Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Remember my words Romeo, you will think I'm a stupid girl, but you, yourself will fall into my hands before you realize it!"
• • •
Gadis manis itu tersenyum kemenangan setelah berhasil mengalahkan lelaki di depannya ini. Ia menyesap cocktail yang dibuat oleh bartender bar. Berbeda dengan lelaki di depannya ini, lelaki itu terlihat kaget dan tak percaya pada kemenangan gadis itu.
"Ada apa? Apa kau tak percaya pada kekalahan mu Romeo?" Aurora tersenyum mengejek.
"Ba-bagaimana kau bisa mengalahkan Romeo? Tak ada seorangpun yang bisa mengalahkannya selama bertahun-tahun." Felix menatap Aurora tak percaya.
"Entahlah, keberuntungan mungkin? Aku ke dalam dulu. See you soon boys." Aurora melemparkan kecupannya.
Felix menatap Aurora bingung, begitu gadis itu masuk barulah ia menatap Romeo yang sudah mengacak rambutnya kesal. Aurora memang gadis yang bisa membuat 3 teman lainnya pusing, entah kapan ia akan mengalami hal yang sama.
"She's unbelievable, you know I'm the impossibility right?" Romeo menatap Felix memberi pendapat.
"I know, I think we should tell Ivander and others."Felix menyetujui ucapan Romeo.
Brak!
"Romeo!" Calesto membuka pintu casino privat itu keras.
"Bagaimana bisa?! Kau gila ya?" Calesto berjalan menuju Romeo dengan suara keras.
"Kau pikir aku sendiri tahu? I don't know anymore, I gave up with her. She's too difficult to understand!"
"Kau kalah 3 kali berturut-turut bodoh! Bagaimana bisa?!"
"Kau tanyakan saja pada Nona Lee, aku pergi, kepalaku pusing!" Romeo terlihat kesal.
"Does she seem to exist?" Felix bertanya pada Calesto yang hanya menatapnya balik, ia sendiri juga tak tahu apakah gadis sepertinya ada di dunia ini.
• • •
Romeo berjalan tanpa henti di tengah jalan raya yang padat malam ini, ia merasa marah tanpa ada alasan yang jelas sejak siang. Aurora berusaha mengejar lelaki bersurai hitam itu, ia jelas tahu Romeo bersikap seperti ini karenanya.
"Romeo are you still angry?" Aurora bertanya.
"Who're you?! Just let me go!" Romeo berteriak marah pada gadis Lee, tercium bau alkohol dari bibir tipisnya.
"Who're me?" Aurora menunjuk dirinya lalu ia tertawa, "Romeo, you're drunk. Let me lead you back to the bar." Aurora mendekati Romeo dan menggenggam tangannya.
"Pergilah selagi aku berbicara baik-baik!" Lelaki itu menatap Aurora tajam.
"And for your informationI'm not drunk!" Romeo membentak kesal, Aurora menyentuh lengan Romeo dan membisikkan beberapa kata, "Remember my words Romeo, you will think I'm a stupid girl, but you, yourself will fall into my hands before you realize it!" Aurora menjauhkan tubuhnya dari Romeo dan tersenyum tipis.
"Go lost!" Romeo membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari Aurora, gadis itu hanya bisa melihat kepergian Romeo dan pergi meninggalkan tempat itu. Walaupun Aurora berkata demikian pada Romeo yang cukup peka dalam segala situasi, ia yakin lelaki itu tak akan mengingat satu kata pun yang ia ucapkan, jadi ia tak perlu terlalu cemas akan rencananya.
Dan benar saja, setelah sadar dari mabuknya, Romeo yang sedang berada di apartemen nya menghadap langit-langit kamar sambil bergumam tak jelas. Ia merasa bodoh karena tak mengingat satu kata pun apa yang diucapkan gadis Lee tadi. Ia hanya merasa omongan gadis itu membuang waktunya, dan akibatnya ia tak mengingat satu kata pun. Ia memukul kepalanya seakan ia adalah orang ter-bodoh di dunia.
Lelaki itu meraih ponsel nya yang berada di meja nakas dekat tempat tidurnya, ia menekan beberapa tombol dan mendekatkan ponsel nya ke telinga. Hanya perlu menunggu beberapa detik, orang yang ia hubungi sudah menjawab, "Dimana? Kenapa tak ada di kamarmu?" Suara berat khas Louis bertanya.
"Apartemen."
"Kenapa baru bilang? Kau mabuk?" Louis bertanya sekali lagi.
"I think. Miss Lee was chasing me and forced me back."
"Why don't you just follow her? You know our chance to have a meeting is just when she's not around us!" Romeo tahu rekannya itu mengeram kesal padanya, tapi lelaki itu tertawa kecil, "I'm sorry."
"Ck, jika Ivander tahu kau ada di apartemen ia akan menyeret mu kembali."
"I know V, makanya jangan beritahu dia. Tadi Nona Lee juga berbicara sesuatu padaku, tapi aku tak mengingatnya." Romeo terkekeh dengan perbuatannya.
"Sinting! Ingat-ingat kembali bodoh! Omongannya bisa jadi clue dari apa yang ia inginkan. Kau tak boleh datang kesini jika tak mengingatnya!" Louis mematikan sambungan teleponnya sepihak, jika saja Louis tahu bagaimana Romeo berusaha dengan keras mengingat omongan Aurora.
• • •
"Kau sudah mengingatnya?" Louis langsung bertanya begitu Romeo menginjakkan kakinya di ruangan Ivander pagi-pagi buta ini.
"Mengingat apa?" Semua atensi beralih pada Louis dan Romeo secara bergantian, kedua lelaki ini memang sering memiliki rahasia tersendiri yang sulit dimengerti oleh yang lainnya.
"Hhh, stop reminding me about last night. My head still dizzy." Romeo duduk di sebelah Matteo.
"Kemarin kau ada di apartemen?!" Ivander bertanya kesal.
"Apakah aku harus berbohong?" tanya Romeo balik, Ivander sudah lelah dengan kelakuan rekannya ini, ia lebih memilih membiarkan lelaki pucat itu dari pada kepalanya semakin pusing dengan masalah baru.
"Sudah ku bilang kau harus kembali dengan mengingat perkataan Nona Lee. Kenapa kau kembali sekarang? Dan lagi kenapa kau tak menuruti omongan Nona Lee untuk kembali ke bar saja?"
"V, kau tahu seberapa sulitnya mengingat kejadian semalam saat aku mabuk kan? Jadi berhentilah memaksa ku." Romeo menatap kesal Louis yang duduk di depannya.
"Jadi kau bertemu Nona Lee saat kau mabuk?" Matteo bertanya dengan mata bulatnya, "Ya, apa lagi? Kau sudah mendengarnya dari omongan V barusan."
"Dan bodohnya dirimu tak kembali ke bar?" Samuel memiringkan kepalanya kesal.
"Ya, memang siapa yang berniat kembali setelah mabuk?"
Begitu mendengar omongan Romeo, keenam lelaki itu menatap tajam Romeo, "Apa?" Romeo bertanya. Ivander bangkit berdiri dari duduknya dan keluar dari sana, ia sudah tak ingin mendengar omongan Romeo lagi, kepalanya sudah cukup pusing dengan kelakuan lelaki itu.
"Beruntung hari ini Nona Lee tak akan datang, jika saja ia datang Ivander pasti sudah ada di apartemennya sebelum kau datang." Calesto menepuk pundak Romeo.
"You don't want to lose respect from me right?" Louis pergi menyusul Ivander.
"Am I wrong?" lelaki itu menatap rekannya yang masih tersisa disana.
"Definitely yes!" Samuel menatap lelah Romeo, Felix sendiri hanya bisa tertawa dengan tingkah Romeo, baginya walaupun Romeo terlihat seperti lelaki dingin, ia sebenarnya hanya seorang lelaki yang terkadang bisa bertingkah seperti anak kecil polos, di mata Felix lelaki ini seperti seekor anak kucing.
"Don't laugh at me!"
"You deserve it." lelaki pucat itu memutar matanya begitu mendengar jawaban tak terduga Matteo, lelaki kelinci itu kadang bisa membuat dirinya naik darah seketika.