"Jadi... kemarin itu lo nembak Mbak Baechu?" ucap Byul Yi pelan, tapi penuh penekanan di setiap kata yang terlontar dari mulutnya.
"Umm... bukan nembak sih," sahut Jin. "Lebih tepatnya, gue menyatakan perasaan ke dia."
Byul Yi masih menatap lurus ke arah Jin, terlihat benar-benar tidak habis pikir. "Di saat Mbak Baechu baru banget putus dari Mas Bo Gum? Cowok yang sudah dipacarinya selama delapan tahun, sejak dia masih SMA itu?"
"Iya..." Jin meringis, kemudian ia kembali berargumen sampai bibirnya maju-maju. "Tapi 'kan mereka udah putus. Enggak masalah dong kalau gue nembak dia?"
Byul Yi mendengus. "Tapi lu tahu 'kan mereka baru banget putus malam sebelumnya?"
"Tahu... tapi 'kan-"
Seok Jin belum kelar ngomong, belum selesai mengungkapkan alasan yang bikin dia nekat menyatakan perasaannya ke Joohyun saat itu, ucapannya terpotong karena tiba-tiba saja Byul Yi melemparinya dengan sebungkus plastik kerupuk kulit yang tersedia, sudah disusun rapi di atas meja sama pemilik warung. Dan enggak hanya sekali, Byul Yi terus melemparinya dengan penuh emosi. Wajah gadis itu memerah padam karena kesal.
"Elu ya!" Byul Yi kembali melemparkan sebungkus kerupuk. "Pantes aja Mbak Baechu kayak ngehindarin gue. Gue sampe kepikiran punya salah apa sama dia. Tapi ternyata gara-gara elu?!"
Seok Jin mengerjapkan mata, masih berusaha menghindari lemparan maut Byul Yi. "Loh? Dia ngehindarin elu? Kenapa?"
"Menurut lo?!" Byul Yi mendelik. "Bener-bener ya, Jin. Lu pinter tapi buat masalah ini lu sama sekali enggak pake otak."
"Eh, ngomongnya kok kasar banget sih lu!" Jin ikutan sewot. Maklum, dia emang cukup gampang ikut tersulut emosi.
"Bodo amat! Lu nyebelin. Pokoknya tiga hari," Byul Yi bangkit berdiri, kemudian menyambar tas ranselnya.
Jin mengernyitkan dahinya. "Tiga hari apaan?!" tanya Jin masih dengan nada sewot.
"Gue enggak mau ngomong sama elu selama tiga hari," tegas Byul Yi. "Jadi jangan telepon, sms, WA, atau apapun. Ngerti?"
"Lah, Byul. Jangan gitu dong. Byul!"
Byul Yi benar-benar tidak menghiraukan Jin. Gadis itu langsung melenggang pergi begitu saja, mengabaikan Jin dan abang warung bakso yang memanggil-manggilnya. Iya, si abang warung bakso juga ikutan manggil Byul Yi, mau protes enggak terima kerupuk kulitnya diperlakukan semena-mena. Tapi berhubung dicuekin, akhirnya si abang minta ganti ruginya ke Jin.
Jin hanya bisa tersenyum kecut. Byul Yi ngelempar sepuluh bungkus kerupuk. Satu bungkusnya enam ribu, belum semangkok bakso sama es jeruk yang dimakan Byul Yi juga belum dibayar. Total sendiri deh berapa uang yang harus dibayarkan oleh Jin. Dan plis, ini akhir bulan. Beli bensin aja Jin minta utangan dari kakaknya.
"Dih, lagi PMS kali ya dia," gerutu Jin sambil menjejalkan dompetnya yang kini hanya berisi dua puluh ribu rupiah ke dalam kantong celana jeansnya. Pemuda jangkung itu kembali duduk di kursi, di hadapan Min Yoongi yang masih mengunyah mie ayam baksonya dengan tenang. Rada amazing juga dia bisa setenang itu di tengah huru-hara kayak tadi. Di saat bahkan pelanggan lain yang duduk di dekat mereka langsung menyingkir, takut terkena imbas amukan Byul Yi.
"Syub," panggil Jin. "Emangnya salah apa sih gue sampe Byul semarah itu? Bukannya di sini gue yang lagi punya masalah dan minta solusi ke dia? Kenapa dianya ngegas gitu sih?"
Yoongi menatap tanpa ekspresi ke arah Jin, tangannya masih sibuk sama makanannya. "Kudu banget gue jabarin ya? Wah, beneran ini Bang Jin pinter tapi untuk masalah ini otaknya enggak dipake."
KAMU SEDANG MEMBACA
Yellow
Romance"Ini cuma menurut gue aja ya, Mon. Tapi yang namanya cinta itu sama sekali enggak terencana. Lo enggak bakal pernah tahu kapan, di mana, sama siapa lo jatuh cinta. Tapi waktu lo ketemu sama dia, jiwa lo pasti langsung mengenali sosok itu - orang yan...
