02| 15.23

16 5 2
                                    

Sesampainya Ray dan Azura dikelas, mereka segera menyiapkan alat tulis dan fokus dalam pelajaran. Musik bukan perkara bermain saja namun juga harus mengetahui seluk beluknya juga.

Pelajaran kali ini cukup menarik, pasalnya dosen mereka memberikan sebuah tugas atau sebuah tantangan. Ray suka tantangan yang berkaitan dengan seni musik. Dan jelas saja tantangan membuat Ray tersenyum tipis. Ray mengingat pertemuan pertama kalinya bersama Azura.

Ya memang Ray sedang sebucin-bucinnya saat itu. Hingga membuat lagu romantis untuk Azura, menyanyikannya secara langsung. Dan tantangan dari dosennya hari ini adalah menciptakan lagu yang diberikan untuk orang yang disayangi. Ray yakin mungkin saat ini Azura juga memikirkannya.

Tiba-tiba Ray jadi teringat awal pertemuannya dengan azura tiga tahun yang lalu.

3 tahun yang lalu | 15.23

Seperti biasanya setiap sore Ray akan pergi ke caffe untuk bernyanyi disana. Dan sore hari ini Ray berniat untuk datang lebih awal entah mengapa Ray memiliki firasat yang cukup baik hari ini.

Dengan penampilan casual yang hanya memakai celana jeans hitam dipadukan dengan kaos bewarna putih Ray bersiap untuk berangkat dan tak lupa membawa gitar kesayangannya.

Jarak antara Caffe dan rumahnya yang tidak terlalu jauh membuat Ray memilih untuk berjalan kaki, sekalian olahraga supaya sehat pikirnya.

Sepanjang perjalanan Ray terus bernyanyi entah lagu apa saja yang sudah keluar dari mulutnya itu.

Semua berjalan lancar seperti biasanya hingga tiba-tiba Ray mendengar suara seseorang yang sedang bernyanyi yang mana membuatnya berhenti sejenak dan lupa akan tujuannya.
Ray terus mengikuti sumber suara itu dan disinilah rupanya sumber suara itu berasal.

Seorang wanita yang tengah duduk di kursi taman tepatnya di bawah pohon besar yang rindang itu.

Ya! Di dekat caffe yang sering di datangi Ray ada taman kecil yang memiliki satu bangku dan letaknya di bawah pohon yang lumayan besar itu.

Tempatnya lumayan nyaman tak jarang banyak yang berkunjung ke sana walaupun hanya untuk singgah sementara.

Ray mendengarkan suara yang mengalun begitu tenang dan enak didengar, hingga sang pemilik suara selesai dan mendapati Ray yang tengah memperhatikannya sedari beberapa menit lalu. Wanita pemilik suara yang membuat Ray terlupa itu segera menghampiri Ray.

"Kamu sedang apa?" wanita itu bertanya dengan tersenyum ramah.

"Eh-he maaf saya telah membuat tidak nyaman, sebenarnya saya mau ke Caffe, namun saya mendengar sebuah lagu yang anda nyanyikan dengan merdu" Ray bingung ingin berbicara apa, sebenarnya terjadi apa sama dirinya.

"Kamu kan Rayshiva yang digandrungi anak sekampus itu kan?" Oh Hell! Wanita di hadapannya ini ternyata mengenal sosok Rayshiva.

"Kampus? Memangnya anda mengenal saya?!" Dasar Ray, sudah jelas wanita dihadapannya ini pasti mengenalnya tidak mungkin berbicara seperti itu.

"Apa? Kamu seakan-akan tidak pernah melihat saya, padahal dalam satu ruangan yang sama!" Wanita itu tidak percaya, apa mungkin pria dihadapannya yang digandrungi banyak wanita di kampus.
Bagaimana tidak! Ray ini memang tampan tapi menurutnya kurang mengenal teman-temannya.

"Yang benar saja! Bahkan saya baru melihatmu disini!" Lihatlah sekarang! Ray bahkan melupakan segalanya, dan jam sudah berputar begitu lama!

"Ck. Maaf saya harus buru-buru" Ray segera berlari setelah menyadari bahwa dia terlalu lama memperhatikan wanita itu. Dan apa ini Ray! Bahkan bertanya namanya pun tidak dilakukannya.

Harusnya tadi nanya nama! Harusnya tadi! Harusnya, harusnya dan harusnya.

Ray segera menandai pertemuannya hari ini, yaitu pukul 15.23 di taman. Apa ini Ray! Mengapa begitu exited padahal hanya berbincang sedikit yang tak menuju kata romantis!

•••

Ray sampai di Caffe, dan segera naik keatas panggung dan menggerakkan jemarinya. Mungkin Ray memang pria yang menyukai semua jenis musik yang mendapatkan bonus rupa tampan dan menawan. Ray bahkan belum melupakan bahwa ada orang yang menyangkal artis, Ray sampai dikejar oleh fans fanatik kala itu.

Detik hingga berganti menit, Ray sangat-sangat bersyukur bisa menjadi penyanyi walau hanya di Caffe. Menurut orang itu merupakan hal kecil, namun menurut Ray itu adalah hal yang membuatnya merasa berwarna. Hal apapun itu baik kecil maupun besar, memang harus di syukuri bukan? Hal-hal kecil inilah yang nantinya membuat kita berproses menjadi yang lebih besar dan baik. Namun manusia suka lupa untuk bersyukur dalam hal apapun. Beruntunglah Ray, walau hanya hidup sendiri dan berusaha sendiri, Ray tetap bersyukur dan menikmatinya.

•••

"Ray, tumben lo tadi! Biasanya gak pernah tuh lari-larian!" tanya pria itu, dengan tidak sopannya pria itu memukul bahu Ray yang saat ini tengah meminum Vanilla Late, hingga Ray tersedak hingga membuat telinganya merah.

"Gak sopan!" ucap Ray sembari menatap tajam pria didepannya.

"Sorry Ray! Habisnya ya gue penasaran aja!"

"Kamu setiap hari penasaran kaya wartawan, lebih baik kamu jadi wartawan saja daripada Barista!" Inilah sisi buruk Ray! Selalu mengatakan dengan gamblangnya tanpa pikir dua kali.

"Ck. Seorang Sean yang tampan ngalahin lo, lo hina Ray kali ini" Tentu bukan hal yang serius, memang seperti ini King Seano. Nama depan yang memiliki arti raja, membuat Sean memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Sean merupakan salah satu Barista dari Caffe ini. Selain Barista, Sean juga menyukai seni, namun bukan seni musik sama seperti Ray, Sean lebih suka seni rupa dan seni lukis.

"Udahlah Sean, saya lagi bingung!"

"Bingung apa? Kaya mau pdkt aja!" ucapnya sambil terkekeh.

"Kayaknya bener saya harus pdkt!" kali ini Sean dibuat melongo oleh perkataan Ray. Hal itu memang wajar ketika mengalami virus merah jambu.

Tbc.

Kamis , 23 April 2020

10.45


Ineffable❤

MelliflousTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang