Dapat kurasakan mobil ini berjalan secara perlahan dan beberapa detik berikutnya, aku membuka mataku dan menatap sekeliling. Entahlah sekarang aku berada dimana. Yang kuingat hanyalah setelah aku mengatar Mom dan Dad kebandara aku pun tidur didalam mobil. Sungguh. Rasa lelah itu masih belum berkurang.
Aku pun memperbaiki posisi dudukku tanpa mengalihkan pandanganku dari jendela. Merasa bosan dengan keadaan sepi seperti ini, aku pun menyalakan radio dan kebetulan sedang memutar lagu dari MKTO yang berjudul Classic.
Suara radio memenuhi mobil. Bahkan bunyi mesin mobil pun juga terdengar mengingat aku menyalakan radio itu dengan volume yang rendah.Aku pun mengalihkan pandanganku kearah kak Cameron. Aku lirik sekeliling. Mencari sesuatu yang mungkin dapat kuminum.
"kak." Ujarku pelan masih sembari mencari-cari sesuatu yang dapat kuminum. Jujur saja. Tenggorokanku sangat sakit karena saking kehausannya. Menyedihkan sekali aku ini.
Aku pun kembali mengulangi memanggil kakakku itu. Tapi, hasilnya tetap sama. Dia masih sibuk menyetir dengan wajah seriusnya. Seakan sekarang dia sedang mengikuti balapan mobil dan dia sedang dilap terakhir. Apa wajahnya tidak terasa lelah jika dia terus memasang ekspresi yang sama berjam-jam?
Terdengar dia mendengus lalu berdecak ketika jalanan dikota New York yang sekarag dilanda kemacetan. Aku kembali memanggilnya. Terlihat dia mengusap wajahnya dengan telapak tangannya lalu menatapku geram.
"What?"'Tanyanya dengan wajah juteknya yang sungguh sangat mengerikan. Bagaimana bisa pemuda tampan ini membuat wajah mengerikan seperti yang dia lakukan tadi? Kembali membayangkannya pun sudah membuat bulu kudukku berdiri. Sekarang nyaliku sudah ciut. Aku hanya dapat menundukkan wajahku menatap sepatu converse yang pastel yang senada dengan bajuku. Menyedihkan sekali kau ,L.
Sesampai dirumah, aku segera berjalan kedapur untuk mencari sesuatu untuk diminum. Rasanya tenggorokanku direbus. Panas dan sangat perih. Setelahnya, aku berjalan kearah kamarku dan memhempaskan tubuhku kekasur. Sungguh. Sekarang aku menjadi sangat takut dengan kakakku sendiri.
Aku pun duduk lalu mengamati kamar kakakku itu. Terlihat pemuda itu juga sedang berbaring dikasurnya. Mungkin sedang menatap langit-langit kamarnya. Terkadang, aku berpikir kalau dia sedang memiliki masalah. Mungkin seperti patah hati? Tapi, pada saat itu juga aku berpikir itu memang karakternya.
Jika itu memang karakternya, aku akan berusaha untuk mengubahnya. Dan jika karena dia sedang patah hati, aku akan berusaha untuk menghiburnya. Aku tahu keinginanku tadi terdengar berlebihan. Aku tahu itu.
Tiba-tiba saja, dapat kusarakan sesuatu bergetar dari sakuku. Handphone. Tanpa berpikir pun setiap orang pasti tahu kalau benda pipih itu yang bergetar. Dengan segera aku mengambil benda itu dan memeriksa apa yang membuat ponsel itu bergetar.
From : Kian
How was your day?
Tak dapat kutahan bibirku tertarik membuat lengkungan yang biasa disebut senyuman. Sebenarnya, baru saja aku berpikir kalau sahabat menyebalkanku itu sudah melupakanku. Mengingat dia sangat sibuk dengan urusannya. Dengan segera, aku membalas pesannya.
To : Kian
Very good. I just think that my annoying friend have forgotten me.
Tidak lama benda pipih itu kembali bergetar. Sepertinya dia sangat bersemangat untuk mengobrol denganku mengingat dia membalas pesan dariku kurang dari 1 menit. Lol!
From : Kian
How can I forget you, idiot?
Aku berjalan kearah balkon kamarku. Ini pertama kalinya aku kesini. Udaranya lumayan. Aku lirik jam tangan berwarna putih yang melingkar dipergelangan tangan kiriku. 10 am. Perlahan, aku duduk dikursi yang disediakan dibalkon ini.
Balkon ini sebenarnya terletak diantara dua kamar. Maksudku, dikamar Cameron terdapat pintu balkon ini dan dikamarku juga. Kuharap kau mengerti maksudku. Diseberang balkon ini adalah rumahnya Kian. Besarnya kurang lebih dengan rumah ini. Terlihat sepi mengingat orang tua Kian jarang pulang.
To : Kian
How sweet! And thank you for call me idiot.
Sepertinya Kian tidak sedang dirumahnya. Dengan langkah lamban aku kembali kekamarku. Tak lupa menutup pintu balkon. Aku kembali duduk dikasurku. Sungguh menyedihkan. Betapa menyedihkannya hidupku. Aku tidak mau mati konyol. Mati karena kebosanan? Apa kata orang nanti.
Handphone-ku kembali bergetar. Dengan segera aku memeriknya dan itu pesan dari Kian, lagi. Walaupun begitu, aku tidak keberatan jika di terus mengirimi aku pesan mengingat tanpa sahabat menyebalkanku itu, mungkin saja aku sudah mati kebosanan beberapa saat yang lalu.
From : Kian
Urwell princess ;)
Aku letakkan ponsel itu diatas ranjang secara sembarangan. Lalu memperhatikan kamar kak Cameron yang terlihat rapi. Disamping kasurnya, terdapat meja kecil dan diatasnya ada dua foto yang diberi bingkai. Dari jarak ini tidak tampak jelas. Terlihat kedua foto itu seperti seorang wanita. Yang dapat kutebak wanita-wanita difoto-foto itu berbeda. Salah satunya tampak lebih muda dari yang satunya lagi.
Tiba-tiba kak Cameron bangun dan menatapku sengit. Jujur saja, aku paling tidak bisa ditatap begitu. Untuk kesekian kalinya, aku sangat-sangat menyedihkan.Aku yakin kalian sudah sangat bosan dengan ucapanku barusan. Tapi itulah hidupku.
"Sudah puas memandangi kamarku?" Ujarnya masih dengan ekspresi mengerikan yang sama. Wajah tampan tapi sayangnya hanya menunjukkan beberapa ekspresi yang terbilang tidak menarik untuk dipandang. Whoaa.. frontal sekali aku.
Aku menghembuskan nafasku perlahan. Sekarang ada dua kemungkinan. Yang pertama, dia membenciku. Dan yang kedua, dia sedang lelah. Dan aku harap kenyataannya kalau sikapnya kepadaku karena kemungkinan kedua. Aku harap.
A/N: Hola! so, gimana part 2? as always i hope you like it!.
Maaf kalau ini bakal slow update. Why? Karena aku sudah kelas 9 dan waktuku ga banyak gitu lo.. *sok sibuk* Dan juga, aku ngurus 2 cerita. Damn, I Love You sama ini. Jadi ya gitu deh...
Aku bakal lanjut kalau ada ide guys! please be good reader, Leave vote/coment if you read this chapie. i work hard for this.
Once again, thanks a lot!
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Brother ; C.D
Novela JuvenilAku selalu berharap memiliki seorang kakak. Namun, ketika aku sudah mendapatkannya, dia tidak seperti yang aku impikan. Aku selalu berusaha mengubahnya. Tapi, hal itu bukan hal yang mudah. Haruskah aku berjuang atau terkukung dalam keadaan ini? [Edi...
