Day 212 : Days with you

541 51 21
                                    

Wuahhhh sudah lama yang saya nggak apdet cerita ini. Walopun nggak yakin ada yang baca & nungguin cerita ini, tapi karena saya jenis orang yang harus menuntaskan apa yang sudah dimulai, walaupun terseok-seok, cerita ini harus selesai bagaimanapun caranya. *bayangkan author pake handuk putih yang diikat di kepala & tangan terkepal bersemangat ala Nobita mau ujian matematika. Gyahahahaha....

Jadi cerita Reyna yang sedikit somplak (well, authornya ini orangnya agak pendiam gitu deh, jadi agak sulit kalau disuruh bikin yang somplak banget) dan ringan ini, mohon jangan terlalu dimasukkan hati seperti cerita Gandhis di lapak sebelah. Walaupun mereka sepupuan, tapi Reyna tampil lebih ceria dan fresh sebagai remaja :)

Oiya, cerita ini dulu udah pernah ada komennya, tapi sejak wattpad error, entah gimana kok ilang semua komennya. Yasudlah, semoga ada yang bersedia komen lagi ^^

selamat membaca! *maap ocehannya lebih panjang dari ceritanya :D

cheers!

BJ

-----------------------

REYNA

"Kamu kapan pulang nak? Mama kesepian iniii...." rajuk mama di telpon. Lahhh...biasanya nih ya, kalau anak ngekos, yang kangen itu anaknya, bukan mamanya. Padahal biasanya aku pulang dua minggu sekali. Baru ini aku bertahan 3 minggu di Yogya karena memang sedang banyak tugas dan UAS.

"Iya ma, besok Reyna pulang. Libur semesternya baru besok, Ma."

"Kemarin ada yang kesini lho nyariin kamu. Ganteng anaknya."

Deg.

"Siapa ma?" Keningku berkerut. Sudah tiga tahun ini nggak ada cowok yang ngapel ke rumah. Paling mentok ngajakin ketemuan dimanaaa gitu. Betul-betul jomblo sejati kaaan akuuu....Aku bukannya nggak mau pacaran, cuma males ribet aja. Belum ada yang bener-bener membuatku jatuh cinta juga. Nasibku ini memang serupa betul sama mbak Gandhis, sepupuku...anaknya pakde Pram yang sekarang aku tebengin selama kuliah di Yogya.

"Hmmm...bentar-bentar....Bio..bio gitu klo ga salah." Whaattt?

"Serius ma?"

"Iyaaa...ganteng juga ya...Hihihi..." Lahhh..malah mama yang semangat.

"Ngapain dia ke rumah?" Aku jadi makin deg-deg an...Kok bisa Fabio sudah sampai rumah..Duh! Jadi pengen pulang kaannn kalo gini...

"Ya cuma cari kamu. Mama bilang, mungkin kamu pulangnya baru besok. Kamu jadi pulang kan?" Nah...mama seperti merasa punya senjata biar aku pulang-pulang terus. Dulu aja mama ngijinin aku buat kuliah di Yogya. Setelahnya, malah mama yang ribut kalau aku nggak pulang. Sering juga mama nyusul ke Yogya.

"Iyaaa bu bosss." Jawabku, membuat mama terkekeh senang di ujung telepon.

***

Aku sedang tidur-tidur ayam di sofa bed ruang tamu. Sebenarnya cuaca Yogya dan Solo di siang hari tidak beda jauh. Sama-sama gerah. Makanya aku tiduran di sofa bed sambil menyalakan kipas angin. Adem.

Rasanya baru masuk ke alam mimpi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu depan. Aku terlonjak kaget. Aku intip lewat jendela depan. Hastagah! Fabio!

Bukannya membuka pintu, aku malah lari ke dalam. "Mbak Umiiii..bukain pintunya." Aku berteriak pada pembantu rumah tanggaku sambil melesat cepat ke kamar mandi. Cuci muka secepat kilat, lalu mematut diri di depan cermin.

"Mbak Rey, ada yang nyariin tuh. Ganteng. Hihihi." Mbak Umi tiba-tiba berujar dari balik pintu kamarku.

"Iya mbak. Suruh tunggu ya." Aku tersenyum-senyum. Oke. Sudah kelihatan manis. Tidak seperti wajah bantal yang barusan.

Aku meredakan debaran jantungku yang menggila. Inginnya sih aku loncat-loncat dan nari India saking senangnya. Bayangkan! Hampir setengah tahun aku mencarinya dengan segala daya upaya. Akhirnya hari ini datang juga. Fabio datang juga ke rumahku. Malam minggu pula. Awwww!

Aku berdehem lalu menongolkan wajahku dari balik pembatas ruang. Harum parfumnya langsung menggelitik indera penciumanku. Pake parfum segalon apa gimana sih mas ganteng ini. Tapi aku sungguh tak keberatan sama sekali. Aku malah menghirup dalam-dalam wanginya sampai paru-paruku penuh. Fabio yang sedang mengutak atik ponselnya menengadahkan kepala dan tersenyum. Mendadak aku jadi kayak nenek-nenek osteoporosis. Lututku rasanya gemeletuk. Lemas hanya dengan melihat senyumnya. Duh masss..makan apa sih bisa semanis ini. Kebanyakan minum es cendol kali ya.

"Hai! Tumben main kesini." Sapaku sambil duduk di hadapannya. Duh Gusti! Itu mata apa nggak bisa mengalihkan pandangannya, sedari tadi ngeliatin aku melulu dari atas sampe bawah, dari bawah sampai atas lagi. Nggak tau apa kalau efeknya bikin aku mati gaya.

"Iya nih...mampir aja. Tadinya gambling. Ga tau kamu ada di rumah nggak. Soalnya kapan hari aku kesini kamu nggak ada." Jelasnya sambil tersenyum. Ckckck...ga cuma wajahnya yang gantengnya naudzubillah, bodynya yang bikin ngiler..suaranya juga bikin merinding disko cuy! Stop! Fokus Reyna!

"Eh iya...kapan hari kamu kesini ya? Mamaku cerita."

"Iya. Habisnya ternyata aku belum simpen nomor kamu. Jadi aku nggak tahu kamu pulangnya kapan. Aku simpen ya." Fabio bersiap menyimpan nomorku. Aku menyebutkannya dengan segera tanpa diminta dua kali. Dia lalu memencet nomorku dan menempelkan ponselnya di telinga.

"Udah aku miscall ya. Itu nomer aku yang depannya 0817. Jangan lupa disave." Yaelah mas...nggak usah disuruh juga pasti aku simpan.

"Oke. Handphoneku di kamar. Ntar aku cek ya." Jawabku sok cool.

"Yaudah, aku balik dulu ya. Udah ada janji sama teman nih." Tiba-tiba Fabio berdiri. Lah? Gitu doang?

"Kok buru-buru banget. Ini minumnya baru dateng." ujarku. Mbak Umi baru datang membawa nampan dengan dua es sirup diatasnya.

"Eh..repot-repot aja mbak." Untunglah Fabio duduk lagi. Dia tersenyum pada mbak Umi sebagai tanda terimakasih. Untuk sesaat mbak Umi terpana. Haiyah!

"Mbak!" desisku. Mbak Umi tergeragap lalu memandangku malu. Sejurus kemudian tersenyum pada Fabio dan segera balik badan menuju dapur.

Fabio langsung mengambil es sirup diatas meja dan meneguknya. "Eh..sori. Belum dipersilakan ya?" Tanyanya setelah menghabiskan setengah gelas dalam sekali teguk. Aku terkekeh pelan.

"Nggak apa-apa kok. Sori tuan rumahnya malah lambat mempersilakan." Jawabku. Ah...dia cowok yang sangat apa adanya. Nggak jaim sama sekali.

"Oke, tuntas sudah minumannya. Aku pulang sekarang ya." Fabio meletakkan gelasnya yang kosong lalu menyeringai lebar. Aku kembali tertawa lebar.

"Oke. Makasih ya mas, udah mau mampir." jawabku lalu mengikutinya berdiri.

Ia keluar dari gerbang rumahku lalu melambaikan tangan. Setelah memastikan sosoknya menghilang di ujung jalan. Aku masuk ke rumah dan menutup pintu di belakangku. Senyum bahagia tak henti- henti menghiasi wajahku. Woohooo! Yes! Aku berteriak girang.

Aku menghampiri sofa bed yang tadi diduduk Fabio lalu sibuk mengendus-endus bantal yang tadi sempat disandari dan dipeluknya. Ahhh...bantal ini benar-benar menyerap keharuman parfum khas Fabio. Aku memeluk bantal itu. menciuminya dan menggoyang-goyangkan dalam pelukanku. Aku membawanya ke kamar dan menatanya dengan rapi di sebelah bantal tidurku. Berharap wangi Fabio akan menemaniku terlelap nanti malam. Hihihi....

Behind the moon, beyond the rainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang