v

59 26 0
                                    

Kevin berkali-kali menepuk pelan pipi kemerahan adiknya. Berusaha membuatnya siuman.

"Please God, help me," ucapnya berulang-ulang.

"Gimana adikmu? Udah baikan?" Tanya lelaki berwajah ramah itu didepan pintu.

"Shut up, jerk!" Kevin mengepalkan tangannya emosi.

"Owh, jangan kasar begitu sama pamanmu, sayang. Kita keluarga."

Wanita disamping Key mengelus pelan bahu Kevin dan langsung ditepis pemuda itu.

"Mau makan dulu? Atau langsung tidur?"

Wanita itu bertanya sekali lagi dengan wajah manisnya. Ia menyunggingkan senyum seolah Kevin dan adiknya baik-baik saja.

Kevin diajarkan oleh kedua orangtuanya untuk menghargai perempuan, karena ia seorang laki-laki. Namun ia bahkan tidak sudi memandang wanita didepannya ini.

"Kalau begitu kami tinggal, sayang. Anggap rumah sendiri." Paman Key akhirnya mengajak Istrinya pergi.

Ketika pintu ditutup dan hanya menyisakan dirinya dan adiknya yang tak kunjung siuman, Kevin menghela napas.

"Kenapa jadi begini?" Helanya putus asa.

***

Jam tangan digital dipergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul  satu malam.

Adiknya sejam yang lalu sadar dan kini mencoba memejamkan mata dibahu kirinya.

"Sekarang apa?" Monolog Kevin. "Aku ngga tau ini dimana."

Ema menatap rambut kemerahan Kakaknya yang basah karena keringat. Sejak setengah jam yang lalu pemuda itu terus melihat kearah jendela yang dipalang tak beraturan.

Gadis itu tau, kakaknya sedang mencari cara untuk keluar dari gudang ini.

"Tongkat baseballnya," lirih Kevin mengingat tongkat kebanggaan Ayahnya telah hilang entah kemana saat lelaki bernama Key itu menarik mereka kedalam mobilnya.

Ema melihat sekelilingnya. Hanya tumpukan kardus-kardus bekas yang disusun sembarangan. Sekarung botol minuman keras yang telah kosong dan segulung kawat.

Kevin meraih kawat itu dan membuka gulungannya.

Tangannya pelan-pelan membuka paku yang menancap di kayu-kayu rapuh yang menghalangi jendela besar didepannya dengan melilitkan kawat dan menariknya.

"Hah hah, paku terakhir!" Kevin menarik palang tersebut dan membukanya.

Bahunya menurun diikuti helaan kekecewaan yang membumbung tinggi dari mulutnya.

"Kenapa, kak?" Tanya Adiknya berusaha berdiri.















"Kita dilantai dua."

[viii] Runaway - Kevin Moon ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang