Chapter 3 : He is Different

7.4K 566 1
                                        

Hari kedua. Aku mengucapkannya seakan-akan kemarin dokter mengatakan padaku kalau umurku tidak akan panjang lagi. Lucu sekali. Aku menghitung hari karena kakakku sendiri.

Dengan langkah gontai, aku segera menghempaskan tubuhku dikasur. Lalu memejamkan mata. Mengingat-ingat kalau liburan musim panasku akan berakhir ketika Mom dan Dad kembali. Semuanya akan kembali normal. Tapi, dikurung dirumah dengan kakak dari kutub utara ini lebih baik daripada harus mengerjakan 10 soal fisika.

Tiba-tiba saja ada sebuah ide menakjubkan tapi nekat. Aku pun segera duduk lalu berjalan kearah balkon. Seperti yang aku katakana sebelumnya, disana ada pintu untuk menuju kamar kakakku. Hal baik lainnya adalah dia sedang berbaring dikasurnya.

Dengan semangat aku mengetuk pintunya.Terlihat dia celingak-celinguk. Mencari sumber suara. Wajahnya terlihat lucu ketika dia melakukannya. Dengan gerakan lambat, dia berjalan kearahku dan membuka pintu yang sejak tadi menjadi penghalang antara kami.

"What?" Ujarnya singkat, padat dan sangat jelas. Wajahnya yang dingin bak pangeran es balok tidak membuat semangatku luntur. Tidak sama sekali.

"Kau tau ini adalah minggu terakhir dari liburan musim panasku." Ucapku diiringi senyum yang tidak berhenti-hentinya menghiasi wajahku. Sungguh. Aku sangat bersemangat dengan ide ini.

Terlihat wajah kak Cameron menjadi bingung dan penasaran. Eskpresi yang baru pertama kali kulihat darinya. Apa dia tidak mengerti maksudku atau dia tidak tau jika ini adalah minggu terakhir dari liburan musim panasku?

"Bagaimana kalau kita piknik?" Ujarku semangat.Piknik ya piknik. Terakhir kalinya aku piknik saat aku berusia 7 tahun. Satu bulan sebelum meninggalnya Dad. My real Dad. Seseorang yang sudah berkorban banyak untukku.

Kami kesana pada akhir-akhir liburan musim panasku. Aku masih ingat bagaimana gambaran piknikku dulu. Masih terekam sangat jelas. Tapi, aku sudah lupa dimana kami pelaksanakannya. Aku tahu kalau kami dulu piknik ditaman. Tapi, aku tidak tahu taman yang dimana.

Dan tragisnya sebulan setelah kejadian itu Dad meninggal karena tabrak lari. Mom bahkan sampai mengurung dirinya dikamar sebulan dan terus-terusan menangis. Beliau hanya keluar kamar untuk menyediakan makan untukku dan setelahnya beliau kembali meratapi nasibnya yang baru saja ditinggal seseorang yang sangat berharga.

Hal baiknya, aku sudah memiliki Kian waktu itu. Dia selalu berkunjung kerumahku untuk menanyakan kondisiku dan Mom. Dia menyebalkan. Tapi, dia sangat baik disisi lain. Semua orang tahu itu. Semuanya. Dan beruntungnya dia adalah sahabatku sejak usiaku 5 tahun.

"Aku lelah." Ucapan kak Cameron yang menarikku kedunia nyata yang sungguh menyakitkan. Bersikap seakan-akan baik-baik saja dihadapan orang-orang itu bukanlah hal mudah.

"Tapi, kak-"

"Jangan memanggilku kakak. Itu menjijikkan." Ucapnya dan detik berikutnya pintu kaca itu sudah tertutup. Dan saat itu juga aku terduduk lemas didepan pintu balkon kak-. Cameron maksudku.

Dengan langkah gontai dan wajah yang terlihat tidak bersemangat untuk hidup, aku duduk dikursi balkon. Menatapi langit dan apapun yang dapat kulihat. Jujur saja, aku bukannya sedih karena Cameron tidak mau menemaniku piknik. Tidak. Yang kupikirkan kenapa nasibku semakin miris karena memiliki kakak yang sepertinya sangat membenciku.

Kemungkinan-kemungkinan yang awalnya aku perkirakan itu salah. Dia bukan salah satu dari kemungkinan itu. Tapi, yang terjadi padanya adalah semuanya. Dia membenciku. Itu memang sifatnya yang sangat ketus itu. Dan parahnya dia adalah kakakku.

Aku memiliki kakak yang membenciku. Bahkan aku sangat yakin kalau dia tidak menganggapku ada. Ucapannya dia airport waktu itu hanyalah omongan kosong . Semuanya omong kosong. Terlalu banyak drama dihidupku yang menyedihkan ini.

Dan dari semua hal yang baru saja terjadi padaku ini belakangan ini, dapat disimpulkan satu hal.

He is different.Than I think.

A/N:

Hahaha... Cepatkan ngepostnya =)

As always, i hope you like!

thanks a lot xoxo

Step Brother ; C.DTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang