#2

90 7 1
                                    

         Baju yang aku jahit di penjahit pun sudah jadi, jadi aku mengambil baju itu, aku memang jarang beli baju, aku lebih sering membeli bahan lalu aku jahitkan ke penjahit.
 
         Ketika aku sampai di pesantren banyak yang memandangku, apa yang salah denganku, aku hanya berjalan tertuduk.

         Aku duduk di depan almari kamarku, menata nata baju yang berserakan. Aku heran kenapa anak kamar pada diem semua. Namun tak ku hiraukan. Hingga Ulfa mendekatiku.

       "Fai, kamu mending keluar dulu, anak-anak lagi pada ngomongin kamu." Ucap Ulfa, aku meng hembuskan nafas gusar.

        "Nanti aku kasih tau mereka ngomongin kamu apa." Ucap Ulfa lagi. Aku hanya memngangguk lalu pergi ke depan teras kamar.

         Tak lama Ulfa datang, aku hanya tersenyum padanya.

        "Kamu habis ambil jahitan ya?" Tanya Ulfa. Aku hanya mengangguk.

        "Tadi anak anak pada bilang, kamu itu kayaknya banyak duit, tapi kalo bayar uang kas kamar pasti selalu akhir bulan." Ucap Ulfa.

        Aku berusaha menahan airmataku, seketika rongga dada terasa sesak.

        "Kamu tau, aku selalu menyisihkan uangku untuk membeli apa yang aku mau, aku nggak mau minta orangtuaku, asal kamu tau,orang tuaku.." aku berhenti berusaha agar tak menangis. Dan mengambil nafas dalam dalam.

        "Berpisah. Mereka bercerai, banyak yang tidak tau kalo ayah ibu ku berpisah." Satu tetes air mata berhasil meluncur keluar. Aku menutupi wajahku agar Ulfa tak melihatnya.

         "Astagfirullah Fai, maaf aku nggak tau." Ucap Ulfa berusaha menenangkanku.

         "Setiap aku mau meminta sesuatu mereka saling melemparkanku, saat aku meminta ibuku, ibu menyuruhku minta sama ayahku begitu juga dengan ayahku."ucapku, Ulfa hanya diam mendengarkan ceritaku.

          "Besok kerika liburan pesantren kamu ke rumahku ya." Ucapku.

          "Iya." Ucap Ulfa dengan tersenyum.

          "Udah dong jangan nangis." Ucap Ulfa membasuh mukaku. Aku hanya mengangguk dan kami pun tertawa.

                      ~~~~~~~~~
     
           Perpulangan pondok pun datang, banyak santri yang bersiap siap, ada yang membawa barang sedikit bahkan ada yang membawa sampai seisi lemari habis, padahal liburan pondok hanya 1 minggu saja.

           Jika kebanyakan santri senang dengan liburan pondok, lain halnya dengan diriku. Ya, aku lebih suka di pesantren daripada di rumah, 1 hari dirumah saja rasanya 1 tahun, apalagi seminggu.

         Aku sama sekali belum packing baju, ya karna sangat malas saat liburan itu tiba.

       "Fa, jadi kerumahku kan?" Tanyaku pada Ulfa.

       "Jadi dong, yok siap siap dulu." Ucap ulfa, aku menganggu tanda setuju.

       Aku hanya membawa baju seperlunya saja, toh di rumah juga masih ada baju.

       Bel pesantren berbunyi tanda santri boleh keluar dari pondok. Aku dan Ulfa keluar melalui pintu utama.

      Aku merasa iri pada mereka yang orang tuanya masih bersatu, mereka terlihat sangat bahagia.

       Aku pulang dengan menggunakan bis, Ulfa pun tak keberatan jika harus naik bis.

       "Fa, nanti kita menginap di rumah nenekku saja ya." Ucapku

       "Terserah kamu saja Fai." Ucap Ulfa. Aku hanya tersenyum.

       Kami pun tertidur saat perjalana pulang, aku berharap saat aku bangun semua baik seperti dulu.

KhitbahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang