"Ini ada apa, Nek? Kok busnya goyang-goyang, ada gempa?" tanyaku dengan nada panik ditambah mata yang masih tertutup. Bus yang Aku tumpangi masih melaju, sesekali bergoyang ketika hentakkan kaki terdengar. Tidak tahu siapa yang melangkah, tapi rasanya bukan langkah manusia.
"Kamu diam! Makhluk itu sudah hampir di kursi kita."
"Makhluk?" tangan Nenek langsung menyumpal mulutku, rasa gurih tahu masih terasa ketika tidak sengaja jari Nenek mengenai lidahku.
Suara dengkusan terdengar jelas, bau busuk langsung tercium yang membuat rasa mual sudah di ujung tanduk. Tahu dan buras yang tadi masuk sepertinya akan kembali keluar. Langkah kaki yang disebut Nenek sebagai makhluk mulai menjauhi kursi yang dimana Aku mulai tidak kuat menahan rasa mual yang terus-menerus naik. Tapi, bau busuknya masih tercium, dan sesuatu yang aku takutkan terjadi. Dengan cepat tanganku membuka plastik yang masih berisikan beberapa tahu dan buras, mulutku tidak bisa menahan rasa mual, muntah.
"Sebentar lagi dia akan pergi," katanya dengan nada berbisik.
Sepertinya semua yang ada di dalam perutku keluar memenuhi plastik. Baru kali ini Aku merasakan yang seperti ini sepanjang perjalanan yang sering kali Aku lakukan. Jangankan muntah, pusing saja biasanya tidak terasa. Perjalanan kali ini benar-benar menguras tenaga dan keberanian.
"Sekarang kamu bisa membuka mata," perlahan Aku membuka mata dan semuanya tampak seperti tidak terjadi apa-apa, beberapa penumpang tertidur pulas dan ada juga yang sedang memakan cemilan sambil mengobrol. Asap hitam sudah tidak lagi terlihat, begitupun dengan apa yang dikatakan oleh Nenek sebagai makhluk.
"Kemana perginya makhluk yang Nenek sebut dan apa yang sebenarnya terjadi?"
"Seperti yang Aku katakan tadi, bus ini adalah bus hantu." Jawabnya dengan nada pelan ketika mengatakan "bus hantu." Iya Aku tahu soal itu, yang ingin Aku tahu adalah siapa makhluk yang lewat barusan dengan nafasnya sangat bau sampai Aku muntah. Ingin rasanya mengatakannya, akan tetapi Aku memutuskan bertanya saja.
"Terus siapa makhluk yang Nenek katakan tadi?" pertanyaan yang sudah Aku persiapan dari tadi.
"Makhluk itu adalah penunggu jalan tol ini, seperti petugas tol yang memeriksa setiap yang lewat." Aku mengerutkan dahi, melirik ke luar jendela. Bus sudah masuk jalan tol ternyata.
"Apakah kita berada di alam lain, Nek?"
"Alam manusia dengan alam jin hanya bersebelahan, sekarang kita memang sedang berada di alam jin akan tetapi satu detik kemudian kita bisa di alam manusia," katanya yang membuatku tambah pusing ditambah rasa mual masih terasa. Kalian juga pasti pusing ketika membacanya, karena cerita ini memang dirancang untuk membuat kalian pusing (baca: pengarang yang berbicara)
"Maksudnya, Nek?" Aku masih belum paham.
"Kita memasuki alam jin."
"Berarti semua penumpang bus ini bukan manusia, termasuk Nenek?"
"Kamu bukan manusia?" Nenek bertanya balik.
"Saya manusia, Nek. Belum meninggal."
"Hanya beberapa saja penumpang yang bukan manusia. Tapi, mereka tidak merasa sedang berada di bus hantu dan masuk dunia lain, karena mereka tidak memiliki apa yang kamu miliki."
"Saya memiliki indera keenam, Nek?" kalau apa yang dikatakan Nenek benar, berarti Aku adalah anak indigo yang bisa melihat makhluk halus. Tapi, rasanya Aku tidak akan kuat ketika harus melihat makhluk-makhluk aneh dan menyeramkan ada di sekelilingku. Beberapa teman yang bisa melihatnya juga mengatakan hal yang sama, mereka tidak kuat dan memutuskan untuk menutupnya dengan cara ruqyah atau metode lainnya yang Aku tidak tahu. Bayangkan saja ketika kalian bisa melihat makhluk halus, bangun tidur langsung ngeliat ada pocong di pojok kamar, pas di kamar mandi ada setan ditambah kalau kamar mandinya tidak bersih, jalan-jalan tidak tenang karena pasti banyak yang kalian lihat dengan berbagai bentuk, waktu malam mereka semua keluar, bisa-bisa jadi gila karena melihatnya. Tidak bisa dibayangkan.
"Tidak juga," terus penampakan yang Aku lihat bagaimana? Kondektur tanpa berkepala, wajah hancur, dan foto makhluk yang ada di kursi kosong?
"Terus semua yang Aku lihat bagaimana, Nek?" kataku dengan wajah semakin penasaran.
"Sudah, nanti akan Aku jelaskan lagi. Kalau dijelaskan semuanya sekarang, part selanjutnya mau jelasin apa." Aku menepuk dahi, Nenek kembali menutup matanya. Mungkin beliau akan melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu oleh makhluk tadi.
Pepohonan di pinggir jalan tol terasa berbeda, warnanya bukan hijau, melainkan hitam. Semuanya berwarna hitam, batang, daun, ranting, dan rerumputan. Hanya langit yang tampak berwarna, biru dan awan putih yang menutupi sebagian matahari. Apakah ini masih di dunia jin? Tapi, mobil-mobil melaju saling salip untuk cepat sampai di tempat tujuan. Bus kembali menyalakan klakson, satu mobil sedan tiba-tiba menyalip dari arah kanan tanpa memberikan lampu tanda akan menyalip. Sang sopir langsung mengeluarkan kata-kata pedasnya meskipun mobil itu sudah melesat jauh dan pasti tidak akan terdengar waktu dekat juga karena terhalang kaca.
Aku kembali teringat perkataan salah satu guru ketika SMA, beliau berkata kalau di dunia jin sama seperti di dunia manusia. Ada rumah, sekolah, pasar, dan mungkin mobil juga ada. Tapi, jin tidak seperti manusia yang sempurna, jin memiliki perbedaan. Aku tidak tahu apakah perbedaannya, karena beliau tidak menjelaskannya secara rinci, mungkin yang membedakannya adalah wajahnya yang hancur, badannya bolong, bertanduk, berbadan besar setinggi pohon seperti di film-film dan yang Aku lihat atau perbedaannya akal. Kalau yang membedakannya adalah akal, kenapa manusia lebih percaya dan takut ke jin, setan, daripada ke Tuhan? Meskipun kita juga harus mempercayai keberadaannya, akan tetapi bukannya akal bisa membedakan mana yang salah dan benar. Ah, masalah itu bukan urusanku.
Ponselku kembali berdering, dari ibu. Apakah di dunia jin juga ada sinyal? Aku melirik ke jalan tol, pepohonan yang ada di pinggir jalan sudah tidak lagi berwarna hitam, sekarang warnanya hijau. Apakah Aku sudah di dunia manusia lagi?
[Kamu sudah di mana, Nak?]
[Baru masuk tol, Bu. Mungkin sore atau malam sampai rumah.] Beberapa detik kemudian pesan kembali dibalasnya.
[Astaghfirullah, masih jauh. Tapi kamu tidak kenapa-kenapa, kan?]
[Tidak, Bu. Tapi, busnya berhantu.]
[Apa!!! Bus hantu? Kamu turun saja, Nak. Bahaya. Pantesan saja perasaan Ibu tidak enak dari tadi. Berkali-kali Ibu melihat ke arah pintu, was-was.]
[Tidak, Bu. Aku akan tetap di bus, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di bus ini. Do'akan saja supaya Aku baik-baik saja.]
[Ya sudah, Ibu selalu mendoakan kamu supaya selamat sampai rumah. Kamu juga jangan lupa berdoa sama Allah, supaya hantu-hantu di bus tidak mengganggu.]
[Baik, Bu.] Aku memberitahu Ibu untuk tetap tenang di rumah dan jangan menyebarkan apa yang aku katakan ke orang lain, pesan Aku akhiri karena baterai ponselku tinggal setengahnya dan perjalanan masih jauh, Aku harus berhemat meski ada power bank di tas.
Aku mengikat plastik yang berisikan muntahan lantas membuangnya ke tempat sampah yang ada di samping kursi, saat Aku membukanya, ada sesuatu yang membuatku kembali mengerutkan dahi, di dalamnya ada pecahan gelas seperti yang Aku buang kemaren sore. Gelas berwarna putih bergambar Doraemon dengan dua inisial huruf di bawahnya. A dan D. Yang tidak lain adalah Ajay dan Diara. Gelas itu pemberian Diara saat Aku ulang tahun dua bulan lalu dan gambar Doraemon itu dilukis olehnya. Tapi, tidak sengaja Aku menyenggolnya dan pecah menghantam ubin, Diara tidak marah. Hanya Aku harus menggantikannya dengan menemaninya mengerjakan tugas tadi malam.
Aku mengambil pecahan gelas itu lantas memasukannya ke plastik yang Aku ambil di tong sampah. Pecahan itu mirip dengan apa yang Aku buang, bagian-bagiannya, pola pecahnya, dan bekas kopinya masih tersisa di bagian bawah gelas. Kopi hitam cap kupu-kupu. Eh salah, kopi hitam cap pesawat. Segera Aku mengambil ponsel, memotret pecahan gelas lantas mengirimkannya ke Jali.
[Jal, coba lihat apa masih ada gelas pecah di tong sampah depan kosan. Gelas seperti gambar ini,] pesan terkirim, ceklis satu. Mungkin Jali sedang tidur dan datanya tidak dinyalakan. Kebiasaan.
Lima menit, sepuluh menit, Jali belum membalas pesanku. Berkali-kali aku sudah mengirimkan pesan menyuruhnya supaya membaca pesan dariku karena darurat. Tapi tetap saja dia tidak membacanya. Perempuan paruh baya melihat ke arahku ketika aku tidak sengaja melihatnya, tersenyum. Aku membalas senyumannya sambil mengangguk lalu kembali fokus ke ponsel, berharap Jali segera membalas pesanku. Otakku membayangkan ketika mereka memakan tahu yang berubah menjadi belatung, membuatku mual. Beberapa pesan belum sempat aku baca dari grup kelas atau grup lainya. Membacanya sekilas lantas menutup telpon, memasukannya ke dalam kantong celana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bus Hantu
TerrorMenceritakan sebuah perjalanan bus yang ternyata sebagian penumpangnya bukanlah manusia, Ajay dan Nenek berusaha sekuat tenaga untuk bisa keluar dari sana. Kejadian demi kejadian menyeramkan mereka lihat. Ternyata ada sebuah cerita dan rahasia dalam...
