Kecelakaan

20 6 2
                                    

Jangan tanya bagaimana perasaanku saat melihatmu. Aku bahkan tiba-tiba terserang penyakit sariawan menahun hingga tak bisa berucap sepatah kata.

_____

"Mas, anterin aku ke kampus dong." Bujuk Alwa pada Wahid yang asyik ngeteh pagi-pagi begini.

"Tumben?" Alis Wahid terangkat.

"Pengen aja, selama ini kan, Mas belum pernah tahu kampus Alwa." Bujuk Alwa lagi.

"Huffft!" Wahid menghembuskan nafas gusar.

"Ya udah, 15 menit lagi kita berangkat." Putus Wahid akhirnya.

"Na'am, Akhi!" Lelucon Alwa yang langsung masuk ke kamarnya mengambil tas yang berisi buku-buku matkul hari ini.

Sampai kampus, Wahid juga ikut turun. Lihat-lihat kampus adiknya dan adiknya sendirilah tour guide-nya.

"Kalau ini, Fakultas Ilmu Hadist. Nah, Alwa ambil jurusan ini dan Ilmu Tafsir." Ucap Alwa mengenalkan gedung fakultasnya.

"Besar juga. Kamu betah disini?" Tanya Wahid.

"Alhamdulillah, Alwa betah banget, Mas. Mm, gimana kalau kita ngobrol sambil minum sesuatu gitu Mas? Ke Kantin Fakultas, ya?" Ajak Alwa.

"Boleh." Jawab Wahid yang mengikuti langkah Alwa ke Kantin Fakultas.

Sampai kantin, banyak yang mencuri pandang kearahnya dan juga Wahid. Mungkin merasa asing dengan seseorang yang bersamanya.

"Mas mau minum apa?" Tanya Alwa.

"Squash Lemon aja." Ucap Wahid kemudian.

Alwa beranjak untuk memesan, lalu kembali setelahnya. Duduk dihadapan Wahid yang sibuk dengan ponselnya.

Eh, Alwa kira-kira sama siapa, ya?

Iya, siapa ya? Kok ganteng banget.

Beruntung banget Alwa Deket sama tuh cowok.

Jangan-jangan tuh cowok pacarnya Alwa, lagi.

Gak mungkinlah, Alwa kan hijrah gitu. Masa pacaran sih?

Ya mungkin ajalah, sekarang kan banyak ngakunya ta'aruf eh jatuhnya sama kaya pacaran. Pegangan tangan, jalan berdua, bahkan ciuman.

Hus, jangan gitu. Ntar malah jadi fitnah.

Eh, iya Astaghfirullah.

Wahid yang mendengar itu hanya terkikik geli. Sementara Alwa seolah acuh.

"Ada yang mau Mas bilang sama kamu." Ucap Wahid menyita perhatian Alwa.

"Apa?" Tanyanya.

"Mas udah ngelamar jadi dosen disini, dan Mas bakalan ambil kelas Hadist. Kamu siap-siap aja." Jelasnya.

"Yang bener, Mas?" Tanya Alwa tak percaya.

"Iya, dua hari yang lalu Mas kesini. Dan langsung diterima." Jelas Wahid.

"Kapan Mas mulai masuk?" Tanya Alwa.

"Besok." Jawabnya.

"Oh gitu, pas banget dong. Dosen Alwa, Pak Abdullah kemarin pindah keluar kota, pantesan Mas langsung diterima." Ucap Alwa.

"Iya, pokoknya ntar Mas bakalan hukum kamu kalau kamu telat ataupun lain hal." Candanya pada Alwa.

"Ye, gitu. Sama adik sendiri juga." Cibir Alwa.

"Sebagai dosen, Mas harus profesional. Masalah pribadi, adalah masalah pribadi. Tidak boleh dicampuradukkan dengan masalah kampus. Fahimna?" Jelas Wahid.

Jodoh Dari Masjid (Slow UpDate)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang