Sadarkan Aku Kalau Ini Mimpi

151 23 11
                                        

"Taehyung... Kim Taehyung... astaga-astaga apa yang harus aku lakukan?" seru Jimin agak tertahan. Kini dia sedang di balik bilik toilet.

"Apa sih karyawan baru? Hahaha," goda Taehyung lewat sambungan telepon.

"Kamu harus percaya ini... aku... aku bertemu Min Yoongi. Demi apaaaa! Min Yoongi astaga demi apaaa, Taehyung!"

"DEMI APAAAAA!!!!" kehebohan dari seberang tidak kalah kali ini.

"Apa aku mengundurkan diri saja, ya? Taehyung...!"

"Hahaha... aku mau dengar cerita lengkapmu, sih. Tapi kukira bukan sekarang. Aku ada janji dengan klien sebentar lagi, Jimin.... Tapi bisa ceritakan sedikit pertemuan kalian tadi? Cie...."

"Jadi, ternyata kami satu kantor. Lebih parahnya lagi, kami satu divisi. Lebih parahnya lagi, dia pimpinan di divisiku. Parahnya lagi, tempat duduk kami berhadapan. Tolong... aku seperti masuk dalam komik-komik yang sering kita baca...."

"Hahaha... ya ibaratkan saja kamu masuk dalam dunia komik romance. Tapi, Jim, bukannya ini menyenangkan?"

"Tae... Kak Yoongi... ah, pokoknya kalau kamu ketemu langsung bisa pingsan."

"Kalau aku pingsan, kamu mati?"

"Ih, Taehyung...."

"Nanti lagi ya, Jim.... Ketemu pukul tujuh sambil membahas apartemen yang akan kamu tinggali."

"Iyaaa.... Makasih yaaa, Taehyung.... Sampai ketemu!"

Klik.... Sambungan telepon diputus.

Klik.... Pintu toilet dibuka.

"Masih berteman dengan Taehyung?" pertanyaan dari seseorang yang membungkuk cuci tangan di wastafel. Tidak langsung menatap Jimin, tetapi melalui pantulan cermin.

Aku mau mati saja, batin Jimin.

"Maaf ya, tanpa sengaja mendengar obrolan kalian. Aku duluan, Min...."


Min....

Min adalah panggilan Yoongi untuk Jimin dan Jimin untuk Yoongi. Panggilan sayang, sebut saja begitu. Ini agak geli di telinga, tetapi beginilah adanya. Dan baru saja, Yoongi masih menggunakan panggilan itu untuk Jimin. Tidak ada satu kata yang keluar dari bibir Jimin. Semuanya serba membuatnya terkejut. Pertemuannya dengan Yoongi di meja kerja, lalu di toilet. Yang kedua, seperti sebuah kebodohan. Jimin tidak bisa menyembunyikan antusiasnya bertemu Yoongi. Bocor karena ceritanya kepada Taehyung dan kehebohan yang mereka ciptakan jelas didengar Yoongi. Dalam toilet memang cuma ada mereka berdua. Sementara, Yoongi di mata Jimin jauh terlihat lebih cool, tenang, juga misterius.

Tadi, Yoongi membalikkan tubuh begitu mendengar panggilan Hoseok. Yoongi tahu pasti kalau saat itu juga lah dia akan melihat Jimin, seseorang yang membuatnya mual lagi belakangan ini. Bukan karena derita asam lambungnya. Bahkan, pagi tadi Yoongi harus melanggar pantangan tubuhnya karena gugup yang mendera; berdiam di lantai atas dan menyesap tiga batang rokok. Tenang tidak didapat, kacau semakin melekat.

Kalau ada pertandingan gugup dan canggung, Yoongi dan Jimin akan sama-sama menjadi juaranya hari ini. Gestur tangan Jimin yang ragu-ragu menerima uluran jabat tangan Yoongi, juga senyumnya yang serba tanggung. Suara yang dikeluarkan pun terbata. Sampai di sini, Yoongi bisa merasa lebih baik daripada Jimin. Setidaknya Yoongi bisa sedikit lebih baik menyembunyikan gejolak drum band yang sedang bermain di dalam jantungnya.

Perkenalan yang sangat singkat. Hanya jabat tangan dan menyebut nama. Tidak perlu berlama-lama juga karena Hoseok langsung mengambil alih keadaan. Hoseok mengomeli Yoongi yang sepagian menghilang dan janji dengan penulis, dan ternyata dilakukan di kantor.

"Ish... dasar Hoseok nggak tahu apa-apa," lirih Yoongi.

Jimin pamit ke toilet, yang otomatis semakin membuyarkan konsentrasi Yoongi. Ingin rasanya segera menghentikan ocehan Hoseok dan menyusul Jimin.

Padahal kalau dicerna kembali, kenapa harus mengadakan pertemuan di toilet?

***

Tadi ketika mencuri lihat meja di depannya, ketika sang penghuni belum datang, Jimin menemukan sesuatu yang membuatnya berharap bahwa prasangkanya tidak benar. Ada polaroid yang ditempel di dekat laptop; lanskap pantai.

"Nanti suatu saat, aku akan mengajak Kak Yoongi ke sini," ucap Jimin sambil menyerahkan polaroid kepada Yoongi. Ini adalah peristiwa tujuh tahun lalu, ketika seragam sekolah menengah atas melekat di tubuh mereka.

Jimin tidak lupa dengan foto-foto yang pernah dia ambil melalui kamera polaroidnya. Maka ketika menemukan foto itu, dia ingin menghilangkan ingatan bahwa foto itu adalah salah satu yang pernah dia berikan untuk Yoongi. Sebelum bertemu Yoongi hari ini, lebih dulu kakinya sudah lemas dengan kenyataan-kenyataan bahwa, dunia tempatnya berpijak memang sempit. Jimin dan Yoongi kembali dipertemukan.

"Heh, melamun!" kata Hoseok yang jelas mengagetkan Jimin.

"Ma... maaf, Kak," ucap Jimin sambil ekor matanya melirik orang di depannya.

Sial, Yoongi juga menatapnya!

"Jim, tempat tinggalmu jauh dari sini?" lanjut Hoseok. Dia mencoba membuka obrolan karena sedikit merasa bersalah membuat Jimin terkejut ketahuan melamun.

"Nggak, Kak. Tapi aku ingin pindah. Roommate-ku mau bawa pacarnya, jadi aku diusir."

"Hahaha... beneran? Kasihan banget...."

"Apa Kak Hoseok punya rekomendasi?" Jimin sengaja mencari bahan obrolan untuk menyingkirkan debaran hatinya. Dia tidak melibatkan Yoongi dalam pembicaraan karena Yoongi sudah sibuk dengan laptopnya. Semacam, tidak penting juga, kan?

"Apartemen Kak Yoongi ada kamar kosong. Tetapi dia nggak mau berbagi. Ish... hampir saja dia mati nggak diketahui karena asam lambungnya kambuh. Nggak ada orang di sampingnya."

Jimin membelalakkan mata.

"Dasar cerewet," gerutu Yoongi pelan tetapi masih bisa didengar Hoseok dan Jimin.

"Hahaha...."

"Kak Hoseok juga tinggal bareng roommate?" tanya Jimin.

"Nggak, Jim. Apartemenku kecil dan aku memang lebih suka tinggal sendirian."

"Jomblo...." Kembali terdengar dari bilik Yoongi.

"Ngaca, Kak! Ngaca!" timpal Hoseok geram.

Jimin tersenyum. Benar, semenyenangkan ini kerja di sini. Atau, karena baru saja mendengar kenyataan bahwa Yoongi nggak punya pacar?

"Nanti pulang bareng aku. Kamu bisa lihat kamar kosong di apartemenku. Nggak luas, tetapi kurasa cukup," ucap Yoongi.

Jimin tahu ajakan itu ditujukan untuknya. Jantungnya ribut sekali.

"DEMI APA MIN YOONGI MAU BERBAGI KAMAR!!!!" teriak Hoseok, yang otomatis menarik perhatian orang sekantor.

min[e]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang