Aku bukan satu-satu nya orang, yang menyukai akhir cerita yang tragis, ataupun menangis.
Aku hanya ingin merasakan, tertawa lepas tanpa berhenti hingga akhir.
Namun kenyataan terus mengelak dan menipu hati, meratapi asa dan langit pun ikut menangis.
Mungkin ini bukan kali pertama, berada di titik dimana bulir mata akan mengalir.
Aku hanya berjalan mundur ke fase dimana air mata belum turun, dan ketika sudah tiba saat nya aku kembali pada titik harus menangis, dan melepaskan yang membuat aku bahagia.
Mengapa harus mengulang sakit yang sama jika sudah pasti akan menangis?
Aku selalu berharap, bahwa ini adalah saat untuk aku tidak menagis lagi. Tetapi aku salah, pada kenyataan aku telah dibohongi oleh sebuah harapan yang bahkan belum pasti.
Kalimat mu, yang mengatakan bahwa kamu tidak akan meninggalkan ku, adalah kalimat fiktif yang sudah aku percaya, sayang.
Menipu kenyataan, dan saat aku benar-benar ditinggalkan sendirian. Aku sadar, kamu bukan lah satu-satu nya akhir cerita bahagia ku.

KAMU SEDANG MEMBACA
catatan lara
Poetrycoba lah ingat ingat kembali, kapan pertama kali kamu menangis dan terakhir kali kamu tertawa? Mengapa demikian? Karena disetiap air mata yang jatuh, jangan lupakan senyuman sebagai obat penyembuh. Hanya diri mu yang mengerti hati mu.