Kesepuluh pria manis itu berjalan sepelan yang mereka bisa. Melangkah dengan hati-hati. Perasaan mereka semua waswas. Beberapa ratus meter didepan mereka terdapat sebuah villa yang luas milik paman Chenle.
Villa tersebut kelihatan besar dan mewah. Sudah pasti, Chenle kan keturunan orang kaya. Chenle memegang tangan Winwin, gege manisnya itu juga tak kalah gugup. Niat untuk berlibur ke Busan hancur sudah akibat terjebak di wabah virus zombie ini. Rasanya Chenle sangat ingin berteriak dan berharap ini hanya mimpi belaka.
Sedangkan Taeyong, yang tertua sekaligus yang memimpin memikirkan nasib Dejun. Dimanakah pemuda manis tersebut sekarang? Apakah Dejun sudah berubah menjadi zombie? Atau Dejun selamat? Taeyong harap Dejun selamat. Pemuda mungil itu cerdas, ia yakin Dejun pasti punya rencana untuk melarikan dan melindungi diri dari para zombie seram itu.
Renjun . . . Ah pemuda itu, merasakan perasaan yang campur aduk. Khawatir, takut, dan marah tercampur menjadi satu. Khawatir akan Dejun dan keluarganya. Khawatir akan dirinya dan teman-temannya yang lain. Takut jika salah satu atau mungkin beberapa dari mereka berubah menjadi zombie dan tidak bisa selamat. Marah karena ia harus menahan diri untuk tidak menonjok zombie itu satu per satu. Ia sangat ingin rasanya memecahkan kepala para zombie itu dengan tangannya sendiri. Namun sayangnya ia tidak bisa.
Sementara itu Haechan bernyanyi pelan padahal di dalam hatinya sudah berteriak kata "eomma" berulang kali. Haechan dan Ten saling berpegangan tangan, berusaha menghilangkan raaa gugup yang melanda. Takut jika ada segerombolan makhluk berlendir nan menjijikan itu.
greppp...
Seseorang menarik tangan Jaemin, pria manis itu nyaris berteriak jika saja Jungwoo tidak membekap mulutnya dan Doyoung membunuh pelaku yang menarik tangan Jaemin, alias zombie, dengan pisau lipatnya.
"Huft... Nyaris saja. Aku tidak menyangka akan ada zombie dibalik tempat sampah itu. Kita harus lebih hati-hati!" kata Doyoung memperingatkan.
Akhirnya mereka sampai di depan villa milik Chenle. Perjalanan yang mereka lalui seolah sangat jauh, padahal sebenarnya tidak begitu jauh dan tidak begitu melelahkan. Taeyong dan Ten menggeser gerbang besar berlapis emas itu pelan, sepelan mungkin hingga tidak mengeluarkan suara. Mereka semua masuk ke dalam villa megah tersebut. Taeyong dan Ten tidak lupa menggembok gerbang sangat kuat dan erat.
"Hyung, pintunya terkunci!" kata Chenle saat mencoba membuka pintu utama dari villa tersebut.
"Adakah jalan lain, le?" tanya Jungwoo cemas.
"Ada, lewat belakang. Pintu khusus pelayan." kata Chenle sambil memimpin rombongan itu.
Ternyata setelah sampai, pintu itu tidak terkunci. Ah, mereka menjadi sedikit lega. Setidaknya ada tempat untuk mereka untuk beristirahat sejenak.
Setelah semua pria manis tersebut masuk ke dalam villa, Doyoung, sebagai orang terakhir yang masuk, menutup dan mengunci pintu itu. Ia harap zombie tidak bisa mencium bau mereka.
Hati mereka dugun dugun, selalu waspada terhadap sekitarnya. Saat ini merupakan mimpi terburuk bagi mereka, terlebih xiaojun hilang. kepala mereka pusing memikirkannya.
Mereka meletakan beberapa barang bawaan mereka, lalu merebahkan diri mereka ke sofa empuk itu.
"lalu Chenle, kemana semua penghuni villa ini?" tanya Taeyong khawatir.
Suasana tegang masih menyelimuti ruangan itu. Mereka semua khawatir dengan keluarga mereka yang entah ada dimana dan juga Xiaojun, teman mereka yang terpisah. Bagaimanapun, mereka harus bertahan disaat saat seperti ini, dan poin pentingnya, mereka tidak boleh berpisah. Itu akan sangat membahayakan. Satu orang submissive seperti mereka mana bisa melawan zombie yang sebegitu banyaknya. Mereka mungkin sangat cerdas, namun mereka tidak begitu kuat.
"Tadi pagi, sebelum aku pergi, kakek dan nenek ku berkunjung ke villa ini untuk mengunjungi bibi dan pamanku yang menghuni villa ini. Sepertinya mereka selamat. Lantai 4, alias lantai tertinggi di villa ini adalah ruangan helikopter milik kakek ku. Atapnya bisa terbuka jika ingin mengendarai helikopter. Kurasa kakek dan penghuni villa ini mengendarai helikopter untuk menyelematkan diri" kata Chenle sambil menetralkan detak jantungnya.
Semoga saja perkiraan nya benar. Jika helikopternya hilang, maka dugaan Chenle benar. Kalau helikopternya masih ada, berarti...
"Chenle, ada berapa helikopter di lantai 4?" tanya Doyoung. Ia harus berfikir keras agar bisa menyelamatkan dirinya dan teman temannya. Ia sangat tidak sudi untuk berubah menjadi makhluk berlendir menjijikan itu.
"Ada 2 ! Mungkin kita bisa menggunakannya 1 !" kata Chenle antusias. Sepertinya mereka akan bisa menyelamatkan diri.
"OKE ! aku, Chenle, Ten, dan Doyoung akan mengecek lantai 4. Jaemin, Renjun, dan Jungwoo, kalian memasaklah. Aku yakin kita semua lapar karena belum sempat menghabiskan makanan kita di cafe tadi. Sisanya, bereskan barang kalian. Kita akan menetap setidaknya 2 hari disini, untuk beristirahat sejenak dan memikirkan rencana selanjutnya." jelas Taeyong.
10 pemuda manis tersebut menjalankan tugasnya masing masing. Jaemin, Renjun, dan Jungwoo berkutat di dapur untuk memasak makanan. Sedangkan Taeyong, Ten, Chenle, dan Doyoung naik ke lantai paling atas dari villa ini.
Chenle menekan tombol tombol yang berisikan angka untuk password pintu menuju ruangan helikopter. Pintu itu terbuka saat Chenle sudah memencet angka yang benar. Mereka berempat memasuki ruangan gelap itu, tak lupa menutup kembali pintu ruangan itu. Chenle menyalakan saklar lampu dan terpampang lah ruangan yang sangat luas dan tinggi. Ruangan raksasa itu berisi bermacam macam mesin di pinggirnya. Namun, tak ada helikopter disana. Ada 2 parkiran helikopter, namun 2 2 nya kosong.
"Yahh, sepertinya mereka menggunakan semua helikopternya." kata Chenle sedih.
"Tidak apa apa Chenle, kita bisa memikirkan rencana lain." kata Taeyong menenangkan.
Doyoung dengan rasa keingintahuan yang tinggi, berjalan mengelilingi ruangan besar tersebut. Lalu, ia menemukan alat mesin yang menurutnya menarik.
"Chenle, ini alat apa?" tanya Doyoung ke Chenle sambil menunjuk alat tersebut.
"Ah, itu mesin pelacak helikopternya. Jadi, jika helikopter tercuri, maka bisa melacak dimana keberadaan helikopter tersebut." jelas Chenle.
"ah, bagaimana jika kita lacak saja helikopternya? agar kita tau bahwa keluarga mu dan helikopternya berada dimana. Siapa tau kita bisa meminta bantuan mereka!" kata Ten. Tiba-tiba otaknya bisa memikirkan ide brilian. Ternyata otaknya masih berguna.
"Ide yang bagus, Hyung. ayo kita lacak!"
║▌│█║▌│ █║▌│█│║▌║
haii, siapa yang kangen aku? maaf udah lamaaa banget ga update. Aku bakalan up lagi book ini mulai hari ini Yap. Book ku yang lain bakalan aku lanjutin kalau yang ini udah selesai. jadi satu satu dulu yaa. makasih banyak yang udah nungguin buku ini. anw, chapter depan chapternya Dejun lho. Chapter selanjutnya bakalan aku up malam ini atau besok pagi. Stay tuned ya.
-', (Vote n Comment nya ditunggu yaw^^) ꒱ ↷🖇🌷
❱ http:˚♡melliflousisabella ˚ˑؘ🍥 ·˚
KAMU SEDANG MEMBACA
The Secret Agent: Zombie Attack! [NCT]
FanfictionDua kelompok agen rahasia sedang menjalankan misi yang berbeda. Namun, saat mereka sedang menjalani misi masing-masing, mereka malah dihadapkan oleh masalah yang lebih besar, wabah zombie! BxB/Yaoi/Homo Action, Zombie NCT ft Guanlin -', (Vote n Com...
![The Secret Agent: Zombie Attack! [NCT]](https://img.wattpad.com/cover/225623874-64-k676471.jpg)