Bella's POV
Aku membuka mataku perlahan-lahan. Badanku terasa sakit semua. Aku mencoba untuk melihat sekelilingku. Kudapati orangtuaku sedang menemaniku. Mereka senang melihatku telah sadar dan segera memanggil dokter. Lalu kembali dalam waktu cepat. "Bella, kau tidak apa-apa?" tanya ibuku. Aku mengangguk pelan. Leherku terasa sakit sekali, hampir aku sulit bicara. Terbesit pikiranku untuk menjenguk kamar Angie, Jessica, Shania, dan Britta. Tapi aku juga tidak mungkin menjenguk mereka dalam keadaanku yang baru sadar. Mungkin aku butuh waktu beberapa hari kemudian untuk sedikit memulihkan tubuhku.
3 minggu kemudian...
Aku belum pulih sepenuhnya, tapi setidaknya aku dapat berbicara kali ini. Aku izin kepada Ibuku agar aku dapat bertemu semua sahabatku.
Ibuku mengizinkan asal hati-hati. Aku masih menggunakan kursi roda. Rupanya kamar kami berderetan. Aku menemukan Shania terlebih dahulu karena kamarnya tepat disebelahku. Aku memasuki ruangannya. "Bella, kau sudah sehat?" tanyanya. "Belum sepenuhnya" jawabku. "Kau sendiri? Seingatku kau tidak terlalu dekat dengan benturan" kataku. "Memang tidak, tapi sepertinya aku sempat hilang suara karena berteriak, dan aku mendengar banyak kabar buruk" kata Shania. "Apa itu?" tanyaku. "Mama Angie kudengar masih belum sadar, Ayu dan Lisa masih kritis, Kak Intan dan papa Angie katanya sudah sadar karena ia tak terlalu berbenturan. Yang paling parah Angie dan Jessica" jawab Shania. "Angie dan Jessica mengalami koma yang serius. Katanya Angie hampir tak dapat ditolong, tapi dokter-dokter itu berhasil menanganinya. Kalau tidak salah kepalanya terbentur kaca hingga kacanya pecah dan Jessica terguncang hebat hingga mengenai kaca belakang mobil. Kalau Britta kudengar keadaannya mulai membaik" jelas Shania. Aku sedih sekali mendengarnya. Aku buru-buru keluar dari ruangan Shania dan langsung ke ruangan Britta. Aku hanya melihat dari luar karena sedang ada keluarga Britta. Kalau kulihat dari luar, keadaan Britta baik-baik saja. Aku melihat ruangan Ayu dan Lisa. Mereka belum boleh dikunjungi karena kritis. Kak Intan ternyata senasib dengan Shania. Papa Angie senasib denganku yang belum terlalu pulih. Ternyata info yang diberikan Shania beberapa sudah berubah, buktinya mama Angie kini sudah sadar. Tapi keadaan Angie dan Jessica-lah yang kini harus kuhadapi. Aku takut kehilangan mereka. Apalagi Jessica, meski ia terkadang menyebalkan, tapi ia terus membuatku tersenyum. Angie selalu membuatku semangat lagi jika aku sedang sedih. Mereka berdua adalah sahabat sejatiku. Aku kembali ruanganku. Betapa bahagianya aku, saudara kesayanganku datang menjengukku. "Hello my lovely sister" sapanya. "Hey, kau kesini tak bilang aku" kataku. "Untuk apa? Jadi surprise kan? Aku juga bawakan hadiah untukmu" katanya. "Boleh kulihat?" pintaku. "Ini" katanya. Aku segera membukanya. Kudapati 5 gelang yang begitu bagus. Aku bingung ini untuk apa. "Alessa, ini untuk apa?" tanyaku. "Kau lupa? Dulu kau pernah bilang 'andai aku bisa membelikan sesuatu untuk keempat sahabatku', kau ingat, aku ingin mewujudkan keinginanmu karena kamu sulit untuk memilih apa yang bagus untuk lambang persahabatanmu itu" jawab Alessa. "Tapi bagaimana cara memberikannya? Angie dan Jessica masih koma" kataku. "Hanya kau yang tahu caranya, yang penting aku sudah bantu keinginanmu" kata Alessa santai. Pada gelang itu sudah ada namanya. Terbuat dari karet dan aksesoris 5 bintang serta namanya di antara 5 bintang itu. Aku memutuskan untuk memakai kepunyaanku dulu. Aku mau memberikan ini jika Angie dan Jessica sudah sadar. "Thanks banget ya, kau tahu persis apa yang kumau" kataku memeluk Alessa. "Sama-sama, aku pulang dulu, jaga dirimu, bye" pamit Alessa keluar ruangan dan pulang. Aku masih memandangi kotak gelang tadi. Aku tersenyum dan menyimpannya di laci putih. Aku memutuskan untuk kembali tidur karena kepalaku kembali pening. Aku benar-benar capek walau hanya jalan-jalan.
***
"Bella..." bisik seseorang. "Kamu siapa?!" seruku. "Aku hanya ingin berbicara padamu untuk terakhir kalinya" katanya. "Kamu siapa?!!" seruku kembali. "Aku orang terdekatmu, aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padamu, aku juga mau kamu menjaga teman-teman kita" katanya. "Kita? Aku saja tidak tahu kamu siapa?" kataku. "Kamu akan tahu nanti, kamu akan tahu maksudku, aku harus pergi sekarang, selamat tinggal sahabatku. Selamat tinggal.....untuk....selamanya.." Perlahan suara itu menghilang. Aku terus bertanya siapa dia. Hingga aku terbangun. "Kamu siapa?!" seruku. Aku melihat sekeliling. Aku masih di RS dan tepat di ruanganku. "Hanya mimpi, tapi bagaikan nyata, aku merasa akan kehilangan sesuatu" batinku. Aku melamun memikirkan hal itu. "Bella!, ayo ikut aku!" seru Shania yang tiba-tiba masuk ke kamarku. "Apaan sih?" tanyaku. "Ikut aku, ayo!" kata Shania. Aku segera mengikuti Shania. Tanganku ditarik keras oleh Shania. Ia terlihat cemas disaat ia memanggilku tadi. Tapi sekarang agak tenang. Shania mengajakku ke kamar Britta. "Britta, bangunlah, aku mau bertanya padamu!" seru Shania. Aku tiba-tiba tersadar. Tadi aku ditarik Shania tanpa kursi roda, jadi, kakiku sudah sembuh walau sedikit sakit. Britta terbangun. "Ada apa?" tanya Britta. "Maaf aku membangunkanmu, aku hanya khawatir" kata Shania. "Khawatir kenapa?" tanya Britta. "Aku bermimpi buruk. Aku didatangi suara misterius. Suara itu memberikan ucapan selamat tinggal, suara itu juga memintaku untuk menjaga sahabat-sahabat kita, aku tak tahu siapa dia, aku pikir diantara kita, makanya aku membangunkan Bella dan kamu untuk memastikan kalian tak apa-apa" jelas Shania. "Aku bermimpi seperti itu!" celetukku. "Semalam aku juga bermimpi itu, aku terbangun tapi aku masih ngantuk, jadi tidur lagi" ujar Britta. "Apa kamu sudah cek Angie dan Jessica?" tanya Britta lagi. "Itu dia!!! Ayo kita ke ruangan mereka!" seru Shania. Ia mengamit tanganku dan Britta. Kami menuju kamar Jessica. Kami tak diperbolehkan masuk. Aku melihat Jessica masih terbaring kritis. Perasaanku mulai tidak karuan. Aku, Shania, dan Britta menuju kamar Angie. Ia terlihat sama seperti Jessica. Kami kembali ke kamar. Ketika sampai di depan kamar Britta, beberapa dokter berlarian menuju ICU, tempat Jessica dan Angie. "Itu kenapa?" kata Britta. "Ikuti saja" kataku. Kami sedikit berlari. "Bukankah ini arah ke ruangan Angie?" tanya Britta. "Angie?....What? Angie!! Ayo kita ikuti dokter-dokter tadi!" seru Shania buru-buru. Ya, disana sudah ramai. Banyak suster dan dokter disana. "Maaf adik tidak bisa masuk" kata suster. "Tapi dia sahabat kamii!" seru kami bersamaan. "Iya, tapi kalian tidak boleh masuk" katanya. Terpaksa kami menunggu. Aku mengintip lewat jendela. Betapa terpukulnya aku. Aku kembali ke tempat duduk yang diduduki Shania dan Britta. "Sepertinya suara yang mendatangi mimpi kita adalah Angie" kataku dengan lesu. "Memangnya kamu tahu dari mana?" tanya Shania. "Dia benar-benar mendekati kematian! Dan suara di mimpi kita mengucapkan selamat tinggal, juga meminta untuk menjaga sahabat-sahabat kita!" seruku. "Iya, sepertinya itu Angie, aku pasrah saja lah, serahkan semuanya pada Allah" kata Shania pasrah. Britta setuju akan kata-kata Shania. Sedangkan aku komat-kamit berdoa agar Angie tidak meninggalkan kami semua. Selama 30 menit kami menunggu hingga seorang dokter keluar dari ruangan Angie. "Gimana keadaannya?" tanyaku. "Maaf, kami sudah mencoba sebisa mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain, ia tak bisa diselamatkan" kata Dokter. Meledaklah tangisku, disusul Shania dan Britta. Shania dan Britta masuk ke ruangan dengan paksa, sedangkan aku kembali ke kamarku. Aku mengambil kotak gelang itu. Aku ingin memberikannya sekarang. Aku berlari sebisa mungkin walau sebenarnya kakiku masih sedikit nyeri. Aku tak peduli. Sesampainya di kamar Angie aku memberikannya. "Shania, Britta, maaf aku baru memberikan gelang ini pada kalian, aku juga akan berikan kepada Jessica, semoga kalian suka" kataku. Aku menyimpan gelang milik Angie dan Jessica. Angie akan dimakamkan besok. Aku menitipkan gelang milik Angie kepada orangtua Angie yang sudah pulih. Aku meminta agar gelang tersebut tetap disimpan di kamar Angie. Setelah itu aku melihat keadaan Lisa, Ayu, dan Kak Intan. Aku berharap mereka tidak seperti Angie. Aku benar-benar terpukul atas kematian Angie. Hari disaat kami berkumpul bersama, berubah menjadi kelam. Hari ini adalah hari terburukku. Setelah menjenguk kakak dan adik Angie, aku berjalan menuju kamar Jessica. Aku melihat keadaannya lewat jendela. Keadaannya masih belum stabil. Aku membawa gelang milik Jessica. Aku menggantungkannya di pintu kamar Jessica dengan harapan Jessica dapat sembuh. Aku kembali ke kamarku. Alessa datang lagi. Ia langsung memelukku sambil menangis. "Maaf aku terlambat memberikan hadiah persahabatanmu, aku benar-benar minta maaf" katanya. "Ini semua bukan salahmu, kamu sudah memberikan hadiah yang terbaik pada sahabat-sahabatku, aku senang menerimanya. Yang penting, kamu jangan sedih lagi" hiburku. Aku tak pernah melihatnya menangis begitu. Ia selalu memancarkan wajah ceria, jadi aku tak mau kesedihannya menutupi keceriannya. Alessa menghapus air matanya dan kembali memelukku.
***Hello readers, udah lama gak update ya? Hope you like my part this time!. Sorry kalau ada yang salah atau gak jelas. Vote and comments guys. Thanks all***
KAMU SEDANG MEMBACA
True Friends [COMPLETED]
General FictionKenangan terburuk dan menyedihkan ini terjadi pada persahabatan Angie, Jessica, dan Bella. Bella satu-satunya gadis yang harus merasakan kesedihan yang banyak. Angie mengalami suatu kejadian yang hampir memisahkan persahabatan mereka. Namun persahab...
![True Friends [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/26622543-64-k128539.jpg)