Magrib Terakhir

10 3 0
                                        

Bayangan putih melintas dipelupuk mata.

"Bangun sholat subuh" 

Ternyata Mamah yang masih mengenakan mukena putihnya membangunkanku, ku lihat jam pukul 05.30

Astaga selalu kesiangan.

Mungkin karena semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.


-


Seperti biasa Mamah membeli sarapan untuk Bapak, juga berbelanja bahan masakan untuk cathering kecil kami.

Aku membantu Mamah memotong cabai hijau dan daun kencur, aku tidak tau apa yang akan Mamah masak tapi yang ku tau itu pasti lezat.


Selesai membantu Mamah aku masuk kekamarku, sambil menengok sesekali kondisi Bapak.

Kantuk masih melanda, aku rebahkan tubuh dikasur sambil membuka hp.

Dan entah aku terlelap itu untuk beberapa saat.

Dalam lelap itu tubuhku seakan menitahkanku bangkit sesegera mungkin.

Dari dalam rumah aku melihat Mamah sedang menyuapi Bapak, sungguh indah ku pandang, lalu aku pergi ke dapur untuk makan siang, karena aku ingat tubuh ini belum mendapat asupan dari semenjak subuh.


Aku makan didapur bersama kaka perempuanku yang kedua.

Satu suap, dua suap, tiga suap....

Suapan ketiga.

Bapak memanggilku dari dalam rumah sangat kencang, hatiku meledak ku tinggalkan piring dan nasi itu.

Dan aku melihat kondisi Mamah kesakitan mencengkram kepalanya. Aku dan kakaku segera mendudukannya, kemudian memberinya minum dan obat.

Disaat-saat terakhir kesadarannya Mamah melafadzkan istighfar dan syahadat berkali-kali dan dengan parau memanggilku "Aa... Aa...."

Tak lama Mamah tak sadarkan diri, kejang-kejang dan keluar cairan dari mulutnya, kami semua panik tak jelas pemikiranku buyar semua.


Dalam kepanikan itu aku lari secepat mungkin ke rumah saudaraku, untuk meminta pertolongan dan meminjam mobil. Entah saat itu aku hanya menggunakan celana boxer pendek, yang jika aku sadar pasti aku akan sangat malu.

Rumah sudah ramai oleh para tetangga dan saudara yang berkerumun.

Tubuh Mamah digotong untuk masuk kedalam mobil untuk dibawa ke Rumah Sakit sesegera mungkin.

Aku, tak kuasa melihatnya lalu kakaku menyuruhku untuk mengganti baju dan celana.

Aku runtuh, seluruh syarafku bergentar ketakutan, dadaku sesak kemudian aku coba menenangkan diri dan menyeka air mata.

Perjalanan 13 kilometer terasa amat jauh, jauh dan lama.

Dalam mobil aku pandangi wajah Mamah, yang penuh peluh keringan, aku coba menahan rasa tangisku dengan sekuat tenaga.

Patah Hati Lalu LagiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang