Bertemu (lagi)

46 5 0
                                    

Ragu itu harusnya dibuang. Karena rasa itulah yang akan menghancurkan sebuah hubungan.

_____

Alwa tidak bisa tidur malam ini. Ia masih memikirkan kejadian tadi sore. Tentang pria yang berbicara dengan nada tinggi atau bahkan membentaknya. Alwa masih memikirkan kata-kata pria itu. Dan lagi, Alwa dibuat takut dan gemetar hanya dengan memikirkannya saja.

"Ya Allah, hilangkan rasa takut yang menghantui hamba ini. Aamiin." Doanya saat memejamkan mata hendak beranjak tidur. Hingga setengah jam Ia paksakan untuk tidur, akhirnya Ia bisa tertidur pulas.

Sementara dilain tempat, seorang pria sedang bersama seorang wanita cantik. Yap, mereka berdua adalah dua pasangan yang sempat mengalami tragedi di Cafe tadi sore.

"Bri, kapan kamu nikahin aku? Kita udah jalan hampir 2 tahun loh. Dan kita cuma ngstuck disini terus, gak ada perkembangan. Sebenernya kamu sayang gak sih, sama aku?" Tanya wanita itu pada pria disampingnya.

"Kita jalani aja dulu." Jawab pria itu sedingin kulkas.

"Aku capek. Selama ini, hubungan kita juga nggak jelas. Kamu gak pernah ada waktu buat aku. Kamu selalu sibuk tugas keluar kota terus." Jawab wanita itu manja.

"Kamu tahu, bagaimana pekerjaanku. Lalu kenapa kamu masih bertahan?" Tanya Abri pada akhirnya.

"Aku bertahan karena aku pikir, kamu adalah lelaki yang bertanggungjawab. Lelaki yang bijaksana seperti Papa." Jawab wanita itu pelan diakhir kalimat.

"Jangan samakan aku dengan orang lain, Devira. Walaupun itu Almarhum Papamu sendiri. Setiap orang memiliki sifat yang berbeda-beda." Jawab Abri.

"Aku sayang kamu." Ucap Devira langsung memeluk Abri. Sementara Abri bergeming ditempat.

"Aku ada tugas keluar negeri besok selama seminggu." Jawab Abri kemudian.

"Artinya, kamu bakalan ninggalin aku?" Tanya Devira.

"Itu waktu buat kita. Untuk sama-sama merenungkan bagaimana kita berjalan selanjutnya." Jawab Abri.

"Bri, kamu gak berniat buat ninggalin aku, kan?" Tanya Devira was-was.

"Gak pernah terpikirkan. Tapi ada beberapa hal yang buat aku ragu sama kamu. Kali ini aku kasih kamu kesempatan. Buktikan kalau kamu memang benar-benar menungguku sampai aku mencapai karirku." Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Abri ucapkan pada wanita disampingnya.

"Oke, aku tahu gimana kedepannya dan apa yang harus aku lakukan. Tapi aku minta sama kamu, selama kesempatan ini jangan pernah larang hal apapun yang aku lakukan bahkan untuk urusan pribadiku. Karena biar bagaimanapun, aku berhak memperjuangkan kamu." Jawab Devira akhirnya.

'Dan juga mempertahankan ATM berjalanku. Aku gak bakalan lepasin kamu, Abri. Lihat apa yang akan aku lakukan.' Diam-diam, Devira merencanakan sesuatu.

***

"Alwa!" Panggil Umi dari lantai bawah.

Alwa yang baru saja selesai mandi langsung bergegas bersiap untuk segera menghampiri Uminya.

"Ada apa, Mi?" Tanya Alwa yang baru saja turun.

"Berangkat ke Bandara sana." Ucap Umi.

"Loh, kenapa ke Bandara, Mi?" Tanya Alwa lagi bingung.

"Kamu gak inget? Masmu pulang hari ini dari Cordova." Jawab Umi.

"Apa? Kok, Alwa gak dikasih tahu sih, Mi?" Tanya Alwa tidak terima.

"Kamu kemarin pulang-pulang, langsung tutup kamar. Gimana Umi mau kasih tahu." Jawab Umi.

"Abuya udah berangkat ngajar, Mi?" Tanya Alwa mengalihkan perhatian.

Jodoh Dari Masjid (Slow UpDate)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang