Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dan begitulah, aku sekarang sudah berdiri di gedung SMA Chungdam bersama dengan teman-teman sekolah yang lain. Kami disambut dengan baik disana, dan setelah itu kami akan di antar menuju ruangan dimana kami akan bertemu dengan siswa-siswa terpilih SMA Chungdam yang akan berkolaborasi dengan kami. Tapi karena diriku ini sudah menahan untuk buang air kecil dari tadi, akhirnya aku terpaksa ijin ke toilet sebelum berjalan menuju ruangan itu dan melepaskan diri dari rombongan. Lee-seonsaengnim memberitahuku untuk segera menyusul ke ruang pertemuan saja.
Selesai dari toilet aku berjalan menyusuri koridor untuk mencari ruang pertemuan itu. Tapi sekolah ini besar sekali dan ini pertama kalinya aku mengunjungi sekolah ini. Kurasa aku akan tersesat! Aku berjalan pelan-pelan dan aku melewati sebuah taman yang lumayan besar. Saat sedang berjalan, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang membuat geli kakiku. Aku melihat ke bawah dan mendapati anjing kecil lucu berwarna cokelat yang sedang mengusap-usapkan bulunya di kakiku. Ah, jadi ini alasannya. Tapi memangnya boleh, ya, membawa hewan peliharaan ke sekolah?
“Apakah kau tersesat, anjing kecil?” Aku mendudukkan diriku di atas rumput dan mengelus-elus kepala anjing itu. Sepertinya anjing ini kelewat jinak, karena sekarang ia mengusap-usapkan kepalanya juga di telapak tanganku. Aku tertawa gemas melihatnya. Lalu aku melihat bahwa di lehernya terdapat kalung berwarna biru yang memiliki bandul bulat bertuliskan ‘Coco’.
“Jadi, namamu Coco?” —anjing itu menggonggong setelah mendengar namanya dipanggil— “Dimana pemilikmu, Coco?”
“Coco!” Suara lain memanggil nama anjing kecil itu yang membuat hewan ini menolehkan kepalanya kearah samping. Aku juga menolehkan kepalaku dan melihat ada laki-laki berseragam sekola SMA Chungdam yang berlarian dan kemudian berhenti sejenak, menunduk untuk menormalkan nafasnya. Setelah itu dia berlari lagi kearahku dan Coco. Mungkin ini adalah pemilik Coco karena Coco langsung berlari kearahnya dan laki-laki itu mengangkatnya ke pelukannya.
“Coco, kau tidak boleh lari seperti itu! Ini di sekolah! Bagaimana kalau ada guru yang melihatmu, huh? Nanti kau tidak bisa kuajak ke sekolah lagi,” ucap laki-laki itu sambil mengelus kepala Coco dan membuat anjing itu menggonggong. Hm, dilihat-lihat lagi, sepertinya aku pernah melihat wajah laki-laki ini sebelumnya. Tapi dimana, ya? Ah, entahlah, aku harus segera kembali mencari ruang pertemuan lagi. Ketika aku baru membalikkan tubuhku, aku mendengar laki-laki itu memanggilku, “Tunggu sebentar!”
Aku membalikkan tubuhku dan melihatnya berjalan kepadaku dengan masih menggendong Coco. “Ya?” Aku bertanya. Namun ketika dia melihatku, wajahnya berubah menjadi terkejut seolah-olah barusan melihat hantu. Dia berhenti berjalan dan tiba-tiba saja berkata, “Nona Cantik?”
“Si-Siapa?” Aku terbata-bata menanggapi perkataannya itu dan menoleh ke belakang dan samping kanan-kiri, siapa tahu laki-laki ini sedang melihat pujaannya. Tapi aku tidak mendapati seorang pun di sekitar sini.
“Kau ini benar Nona Cantik yang kutemui di pameran komik 2 minggu lalu, kan?” Dia mulai berjalan lagi kearahku sambil tersenyum. Tanpa sadar aku ikut melangkahkan kakiku ke belakang setiap dia melangkah ke depan. Apa? Siapa laki-laki ini? Hoh, apa-apa mungkin dia ini…