Making Memories

550 28 2
                                        

Jessica's POV. @MOI.
      "Angie, papa sama mama di food court, kamu telepon saja kalau sudah selesai bermain" pesan papanya Angie. Kulihat Angie hanya mengangguk dan mengiyakan apa kata orang tuanya. Sementara itu, aku mengobrol dengan ketiga sahabatku. "Bawa cukup uang kan?" tanyaku pada Bella, Shania, dan Britta. "Fyuuh.... aku bawa 200 ribu, cukup gak?" tanya Bella dengan berbisik. "Semoga cukup, kalau aku bawa 300, kalian?" tanyaku pada Britta dan Shania. "Kami berdua membawa 300, sama sepertimu" jawab Britta dan Shania bersamaan. "Hey, kalian ngapain bisik-bisik? Kita harus selalu bersama agar tidak terpisah" kata Angie. "Apa kita harus selalu memainkan suatu permainan yang sama?" tanyaku. "Tidak juga sihh, kalau ada yang tidak mau tunggu saja atau cari mainan lain" jawab Angie. "Aku akan bermain Hysteria terlebih dahulu, siapa yang ikut aku?" tanyaku. "Aku ikut!" seru Shania dan Britta bersamaan. "Haha, kalian tak mau?" tanyaku kembali pada Angie dan Bella dengan tatapan menantang. "Kau pikir aku takut?! Aku ikut!" seru Bella berlari menuju Hysteria kecil. Ya, tingginya tidak mencapai 65 meter seperti Dufan, menurutku hanya setengahnya. "Hohoho...aku menonton saja" Angie bergidik. Sementara itu, Britta, Bella, dan Shania berlari menuju Hysteria. Aku mengejar mereka. Sesampainya di pintu Hysteria.... "Aku akan mem-video kalian, jangan ada yang nangis lhoo..." goda Angie. "Aku takkan begitu, palingan si Bella" kata Shania. "Hey! Jangan meremehkanku, kita lihat saja nanti!" seru Bella. Aku dan Britta terkikik. Begitu sampai di pintu, kami masuk dan..."Kamu lepas sepatu?" tanyaku pada Bella. "Biar gak lepas pas naik turun" jawabnya tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Aku mengikuti Bella dan dilihat Shania. Shania pun mengikutiku, begitu pula Britta. "Aduh, serem banget sih, aku gak boleh takut di depan Bella, nanti dia pasti meledekku" batinku yang hanya menutup mata. Seperti membaca pikiranku, Bella menyaranku sesuatu. "Udah gak usah takut, pegang yang ini, kalau takut, pejamkan matamu, teriak saja kalau gak kuat" sarannya. "Jangan bilang kau pernah menaiki ini beberapa kali" kataku. "Hahaha, aku naik permainan seperti ini sering, apalagi di Trans Studio Bandung yang permainannya lebih mengerikan daripada ini" ujar Bella terkekeh. Aku lega Bella tak mengejekku. Coba kalau iya, aku bisa malu!. Shania yang disebelahku tampak tak sabar menikmatinya. Aku tak dapat melihat Britta, ia sedikit jauh dari tempatku duduk. Permainan dimulai...

       Setelah itu...

"Aku mau lagi deh!" seru Shania. "Aku....pusing...." lirih Britta. "Kau tak pernah naik itu?" tanya Bella. Britta menggeleng. Sementara aku hanya bisa lemas. Boleh dibilang, aku tak biasa menaiki mainan semacam ini. "Ayo, kita naik ayunan putar itu! Kuyakin itu bisa meredakan pusingmu" kata Angie menenangkan Britta. Britta hanya mengangguk lemah. "Kamu ikut kan Angie?" tanyaku. "Tentu, aku yakin permainan ini tak terlalu menyeramkan" kata Angie. Kami pun menaikinya bersama-sama. Kursinya bergoyang-goyang. Kursi di permainan ini digantung dan satu orang satu kursi. Aku duduk di kursi bagian luar dan disebelahku ada Britta. Aku akan mengawasinya. "Kau tak apa-apa?" tanyaku meyakinkan. "Tak apa, sebentar lagi kan?" tanya Britta. "Apanya?" kataku. "Ya permainan dimulai lahh!" balas Britta. KRING!!!...bel tanda permainan akan dimulai berbunyi. Aku bersiap saja. Perlahan-lahan kursi seperti diangkat dan mulai diputar dan bagaikan terbang!. Aku menyukai permainan ini. Setelah itu kami menikmati permainan apa saja disana hingga lapar. "Kita ke tempat orangtuamu yuk! Aku lapar serius.." keluh Bella memegang perutnya. "Biar kuhubungi kakakku dulu" kata Angie mengutak-atik HPnya. Sementara Angie menelepon kakaknya, kami ngobrol. "Aduh, kok aku punya firasat buruk ya" kata Shania. "Ah, paling karena kau lapar" sanggahku. "Nggak mungkin, jika aku merasa firasatku nggak enak, pasti terjadi apa-apa" kata Shania. Aku terdiam, begitu juga Britta dan Bella. Lamunanku buyar saat Angie memanggil kami. "Guys, mereka menunggu kita di Solaria" ujar Angie. Kami mengikuti langkahnya. Aku masih memikirkan kata-kata Shania tadi. Memang sih, waktu itu saat perpisahan SD, ia bicara seperti itu, dan ternyata saat perjalanan, bus kami mogok sampai sejam. Itu sangatlah lama. Seingatku ada lagi, tapi aku lupa apa itu.

         Di Solaria...

"Aku pesan Spaghetti!" seru Britta. "Aku juga!" seruku bersamaan dengan Shania. "Aku dan Bella spaghetti juga deh" ujar Angie dengan suara pelan. "Kenapa gak semangat makan sih?" tanya Shania. "Ah, hanya perasaanku saja tak enak, mungkin karena lapar" jawab Angie. Shania mengerutkan keningnya. Angie benar-benar murung. Tapi setelah makan, ia kembali ceria. Mungkin ia lapar dan perutnya sakit makanya ia murung. "Mau main sekali lagi?" tawar Papa Angie. "Tadi kita udah coba permainan kayak outbound belum sih?" tanya Britta. "Kayaknya belum deh, main yuk, menurutku seru" kataku. Kami pun bermain lagi. Kali ini keluarga Angie mengawal kami. Aku senang dengan permainan seperti itu. Setelah itu, kami langsung pulang. Ternyata diluar hujan sangat deras. Aku bismillah saja semoga tidak terjadi apa-apa. Shania makin panik saat kulihat wajahnya. "Kenapa sih kamuu?" kataku heran. "Aduh...hujan. Aku takut terjadi sesuatu" kata Shania. Aku senyum dan menasehatinya agar tak terlalu takut.

                    Saat perjalanan...

Aku kembali memasangkan headsetku seperti biasa. Walaupun volume-nya harus kubesarkan agar terdengar karena suara hujan yang keras dan deras. Tiba-tiba ada air cipratan yang membuat papa Angie tak bisa melihat jalan depan hingga papa Angie belok kiri dann...."Awass...itu pembatas jalan!!" seru Shania. Aku baru saja mau melihat namun terlambat. Semuanya gelap, teriakan Shania-lah yang terakhir kudengar. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi...

***Hello readers, lama gak update ya? Maaf deh. Please Vote and Comments yaa***

True Friends [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang