Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Stupid Girl"
• • •
Laki-laki itu menyesap margarita pesanan nya, ia menatap gadis di depannya ini. Ia kira gadis satu ini salah satu jalang yang bekerja di bar miliknya itu.
"Apa kau masih berpikir aku salah satu dari mereka?" Gadis itu menunjuk kearah sekumpulan lelaki yang sedang bercinta dengan beberapa wanita.
Lelaki itu menggeleng, ia tahu betul gadis di depannya ini adalah adik seorang mafia besar, Aerglo Elfredo Lee. Tak ada seorang pun yang tak tahu Lee bersaudara ini, apalagi dirinya.
"Tidak, aku masih terkejut melihat mu di sini Nona Lee, apalagi kau berniat untuk menemuiku." Jelas Ivander.
"Aku hanya ingin melihatmu saja, ku pikir kita berdua punya kepentingan." Aurora meneguk Tequila Rose miliknya sembari menatap Ivander.
"Kita baru saja pertama kali bertemu Nona Lee, bagaimana bisa aku memiliki kepentingan denganmu?"
"You want to beat my brother right? I'll help you." Pernyataan Aurora tentu membuat Ivander terkejut, bagaimana tidak? Gadis cantik itu terkenal dekat dan sangat menyayangi Kakaknya di kalangan mafia lainnya, tapi sekarang ia malah menawarkan dirinya dengan penawaran yang tak masuk akal jika diucapkan gadis itu.
"You don't want to?" Tanya Aurora sekali lagi.
"Tidak. Tidak, bukan begitu maksudku. Bukannya kau sangat menyayangi Kakakmu? Kenapa sekarang kau bertanya seperti itu padaku? You're not wrong right?"
"Ivander, jika kau ingin mengalahkan Kakakku katakan saja. Aku juga ingin mengalahkannya, makanya kuberi kau penawaran ini bagaimana? Kita bisa bekerja sama, begitu aku bisa mengalahkan Kakakku kita bisa menjadi partner yang tak terkalahkan."
"Ms. Lee, are you sure?"
"Yes! Why? Do you think I'm here for a jokes?"
"Setelah kita bisa mengalahkan Kakakku, kau bisa menjadi ketua dan aku bisa jadi pendamping mu, kurasa kau cukup menarik Ivander. Para pengikutku juga pasti akan mengikutiku kan? Jadi kurasa penawaran ini sangat menguntungkan dirimu?" Aurora meraih dagu Ivander.
"Can you come here tomorrow?" Ivander berbicara setelah cukup lama terdiam.
"With my pleasure, see you tomorrow!" Aurora langsung pergi begitu mendengar jawaban Ivander.
"Gadis bodoh." Ivander terkekeh melihat kepergian Aurora.
Ia berdiri dan menatap gadis itu beberapa saat, tak lama ia langsung berjalan ke arah belakang bar di mana tempat ia dan para rekannya berada, begitu masuk ia melihat 6 orang rekannya. Ia duduk di kursi kebanggaannya, "Bagaimana Nona Lee itu? Kau bicara apa dengannya?" Calesto bertanya begitu Ivander duduk.
"Sebuah penawaran yang tak akan kalian duga. Dia tak sepintar yang kita kira, she's a fool!" Ivander memberikan senyuman tipisnya.
"Nona Lee itu sangat terkenal sebagai gadis yang pintar, bagaimana kau bisa berkata dia bodoh? Semua orang tahu dia seperti apa." Felix menatap Ivander.
"Dia menawarkan akan bekerja sama dengan kita, dia ingin mengalahkan Kakaknya dan menjadi bagian dari kita. Jika kita menang dia akan memberikan pengikutnya pada kita."
"Kau bercanda kan? Nona Lee sangat menyayangi Kakaknya mana mungkin dia berbicara seperti itu."
"Besok, tunggu besok. Kalian tidak akan percaya."
• • •
"You're not trust me? It's fine, I can do it all by myself. I'll go now." Aurora sudah ingin beranjak berdiri.
"No! That's not what I meant! Hanya saja kami tak mengerti apa yang kau mau." Matteo menjawab.
"Sudah kubilang, aku hanya ingin mengalahkan Kakakku dan aku perlu sekutu yang kuat. Apa aku salah datang kesini? Kalian Bangtan Gang, the 3rd strongest gang in this country right?"
Tak ada jawaban dari 7 lelaki itu, mereka hanya tak yakin dengan keputusan Aurora yang terbilang tiba-tiba dan sedikit aneh. Dari rumor yang ada, ia di deskripsi kan sebagai gadis pintar, cantik, dan sangat menyayangi Kakaknya. Tapi dari yang mereka temui hari ini Aurora tampak seperti gadis yang terbilang cukup ceroboh dalam mengambil keputusan dan cukup bodoh untuk ukuran gadis dari keluarga mafia.
"Okay-okay, we'll be you allies." Ivander menjawab.
"Great! Kita diskusikan sekarang, semakin cepat semakin baik kan?" Aurora langsung tampak begitu senang.
• • •
"Ivander, kau tak mau kita mengubah rencana?" Romeo mendatangi Ivander yang sedang berpikir tentang rencana yang disusunnya.
"Kenapa?"
"Kau benar-benar yakin Nona Lee itu bodoh?" Samuel yang ada di sebelah Romeo bertanya.
"Kau mau kita berjaga-jaga?"
"Tentu saja, kau gila jika kita tak melakukan rencana lain." Romeo menatap Ivander tajam.
"Rencananya diubah?" Aurora memasuki ruangan Ivander.
Romeo terlihat kesal dengan keberadaan Aurora yang datang tiba-tiba, ia adalah gadis yang seenaknya sendiri menurut Romeo, "Tidak, tak ada apa pun yang akan diubah, jika diubah kita pasti akan mendiskusikannya denganmu Aurora." Ivander mengelak omongan Aurora, ia sangat pintar menutupi sesuatu dengan berbohong.
"Begitukah? Lalu kalian membicarakan apa?"
"Pengubahan menu makanan kami yang akan dimasak Samuel. Dan untuk apa kau datang kesini?" Ivander mengubah topik pembicaraan.
"Entahlah, hanya ingin melihat mu saja, ruangan mu juga sangat nyaman." Aurora beralasan sambil duduk di sofa.
"Aku akan kembali nanti Ivander." Romeo pergi dari sana dengan sedikit kesal.
"Dan daftarkan menu makanan yang akan ku masak minggu ini." Samuel juga pergi mengikuti Romeo.
Di ruangan itu sekarang tersisa Ivander dan Aurora, Aurora tau betul apa yang ingin 2 lelaki tadi katakan pada Ivander barusan. Aurora hanya tersenyum seakan hal barusan bukan masalah. Ia menatap Ivander dengan tatapan jahil.
"Apa yang kau inginkan Nona Lee?" Ivander mengangkat kepalanya, mengetahui bahwa Aurara sedari tadi memandangnya.
"Kurasa aku harus kembali, Sampai jumpa Ivander." Aurora menepuk bahu Ivander yang tengah kehilangan kata-kata.
Sekarang yang tersisa hanya Ivander yang merasa bingung dengan pemikirannya sendiri. Semakin ia memikirkan semakin ia merasa pusing dan bingung, sejujurnya Ivander sedikit menyesal telah menyetujui kemauan Nona Lee itu. Ia tak mengerti jalan pemikiran gadis itu, apa yang direncanakan gadis itu dan apa yang gadis itu inginkan.
Ivander merasa bimbang apa yang harus ia lakukan, semuanya terasa sulit baginya untuk merancang rencana lainnya yang sulit diketahui Aurora, apalagi Aurora kini menetap kurang lebih sudah 2 hari di sana. Entah di sana ia yang salah pemikiran pada Nona Lee atau Nona Lee yang memang terlalu sulit untuk diketahui jalan pemikirannya.
Pada akhirnya Ivander keluar dari ruangnya dan berjalan menemui Samuel, ia butuh beberapa minuman alkohol untuk menghilangkan penat yang menyerangnya sejak Aurora datang.