"what if kita ldr, kamu tahan?"
Shera awalnya ingin menanggapi ini sebagai candaan tapi
"sounds like you're not playing 'what if' Tae....(?)"
"iya.."
"tunggu, ini beneran?!"
"shera i'm asking you"
"kemana?"
"I'm asking you first"
"kemana Tae?"
"Jerman Ra"
Shera rasanya pengen nangis saat itu juga karna ini mendadak banget dan dia belom ada persiapan apapun
Shera menengak ke atas untuk menahan air matanya yang masih membendung agar tidak jatuh
"bisa bisanya ya kamu nyuri waktu di saat kita lagi main kaya gini, kamu kira kaya gini bisa di jadiin candaan Tae? kenapa gak bahas ini dari tadi"
"aku gamau ngerusak suasana Ra"
"tapi kamu ngerusak suasana sekarang"
Taehyung senyum "kamu ga mau ldr, i know" lalu dia membuang muka untuk mengalihkan perhatiannya pada Shera
"Tae Jerman itu jauh"
"siapa yang bilang deket?"
"kenapa kamu baru ngomong sekarang"
Shera akhirnya meneteskan air matanya dan Taehyung langsung menghadap ke Shera lagi
"karna aku sendiri masih bingung Ra, di satu sisi aku pengen banggain orang tua aku tapi di sisi lain aku juga gamau jauh sama kamu, jauh sama kalian"
"aku terlalu takut untuk bahas ini karna aku tau bakal jadi gini akhirnya" lanjutnya lagi
Taehyung narik tangan gue lalu dia peluk sambil mengusap rambut gue "alasan kenapa akhir akhir ini aku sering menghilang dari kalian semua salah satunya karna ini, aku mau kamu coba membiasakan diri tanpa aku Ra"
"maaf" lanjutnya
gue mendorong dia "gak gitu caranya" gue langsung bergegas untuk masuk kamar
"Shera aku masih mau kamu disini" kata dia dengan suara mulai melemah
"kita bahas ini nanti aja ya, kamu pulang aja" lalu gue melanjutkan jalan ke kamar dan menghiraukan panggilan dari Taehyung
——
Minggu
dan gue masih setia berada di kamar tanpa keluar untuk makan sekalipun bahkan Jimin setia untuk mengetuk pintu kamar gue dari semalem walau tau ga akan gue bukain
ting!
taeek: hubungin aku kalo kamu udah mau bahas ini
pop up itu muncul di layar handphone gue tanpa berniat untuk membalasnya
gue masih gak percaya hal kaya gini bakal terjadi, gue masih remaja labil yang masih meraba masa depan, belom bisa menentukan jalan hidup
sedangkan Taehyung dia udah harus menentukan apa yang dia mau dan resiko jika dia menuruti kemauannya
tok! tok!
"Ra buka pintunya kali ini aja, abang mau ngomong sama kamu" Jimin kembali mengetuk pintu kamar Shera
gue kembali ke tempat tidur setelah membuka pintu dan di ikuti Jimin yang duduk di samping gue
"abang minta maaf" kata Jimin
gue nengok ke arah bingung "abang juga udah tau?" tanya gue
Jimin ngangguk "dia emang udah ngerencanain ini dari lama Ra bahkan sebelum adanya kamu disini, dia punya ambisi besar tapi setelah ada kamu, dia mulai ragu sama keputusannya, bahkan kita sampe lupa kalau dia berniat ke Jerman karna dia gak pernah omongin lagi"
kalo Jimin udah mulai memposisikan diri sebagai abang bahkan sampai aku-kamu artinya dua, dia sedang merasa bersalah atau dia takut gue marah
"kenapa lo juga baru bilang padahal gue sempet nanya perihal kuliah sama lo"
"abang gak mau ngelangkahin Taehyung, dia yang seharusnya ngomong sama kamu bukan abang"
Jimin natap gue lama "abang cuma mau ingetin, jangan jadi beban buat orang apalagi penghalang masa depan Ra" katanya dan setelah itu dia pergi
tbc
maaf lama ya, aku lagi fokus di book yang baru
KAMU SEDANG MEMBACA
lost :kth
Fanfictionwhen a big part of your happiness is gone, what you gonna do? ⚠️HARSHWORDS
