Dengan tergesa-gesa aku berjalan menuju handphoneku berada. Sungguh suaranya sangat memekikkan telinga. Setelah mendapatkannya tanpa melihat ID Caller aku langsung mengucap layar ponsel itu dari kiri ke kanan dan menempelkannya ketelinga. Dan sekarang terdengar sorakan bahagia dari seberang sana.
“Ha-”
“Whoaa.. Akhirnya kau mengangkat teleponku juga,L. Kau tahu sudah berapa kali aku menelponmu? Lebih dari 5 dan baru sekarang kau angkat.”
Aku yang mendengar ocehannya hanya memutar bola mataku. Siapa suruh menelponku pukul 8 pagi? Tadi aku baru saja selesai sarapan bersama Cameron. Jangan lupakan tentang kesunyian antara kami.
“Ada apa?”
“Kau kenapa? Apa kalian berdua mengalami masalah rumah tangga?”
Dan detik itu juga aku langsung membelalakkan mataku. Dengan langkah gontai, aku berjalan kebalkon dan duduk dikursi yang kududuki semalam sembari mendengus.
“Kau pikir kami menikah?” Sahutku dengan nada menyindir. Dia yang mendengarnya malah tertawa terbahak-bahak. Menyebalkan.
“Lol! Oke, to the point saja, Aku mau mengajakmu ketaman.Kau bisa?”
Detik itu juga aku langsung tersenyum lebar. Dibalik sikap menyebalkan Kian, sangat banyak hal-hal yang membuatku sangat bersyukur memiliki sahabat sepertinya. Dia baik, perhatian, pengertian, dan hal terbaiknya adalah dia humoris.
Kian lumayan Tampan, dan banyak gadis-gadis disekolahku itu mengharapkanya. Tapi entah kenapa dia tidak memiliki pacar. Ketika ditanya, dia selalu menjawab ‘Aku sedang menunggu seseorang.’ Ya selalu begitu.
“Why ask? Yes, of course!”
“Okay, aku tunggu didepan rumahmu lima menit lagi. Bye princess!”
“Bye.”
Setelahnya, dengan kecepatan cahaya, aku memakai sepatu converseku. Lalu kembali menyisir rambutku. Setelahnya aku berjalan dengan langkah besar keluar dari kamar. Ketika aku melewati ruang keluarga, tampak Cameron sedang menonton televisi.
Perlahan, aku mendekatinya. Sungguh aku sangat gugup. Seperti seseorang yang ingin menyatakan cintanya. Dan bodohnya, aku gugup seperti ini karena meminta ijin kakakku untuk keluar rumah. Hanya untuk ketaman.
“Cameron, Aku akan ketaman. Jangan khawatirkanku.” Ucapnya pelan. Aku tetap berdiri disitu. Menunggu reaksi kakakku itu. 1 menit. 2 menit. 3 menit.
Pada akhirnya aku putuskan untuk tidak menunggu reaksinya lagi. Ketika aku berjalan menjauh, terdengar Cameron berdecak dan mengucapkan ‘cih’ pelan.
“Kalau perlu jangan kembali!”
Mendengarnya rasanya hatiku mencelos keluar dari tempatnya. Seperti baru saja menerima penolakan dengan cara yang tidak sopan. Aku berjalan sembari menundukkan wajahku. Menahan tangis. Tidak pernah seorang pun berbicara sekasar dan tidak sopan itu kepadaku. Tidak pernah. Bahkan dia tidak bertanya dengan siapa aku pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Brother ; C.D
TienerfictieAku selalu berharap memiliki seorang kakak. Namun, ketika aku sudah mendapatkannya, dia tidak seperti yang aku impikan. Aku selalu berusaha mengubahnya. Tapi, hal itu bukan hal yang mudah. Haruskah aku berjuang atau terkukung dalam keadaan ini? [Edi...
