[ S A T U ]

29 7 2
                                        

Warn! Ini nyentuh 1,5k words lebih hehee ;)) Enjoy!

Vanya Arletta dan Gavin Jovandra adalah sahabat masa SD. Mereka berpisah saat SMP, dan kembali dipertemukan di jenjang SMA. Saat ini mereka berada di kelas dua SMA.

Bagi Vanya, Gavin itu sudah seperti partnernya dalam segala hal. Bagi Gavin, Vanya adalah sahabat sehidup tapi tidak mau semati katanya.

Pokoknya mereka berdua nempel terus. Paling kadang-kadang saja mereka sibuk dengan teman-temannya yang lain. Sisanya, mereka pasti selalu berdua.

Bukan, mereka tidak pacaran. Mereka saja tidak pernah punya rasa satu sama lain. Lagipula, apa salahnya kalau cowok dan cewek hanya bersahabat dekat tanpa ada rasa satu sama lain seperti yang biasanya terjadi? Kalau dilihat-lihat juga toh mereka lebih seperti saudara. Jadi tidak ada yang salah bukan?

.    .    .    .
.    .    .
.    .
.

Pagi ini di kelas Vanya suasananya masih tenang. Iya, Vanya tuh memang kalem kalau Gavin belum muncul. Tapi kalau mereka sudah bersatu, ya tahu sendirilah akan gimana. Vanya pun memutuskan untuk coba ikut-ikutan ngerumpi sama teman-teman ceweknya soalnya dia bosan nungguin Gavin yang tidak biasanya datang agak siang . Walaupun jarang banget Vanya bergaul dengan teman-temannya itu. Paling hanya saat kerja kelompok atau dalam kegiatan belajar saja.

"Hai ges, gue ikutan nimbrung boleh ya?"

"Ayo, ayo ini lagi ada gosip hangat" kata Icha sang bandar gosip yang sebenarnya tidak terlalu Vanya suka.

"Apaan tuh?" celetuk Adelva yang baru saja datang.

"Jadi tuh gini.."
Dan mereka pun larut dalam pembicaraan itu.

Setelah beberapa menit, akhirnya orang yang tadinya ditunggu Vanya datang juga. Gavin langsung meletakkan tasnya di sebelah tempat duduk Vanya dan mulai membuka-buka tas Vanya. Dia pun mengambil sebuah buku tanpa seizin Vanya dan mulai menyalin isinya.

Vanya yang sedang asik mendengarkan ternyata melihat hal tersebut.

"WOY PIN! NGAPAIN LU?!" teriak Vanya.

"Kondisi darurat pan" jawab Gavin singkat.

Vanya hanya tersenyum miring dan merotasikan kedua matanya lalu kembali mendengarkan gosip sambil sesekali menimpali pembicaraan itu dan berlagak pura-pura mengetahui kejadian yang digosipin teman-temannya itu.

Kini, meja Vanya dan Gavin sudah penuh dengan anak-anak laki-laki yang ikut menyalin PR Vanya. Biasanya, Gavin menyalin PR Vanya juga karena memang keadaan darurat yang tidak setiap hari terjadi. Tapi teman-temannya yang lain hampir selalu menyalin PR nya. Jadi awalnya, Vanya tidak memperbolehkan teman-temannya yang lain (selain Gavin) menyalin PR nya. Ya awalnya sih begitu. Tapi karena teman-temannya jadi terlihat kesal karena Vanya tidak memperbolehkan mereka untuk menyalin PR nya, Vanya pun baru-baru ini membolehkan mereka untuk menyalin PR nya. Vanya memang merupakan anak yang cukup pintar di kelas itu, jadi teman-temannya percaya kalau jawaban Vanya kebanyakan yang benar. Tapi memang teman-temannya ini kadang tidak tahu diri. Masa pernah sekali waktu jawaban Vanya hanya salah satu dan semua temannya itu malah menyalahkan Vanya (kecuali Gavin tentunya).

"Udah nyalin punya orang, nyalahin orang lagi. Dasar gak tahu diri" pikir Vanya waktu itu.

Kring! Kring!
Bel pun berbunyi menandakan saatnya masuk sekolah.

"HAH? DAH MASUK?!"

"Ah elah! Gue belom selesai lagi, mana dikumpulinnya pelajaran pertama"

"Bentar ya, dikit lagi ni nyalinnya"

True Colors ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang