Part 1

6.7K 503 10
                                        

Aku menatap sebal ke arah suamiku yang sedang menunduk sembari memilin ujung kaosnya. Sebenarnya aku kasihan dengannya, tapi ia sudah cukup membuatku kesal saat ini.

Bagaimana tidak?

San tengah malam membangunkan ku dan merengek padaku agar segera membuatkannya susu. Tapi setelah aku buatkan, ia malah berkata bahwa ia sudah tidak menginginkannya lagi. Aku yang kesal akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurku. Namun, baru ingin memejamkan mata, aku mendengar suara pecahan gelas dari depan kamar.

Ternyata suamiku itu tersandung tangga yang membuat gelas di pegangannya terlepas.

Dengan sabar, aku membersihkan pecahan kaca yang berserakan dan mengelap tumpahan susu. San sendiri malah pergi gitu aja ke kamar, meninggalkanku sendiri.

Ketika aku kembali ke kamar, San ternyata sudah sibuk dengan game nya. Tanpa berkata apa-apa, aku kembali naik ke tempat tidur dan melanjutkan tidurku.

Aku terbangun beberapa menit kemudian karena teriakan San yang membahana. Dengan cepat, aku beranjak dan merampas ponselnya.

"Udah malem. Kamu mau tidur atau keluar?" tanyaku kesal.

"Aku lagi main Na," ucapnya dengan wajah polos.

"Sekarang jam berapa San? Kamu mau main sampai kapan?"

"Masih jam tiga, Sayang. Aku masih mau main," rengeknya.

"Main di luar aja sana. Kamu tuh kalau main pasti berisik deh ah. Aku ngantuk tau gak!"

Dia menunduk dan memilin kaosnya. Aku menaruh ponselnya di meja lalu menarik tangannya lembut dan mengajaknya berbaring di ranjang. Aku memeluk San erat seraya mengelus kepalanya lembut. Itu adalah cara efektif untuk menidurkan bayi besar ini.

Benar saja, tak lama kemudian aku mendengar deru napas teratur milik San. Aku mengecup bibir San dan segera menutup mataku untuk tidur.

🌾🌾🌾

Aku mengerjabkan kedua mataku dan merenggangkan otot-otot ku. Kepalaku menoleh ke samping dan tidak mendapati San disana. Aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Memang setelah sholat subuh tadi, aku memutuskan untuk tidur lagi karena masih mengantuk.

Aku beranjak keluar kamar sambil mencepol asal rambutku. Di dapur, aku melihat San yang sedang sibuk membuat sesuatu.

"Kamu masak apa?" tanyaku seraya melongokkan kepalaku untuk melihat apa yang sedang suamiku masak.

"KAMU MAU MAKAN MIE?" teriakku spontan. Aku menatapnya tajam yang dibalas San dengan cengirannya.

"San, kan kita sepakat makan mienya di malam Sabtu. Kamu ih ngeselin banget," ucapku cemberut.

"Ya gak apa-apa lah. Kan Jumat masih dua hari lagi. Aku bisa makan mie lagi berarti," ucapnya sambil meniriskan mienya dan memindahkannya ke piring.

"Gak sehat tau. Kamu kalau laper harusnya bilang. Pasti aku masakin," ucapku.

"Aku gak tega bangunin kamu. Udah yuk makan."

Aku mengerjab bingung.

"Makan berdua?" tanyaku. San mengangguk sembari menepuk pahanya, menyuruhku agar duduk disana.

"Emang kenyang? Kamu masak satu doang kan?"

"Udah sini buruan!"

Aku menurut dan perlahan berjalan mendekatinya. Aku memilih duduk di sebelahnya ketimbang di pangkuannya. Karena jujur saja aku masih sedikit kikuk kalau sudah deket-deket San.

"Ck kamu tuh ya," ucapnya kesal. San mengangkatku dan mendudukkan ku di pangkuannya lalu mengecup bibirku gemas.

"San aku duduk di sofa aja. Ak--"

"Udah diem. Sekarang kamu suapin aku. Aaakk," ucapnya lalu membuka mulutnya. Aku mengambil piringnya dan menyuapkan mie ke mulut San. Setelah itu aku juga menyuapkannya ke mulutku. Begitu seterusnya sampai mienya habis.

Tin Tong

Bel rumah kami berbunyi membuatku segera beranjak untuk membuka pintu.

"Loh Kak Seonghwa?"

Aku buru-buru menyalami tangan kakakku itu dan mengajaknya masuk ke dalam.

"Emang adek ipar kurang ajar ya lo, San. Pagi-pagi udah bawel nyuruh gue beli makanan. Untung gue lagi baik," protes kak Seonghwa.

"Berbuat baik jangan ngeluh. Nanti gak dapet pahalanya," ucap San.

Aku segera membuatkan kak Seonghwa teh dan membawakan keripik kentang kesukaannya agar bisa sedikit meredakan emosinya.

"Kakak bawa makanan apa?" tanyaku lembut.

"San bilang kamu ngidam bubur ayam deket rumah Mama kemarin," ucap kak Seonghwa seraya mengambil toples keripik kentang yang ku bawa dan mulai memakan keripik kentangnya.

Aku memang ingin makan bubur kemarin dan San juga sudah membelikannya untukku. Tapi daripada kak Seonghwa makin ngambek, mending aku makan aja buburnya. Lumayan makanan gratis.

"Makasih Kak," ucapku. Aku membuka bungkusan bubur itu dan menyodorkannya ke San yang langsung diterima laki-laki itu. Aku membuka lagi bungkusan yang satunya untuk ku makan.

"San gak kerja?" tanya kak Seonghwa bingung.

"Nanti berangkat sore. Kenapa emangnya?" jawabku.

"Loh kok sore?"

"Ada masalah di kantor. Jadi gue harus nyelidikin malem-malem biar gak ketauan," jawab San.

"Nanti yang nemenin kamu siapa Na?"

"Ya Kak Seonghwa lah. Siapa lagi emangnya?"

"Kakak ada jadwal operasi juga malem ini. Kamu sama Yoora aja gak apa-apa?"

Yoora itu istri kak Seonghwa. Sekarang mereka sudah mempunyai satu anak perempuan, namanya Jaehwa.

"Ya gak apa-apa lah," jawabku enteng.

"Kalau ada apa-apa langsung pencet jam kamu ya," ucap San.

Aku hanya mengangguk dan kembali fokus dengan makananku.

***

Tes ombak dulu guys, kalau vote dan komennya banyak bakal updet cepet.

Husband Series | Choi SanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang