tempat. Kemana lagi kalau bukan kantin?
Dan hari ini, mereka mendapati posisi di paling pojok, lagi. Ah! Untung saja pojok di tepi taman, kalau tidak mungkin mereka akan dibanjiri keringat di jam istirahat ini.
"Nifaa! Sebelah sini Fa!" Jean melambai lambaikan tangannya kepada Hanifa yang sedang celingak celinguk kebingungan.
Hanifa pun menghampiri mereka.
"Ah, maaf ya telat gabung, tadi ke ruang guru dulu hehe," Hanifa pun bergabung dengan mereka, spontan duduk dan membuat Eca sedikit bergeser.
"Biasa, mak lampir mau buru-buru terus," canda Eca sambil pura-pura tidak melihat Jean yang merasa tersinggung.
"IHH ECA MAH KAYAKNYA DENDAM BANGET SAMA JEAN!" Jean memanyunkan bibirnya.
Eca tersenyum, makin bertingkah seolah-olah Jean tidak ada di hadapannya.
"SALAH AKU APA SIH IH SAMA KAMU ECA HUHU."
Baru saja hendak menjawab Jean, bibir Eca sudah terkatup dapat karena sesuatu. Matanya terpaku sesaat, mengerjap. Seharusnya dia mudah membedakan yang mana benar manusia dan yang mana sedang berlaku seakan-akan dirinya manusia.
Gadis itu berambut indah, cantik, tidak ada kemarahan, tidak ada benci. Layaknya hantu anak kecil lainnya, layaknya bocah yang senantiasa membangunkan Eca saat hari menjelang pagi.
Siapa gadis bergaun kuning itu?
Sesaat setelah Eca bertanya di dalam hatinya, gadis itu perlahan menoleh. Menatap Eca dengan pandangnya yang kosong, dengan tumpu yang terduduk di bangku. Persis di sebelah remaja lelaki, yang Eca sesekali lihat.
"Ca kamu dengerin aku nggak sih!"
Eca terkejut ketika Jean mencubit pelan lengannya. "Nggak, emang apaan?"
"Ca, kenapa sih nggak pernah dengerin Jean ngomong ih."
Mendengar ocehan Jean, lagi. Satu bakso melesat masuk ke mulut Jean.
"Makan yang bener, nggak baik ngomong terus."
Jean cemberut, mengunyah bakso pemberian Eca dengan lahap tentunya.
"Pfftt hahaha." Melihat itu Hanifa pun tidak bisa menahan tawa.
Eca mengadah, ah sial! Ia tidak menemukan gadis itu lagi. Matanya mencari-cari, kemudian menemukan wajah laki-laki yang duduk tepat di samping Hantu gadis tadi.
Anehnya, gadis itu mengikuti kemana laki-laki itu berjalan.
Tanpa aura merah.
***
"Ma aku pulang."
Melepas sepatu, memasukkan kaos kaki ke dalam benda tersebut, berlari ke kamar, melempar tas ke atas kasur.
Membiarkan lonceng di yang sengaja diletakkan di meja berbunyi dengan sendirinya.
"Jangan nakal," seru Eca seraya melepaskan dasi.
Gadis itu melangkah, mendaratkan tumpu di atas meja belajarnya. Menilik satu persatu kertas yang di pin jarum di papan kamarnya.
"Gadis di Kamar Mandi Sekolah"
Nama : Siti Alwiyah
Umur : Sekitaran dua puluh tahun
Meninggal karena : Tidak sengaja terjatuh dan cedera kepala berat
Alasan dia menetap : Cincin pernikahannya terjatuh di sela pojok toilet
"C L E A R"
Membaca satu per satu tugas yang sudah ia selesaikan dan menarik lembaran kertas baru. Menuliskan beberapa kata di dalamnya, menancapkannya.
"Gadis di belakang bahu laki-laki"
"I'll got you!" gumam Eca penuh rasa penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fluch
HorrorAlesya Kirana hidup dengan penuh kedamaian dengan mata yang dapat melihat hal-hal yang tak biasa di sekelilingnya tak seperti mata manusia pada umumnya. Ntah ia harus memanggil itu sebagai anugerah ataupun kutukan, ia tak peduli dan menjalani hidupn...
