Bagian 4 : Target pertama, Yoon Jeonghan

9.4K 750 26
                                        

[sudah direvisi]

Seungkwan menghabiskan malam tanpa tidur nyenyak, pikirannya dipenuhi kebingungan tentang bagaimana harus menghadapi perintah Pak Ketua yang penuh tuntutan itu. Hingga pagi ini, saat ia mengenakan dasi di lehernya untuk bersiap pergi ke sekolah, rasa bingung itu masih belum hilang dari benaknya.

Bukan cuma karena Jeonghan susah diajak kompromi, tapi Seungkwan tahu betapa besar risikonya. Kalau nanti ketemu Pak Ketua tanpa kabar bagus, bisa berabe. Apalagi Jeonghan memang nggak suka ikut acara OSIS, dan tiap pagi selalu diantar sopir ke sekolah. Jadi gimana ya, caranya Seungkwan ngobrol sama Jeonghan sebelum dia sampai sekolah?

Saat Seungkwan terlarut dalam pikirannya, suara dering ponsel menggetarkan ruang sekitarnya. Pesan dari Hansol, sang yayang, muncul di layar. Ia meraih ponsel dari saku, menggeleng halus, lalu tersenyum hambar, menatap kata-kata yang terpampang.

“Boo… boo… lo pikir ini zaman batu?” desisnya sambil mengusap wajah sendiri dengan satu tangan, gerutu itu jelas ditujukan untuk dirinya sendiri. Jari-jarinya tetap sibuk di layar ponsel, fokus untuk mengetik. “Kenapa baru sekarang sih kepikiran buat nge-chat? Dari semalam juga bisa…”

Begitu selesai membalas pesan dari Hansol, pacarnya yang barusan chat, Seungkwan langsung berpindah membuka ruang obrolan dengan kontak bernama “akak han”. Jarinya buru-buru mengetikkan rentetan huruf, tapi saking terburu-burunya, dua kali dia salah pencet huruf dan harus bolak-balik menghapus sambil bergumam kecil, “duh, typo lagi…”

Mulutnya ikut komat-kamit membacakan setiap kata yang dia ketik—kebiasaan lama yang refleks muncul tiap kali dia terlalu fokus. Di tengah itu, dia nyaris menjatuhkan ponselnya karena satu tangan lainnya sibuk menggulung dasi yang belum sempat dia pakai rapi. Gerak-geriknya terlihat clumsy—kayak anak ayam kehilangan induk. Tapi dia tetap maksa multitasking sambil terus ngomel pelan ke dirinya sendiri, “Ya ampun Boo Seungkwan, bisa gak sih lo tenang lima detik aja…”

Akhirnya, dengan sedikit napas lega, dia menekan tombol ‘kirim’ dan pesan itu pun meluncur ke layar si “akak han”.

Akak Han

KAAAAAKKKKK

KAK????

KAKKKKK BALES INI PENTINGGGGG!!!!

HIDUP DAN MATI GUE INI KAAAKK!!!

PLEAAASEEE BANGET INI MAAAHHH

-sent

Mulut dan ketikannya Seungkwan itu nggak beda jauh sama rembesan cucian yang nggak berhenti. Deras banget, terus berisik pula—sampe-sampe knalpot bajaj aja kalah kencengnya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya atau berderet di layar ponselnya, bagaikan air bah yang terus mengalir tanpa jeda. Kadang dia sendiri nggak sadar sudah bikin orang di sekitarnya ikutan pusing mendengarkan ocehannya yang nggak ada habisnya. Dia sampai garuk-garuk kepala, geleng-geleng sambil senyum kecut, kayak orang yang sudah tahu dia ribet tapi nggak bisa berhenti.

Soal pesannya ke kak Han tadi, dia yakin banget pesan chat-nya pasti bakal dibalas. Tapi masalahnya, sudah sepuluh menit berlalu, masih belum ada tanda-tanda balasan dari yang dituju. Notifikasi sama sekali belum nongol. Seungkwan pun mulai frustasi, teriak kecil sambil tangan mengusap kepala,

"ADUH!!! KAK HANIE KEMANA SIH, ELAAAHH?!”

Tiba-tiba, dalam sekejap setelahnya, kesadaran datang menghantamnya seperti petir di siang bolong. Waktu bel sekolah hampir berbunyi. Jantungnya langsung berdegup kencang, napasnya jadi tersengal-sengal. Dia terdiam sejenak, matanya melebar penuh kepanikan. Dalam hitungan detik, segala persiapan yang belum dia kerjakan melintas di benaknya. Dia belum rapi, belum sarapan, dan... DIA BELUM BERANGKAT!!

Happy Ending - a seventeen's story (with group chat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang