Pagi ini sepertinya akan hujan, awan nampak sudah berkumpul saling berdekatan satu sama lain. Ray yang hendak pergi ke kampus, segera memberitahu Azura bahwa hari ini Ray tidak jadi menjemputnya. Bukannya merasa capek karena rumah dan apartemen Azura jauh, tetapi Ray takut bahwa nanti jika dijalan hujan, dan membuat Azura sakit."Hallo Ra, nanti aku gak bisa jemput kamu soalnya mau hujan!"
"Emangnya kenapa kalau mau hujan?" tanya zura diseberang sana.
"Nanti kamu sakit Ra, sudah dulu ya aku mau berangkat!" Ray segera mengakhiri panggilannya.
Beberapa minggu terakhir, Ray mengubah gaya bahasanya terhadap Azura, jika biasanya Ray menggunakan Saya dan Kau saat Ini Ray mengubahnya menjadi Aku dan Kamu, alasannya agar mereka tak memiliki rasa canggung, karena sudah beberapa kali Ray dan Azura bersama. Bukan dalam arti sebagai pasangan, namun sebagai guru musik untuk Azura. Aduh Ray! Semoga dengan gantinya gaya bahasa juga bisa membuat status mereka berganti menjadi pasangan.
••
Dugaan Ray tadi pagi ternyara benar, untungnya Ray sudah berada di kampus saat hujan turun jadi Ray tidak kehujanan.
Berhubung hujan sudah reda, Ray berencana mengajak Azura ke Caffe tempatnya bekerja. Daripada belajar bermain gitar ditempat biasanya, Ray ingin mengajak Azura ke Caffe sekalian Ray bisa langsung bekerja. Hari ini juga, Azura membawa mobil sendiri jadi Ray tidak harus mengantarkannya pulang. Jadi Ray tinggal share loc kepada Azura dan menunggunya sambil bekerja.
Saat sampai di Caffe, Azura langsung mencari tempat duduk, sembari menunggu Ray. Azura tahu jika Ray bekerja disini, dan Ray juga yang memberitahunya.
"Ray gue mau kasih tau satu hal sama lo!" ucap Sean setelah melihat Ray turun dari panggung.
"Sama, ayo ikut!" ajak Ray,
Tak memperdulikan Sean yang ingin memberitahunya, Ray segera menuju meja dimana Azura berada."Hai Ra, maaf ya harus nunggu lama!" ucapnya pada Azura yang saat ini tengah makan.
"Enggak papa kali Ray, aku juga pesen makanan kok soalnya laper" ujar Azura sambil tersenyum kecil.
"Oh iya ini siapa Ray?" tambahnya pada Ray. Azura seperti mengenal pria yang didekat Ray, namun Azura tidak yakin.
"Ini namanya Seano, dia barista paling ganteng disini!" jawab Ray. Inilah yang ingin Ray katakan pada Sean. Sean yang diperkenalkan begitu oleh Ray, rupanya sedikit gugup.
"Oh hai Sean, aku Azura murid terpintar Ray!" ucap Azura sambil mengajak Sean bersalaman.
Sean tentu sangat gugup, tapi mengapa Sean gugup? Kan yang menyukai Azura, Ray?
"Gue King Seano, sahabat Ray" balas Sean dan meraih tangan Azura untuk bersalaman.
Azura kembali menatap Ray, dan Ray menyimpan gitarnya.
"Mau belajar gitar kapan Ray?" tanya Azura
"Sebentar lagi aja, kamu baru selesai makan!" balasnya sambil mengotak-atik ponselnya.
Belum saja menyatakan perasaan, namun Ray sudah bersikap manis. Hmm! Memang awalnya manis, namun semoga kedepannya bertambah manis.
"Bentar ya Ra, aku mau ke Sean pesan minum, kamu mau pesan lagi enggak?" tanyanya pada Azura dan Azura hanya membalas gelengan.
Ray pun menuju ke Sean, dan memesan Vanilla Latte. Namun saat Ray ingin kembali ke meja, Sean segera mengajak Ray berbicara.
"Siapa tuh cewek Ray?" tunjuknya yang saat ini mengarah pada Azura.
"Azura, kan tadi udah kenalan"
"Iya tau, maksudnya siapanya lo?" tanya Sean gemas pada jawaban Ray.
"Oh, dia kan tadi udah bilang!" Memang benar kan! Azura sudah bilang.
"Yaelah, tadi didepan Azura aja manis, kok ke gue balik lagi cuek!" protesnya tak terima pada Ray.
"Kan Azura sopan!"
"Jadi maksud lo gue gak sopan sama lo!" ucap Sean sinis.
"Yang bilang bukan saya!" Ray memang suka sekali jika harus berdebat dengan Sean.
"Azura itu teman kuliah saya, dia satu kelas juga." tambah Ray, sebelum Sean benar-benar kesal.
"Oh" bagus deh, bisa lebih deket kalo Azura tiap hari main kesini sama Ray. Batin Sean.
"Giliran saya bilangin, cuma bales Oh untung kamu bukan gebetan saya" balas Ray enteng.
"Idih gue masih waras, masih doyan mamah muda!" ujar Sean tak terima.
"Bukan gitu, untung gebetan saya setiap kali saya ajak berbicara jawabnya panjang, lemah lembut, sambil tersenyum! Coba aja jawabnya cuma Oh kaya kamu, bisa galau saya!" jelas Ray pada Sean yang dianggapnya setengah waras.
"Iyain deh! Sana ini masih lama pesenan lo, masih ada 3 pesenan lagi habis itu punya lo!" Dirasa puas bertanya walaupun kesal, Sean segera mengusir Ray yang saat ini mendengus jengkel ke Sean.
"Perasaan tadi lo yang tanya ke gue!" balas Ray yang nampak sudah mulai kesal dengan Sean.
" Gitu dong pake lo gue biar keren, masa muka tampan, ngomong kaku!" ujar Sean semangat 45 pada Ray, dan Ray hanya datar seperti biasa pada Sean. Namun lain jika bersama Azura.
"Sengaja! Biar saya dipuji tampan!" setelah itu Ray kembali ke meja dan Sean hanya geleng-geleng kepala melihat Ray.
••
Setelah Azura pulang lebih dulu dari Caffe. Ray melanjutkan bekerja dan Sean tentu saja menjadi Barista ganteng namun Alay.
"Bang Sean, pacaran yuk!" ucap salah satu, pelanggan genitnya.
"Enggak etis dong! Masa yang nyatain perasaan perempuan!" balasnya bercanda.
"Nunggu Bang Sean lama!" ucapnya sedikit dimanjakan.
"Sorry ya, Sean yang ganteng nan tidak sombong udah punya gebetan!" ujar Sean dengan menyisir rambutnya kebelakang.
Emang dasar Sean! Tingkat kepedeannya sudah diambang batas, untungnya Sean memang tampan.
Dirasa sudah selesai bekerja, Ray berpamitan pada Sean.
"Pulang dulu!" pamitnya singkat
"Yang bener aja lo, gak sopan sama cogan! Ucap yang betul!" balas Sean sambil meminum Americano buatannya.
"Iya, saya pulang dulu!" ulang Ray dengan muka masam.
"Cuek gini, kalo nembak gebetan mana mau gebetan lo, sini belajar sama Bang Seano ganteng"
"Kok kamu tahu kalau saya mau nembak gebetan?" tanya Ray penuh selidik. Dan Sean hanya cengengesan dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.
"Iya taulah! Sean itu dukun!" jawabnya enteng.
"Terserah, saya mau pulang!"
Dan Ray langsung pergi, namun Sean lupa lagi."Aduhh Sean, kan tadi nau nanya nomer Azura kan malah lupa!" gerutunya pada diri sendiri
••
Ray telah sampai dirumah, segera Ray membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya. Ray ingin jujur pada Azura terhadap perasaannya, namun Ray ragu akan jawaban Azura. Azura memang baik dan ramah, namun tidak menutup kemungkinan jika Azura menolaknya dan Ray takut Azura akan menjauhinya.
Ray berpikir, dia memiliki kemampuan dan dia mampu melakukannya saat ini juga, akhirnya Ray membuat lagu untuk Azura tentang isi hatinya. Namun berbeda tempat dengan Sean, bahwa hari ini merupakan perkenalan resminya dengan Azura, wanita pemilik senyum manis.
••
Rangkaian kata bernada muncul dari rasa yang ada.
Tbc.
Minggu, 26 April 2020
19.31
Ineffable❤

KAMU SEDANG MEMBACA
Melliflous
RandomSebuah cinta yang terjalin karena alunan musik. Bukan benci menjadi cinta yang terlalu klise! Berawal dari sebuah rasa penasaran yang kemudian membawanya pada sebuah pertemuan singkat namun membekas dan sulit untuk dilupakan hingga akhirnya musik me...