7

10 2 0
                                    

"Dhir,Lo jadi ikut basket?" Tanya Silva penasaran. Dhirma mengangguk yakin.

"Iya dong, masa nggak jadi"

"Gue anter daftar ya?" Pinta Silva. Dhirma mengangguk menyetujui.

Mereka menyusuri koridor untuk menuju lapangan basket.Tampak sangat ramai, sepertinya banyak yang akan mendaftar eskul tersebut.Dhirma berjalan terlebih dahulu di ikuti Silva di belakangnya.Ia menerobos masuk ke antrian menemui kakak tingkat yang tengah menulis kan pendaftaran.

"Kak, aku ya" Ucap Dhirma dengan senyum manisnya. Ketika orang itu menoleh, senyum Dhirma pun sirna.

"Eh dedek imut, mau daftar ya dek?" Tanya Faros dengan senyum genit nya. Dhirma bergidik ngeri. Sementara Silva sudah menahan tawanya sejak tadi.

"Ya" Jawab Dhirma malas.

"Siap deh, kalo ada dedek emesh mah abang semangat empat lima hehe"

"Heh doyok!!ga usah gangguin adek kelas Lo!" Sarkas seseorang yang baru saja datang dengan minuman di tangannya.

"Yaelah Fi,cuma gitu doang kok Lo ngegas" Cibir Faros yang tak Terima.

"Ih!! Bisa cepet dikit ga sih?panas tau ga!" Celetuk Dhirma.

"Zulfi, Faros, Biar gue aja" Ucap seseorang yang baru muncul entah dari mana.Argan.

"Kamu daftar sama aku" Dhirma mengangguk setuju.

"Nama lengkap?"

"Dhirma Adhilaska"

"Umur?"

"16"

"Bohong!" Celetuk Argan dengan wajah menjengkelkan nya.

"Apa?"

"Umur kamu bukan nya 9 tahun?" Ledek Argan yang membuat Dhirma kesal setengah mati.

"Enak aja!"

"Alah alesan, kamu pasti kesini sama kakak kamu kan? Mana kakak nya? Ayo suruh kesini"

"Nyebelin banget sih!!Rasain tuh, biar mampus sekalian!" Ucap Dhirma setelah berhasil menginjak kaki Argan.

Argan memekik kesakitan, sedangkan Dhirma berlalu pergi dengan mulut nya yang tak berhenti komat kamit.Zulfi yang sejak tadi memperhatikan pun tertawa ngakak.

"Mampus! Argan di azab!"Ucap Zulfi dari kejauhan.

"Sialan"Gumam Argan yang tanpa mereka sadari telah menyunggingkan smirk nya.

'Awas aja Lo!'- batin Argan

Sedangkan di lain tempat kini Dhirma dengan kesabarannya tengah menunggu ayah nya yang biasa menjemput.Seseorang tanpa sadar telah berdiri di belakangnya. Orang itu menepuk bahu Dhirma dan membuat sang empu terlonjak kaget.

"Astagfirullah!"

"Hai Dhir,pulang barang gue ya?gue gaada barengan nya.Kebetulan kita kan searah hehe"Ucap orang tersebut dan merangkul bahu Dhirma.

'sok akrab bang*at'-batin Dhirma.

Terkadang Dhirma berpikir,apa semua orang di dunia ini fake?.Semua sahabat Dhirma selalu saja mencampakkannya.Dari SD hingga SMP pun selalu begitu.Entah Dhirma yang terlalu polos atau temannya yang tak tahu diri.

Bagi Dhirma,setiap teman hanya mendatanginya jika butuh.Jika tak butuh ya Dhirma di lupakan.Itu lah sebabnya dari dulu sampai sekarang Dhirma tak pernah memiliki teman dekat.

Tapi sekarang,ia punya satu teman yang mungkin akan setia padanya.Dia Silva.

"Boleh,Ayok"Jawab Dhirma dan memberikan senyum terbaik nya pada Gladis.Gladis adalah teman nya di sekolah dasar.Mereka tak pernah dekat tentu saja.Gladis dulu terkenal sangat pendiam.Sama seperti Dhirma.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 14, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Hidden FeelingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang