Perasaan

132 13 6
                                    

Rahaga POV

_Flashback on_
”kamu yakin sama perasaan kamu ke Syaima?” tanya Sarah padaku.

Saat itu pertama kalinya aku mencoba berkenalan dengan Syaima dan hanya di balas senyum singkat. Tidak lebih.

“yakin dong, beribu-ribu persen” jawabku dengan yakin.

“emm.. aku saranin ke kamu untuk bener2 yakin dulu sebelum kamu kejar Syaima,”

“emg kenapa? Aku kelihatan gk yakin ya? Ya udh nnt aku bakal bawa orang tua aku kerumah Syaima buat buktiin kalau aku serius sama dia” ucapku tegas

“sebenernya aku gk yakin kamu bakal bisa yakinin Syaima soal perasaan kamu, karna trauma masa lalunya bikin dia gk pernah mau buka hatinya buat laki2 manapun”

“trauma? Trauma apaan? Dia pernah disakitin?” tanyaku penasaran dan tidak beranjak sedikit pun dari kursi Syaima yang telah di tinggalkan empunya beberapa menit lalu.

“singkatnya dia trauma dengan perceraian ortunya dan merasa bahwa semua laki2 seperti ayahnya, bahkan aku sedih waktu dia bilang lebih baik jadi perawan tua dari pada dapetin cinta yg gk tulus nantinya”

_Flashback off_

Hari itu, saat pulang dari kampus, aku menceritakan semua tentang Syaima dan perasaanku kepada orang tuaku. Awalnya mereka tidak setuju karena khwatir aku akan terluka karena ditolak oleh Syaima, namun tekadku sudah bulat dan  yakin bahwa aku bisa mendapatkan Syaima.

Seperti hari ini, walaupun dia selalu pergi setiap kali aku mendekat ke arahnya, namun aku juga selalu mendekkat kearahnya setiap kali dia mencoba pergi. Lagi.

“semangat ya Ga, Syaima udh mulai luluh kayaknya” ucap Sarah menepuk bahuku saat Syaima sudah mengilang dari pandangan mata kami.

“serius?!” tanyaku antusias.

“he’em, dia mulai tanya2 tentang kamu. Yah walaupun begitu, dia belum tentu udh buka hatinya buat kamu, Pokoknya semangat terus ya Ga! Hwaithing!” lanjut Sarah sambil berlalu pergi menuju kekelasnya.

(Aku yakin, sesuatu yang sudah di takdirkan takkan kemana, Allah tau hatiku cuma buat kamu, dan aku yakin kamu yang terbaik buat aku) batinku.

.

“ma, Haga berangkat, Assalamu’alaikum,” ucapku sambil mencium punggung tangan mama yang sedang menata makanan.

“wa’alaikumussalam, ini mama titip bawain bekel buat calon mantu ya” kata  mama sambil menyodorkan kotak bekal makanan

“jangan kamu yg makan, ini spesial buat calon mantu!” lanjut mama

“ini gk ada jampi2nya kan ma? Aku gk  mau loh  ya nnt Sya suka sama aku gara2 jaran goyang” ucapku sambil berlalu.

“ya enggak lah, dosa itu!, kamu usaha yg serius, mama kirim do’a terus sambil jagain lilinnya, semangat ya!” teriak mama.

“iya ma…, eh? Emg aku mau ngepet apa?!” teriakku ke arah dapur agar mama mendengar teriakan ku.
(Dasar mama) batinku.

.

“Syay!” teriakku saat melihat Syaima keluar dari parkiran sepeda motor.

“Syay! Tungguin” saat hendak berlari aku ingat dengan kotak bekal yang mama titipkan dan kembali ke mobil untuk mengambilnya.
Saat berbalik, aku sudah tidak menemukan keberadaan Syaima.

“yah di tinggalin mulu sih” gerutuku sambil menuju ke kelas Syaima.

“Sar, Syayang aku kemana?” tanyaku pada Sarah saat tidak menemukan Syaima di kelasnya.

“tau tuh, pergi gk bilang2” jawab Sarah.

Tak lama Syaima masuk dengan seorang pria yang ku ketahui sebagai teman kelasnya saat ini.

“Syay” sapaku saat Syaima masuk, namun dia hanya melihat sekilas dan melanjutkan obrolan dengan pria itu.

“Syay!” panggilku lagi.

“Syayang!”

.

Syaima POV

”Syayang!” teriak Rahaga.

Aku menoleh sambil memasang wajah tidak suka dengan panggilan Rahaga kepada ku.

“Syaima, bukan Syayang” ucapku datar.

“oke Syay” ucap Rahaga sambil tersenyum.
Rahaga adalah salah satu dari beberapa laki2 yang  pernah mendekatiku, namun aku tetap pada pendirianku.

Di awal, semuanya bertahan untuk terus mendekatiku, namun baru Rahaga yang benar2 berani datang kerumahku dan mencoba melamarku.

Dan karena hal itu pula aku mencoba bersikap sedikit lebih baik kepadanya, jika  tidak nasibnya akan berujung sama dengan pria2 sebelumnya yang tidak mendapat respon dariku. Sedikitpun.

Aku bukan perempuan cantik dan bergelimang harta, nilai ku juga tidak tinggi2 amat, rata rata 3,5. Aku juga tidak bersikap jual mahal, namun itu adalah caraku untuk tidak jatuh cinta. Aku takut, takut untuk jatuh cinta dan mendapatkan cinta kemudian cinta itu hilang dan tidak bertahan selamanya.

Itulah alasanku tidak membiarkan laki2 manapun masuk ke hatiku dan manabur cinta didalamnya.

“terserah” jawabku menanggapi Rahaga.

“jangan jual mahal mulu Sya, masih bersyukur ada laki2 yang mau sama kamu” ucap Selli teman sekelasku -yang menurut Sarah- menyukai Rahaga.

“tau tuh, jd perawan tua baru tau” cibir Sella, kembaran Selli.

“lagian kamu kenapa sih mau ngejar Syaima Ga?” tanya Selli yang berjalan mendekat kearah Rahaga.

“mending juga ngejar aku, kalau Syaima ya gak sebanding sama aku” ucap selli menyombongkan dirinya.

“iya Ga, mending Selli dibandingin Syaima, kamu sama Selli tuh Best Couple tau gk?” sambung Rahmi salah satu dayang2 Selli.

“enggk tau, dan gak mau tau” ucap Rahaga.

“eh tapi iya juga sih, Syaima sama Selli tuh bedanya jauh banget ya?” sambung Rahaga yang tak membuatku merespon sedikitpun, namun mampu membuat hatiku memanas, apa di mata Rahaga aku sejelek itu?

“perbandingannya tuh kayak gini” ucap Rahaga dengan tangan kanan sejajar kepala dan  tangan kiri sejajar lututnya.

“gak usah di perjelas juga kalau aku sejelek itu” ketusku melihat Rahaga.

“maksud aku yang jelek itu dia bukan kamu Syay, jd yang atas ini kamu dan yang bawah itu dia, jadi emang kalian tuh bedanya jauh banget,” ucap Rahaga lantang.

“nah iya Sya, bener yg Selli bilang, kalok kalian itu emg beda banget, beda level, gk mungkin deh Selli bisa nyamain kamu” ucap Dimas memprovokasi.

“setuju banget sama ketua” sambung Sarah sambil bertos ria dengan Dimas.

“kalian!” teriak Selli dengan  wajah merah padam dan berlalu kembali ke kursinya diikuti para dayang nya.

Aku hanya tersenyum menanggapi kelakuan teman temanku itu.

“Nih buat kamu, dari camer” ucap Rahaga sambil menyodorkan kotak makan di atas mejaku.

“bilang sama mama kamu makasih ya, ngerepotin banget sampe bawain makanan gini” ucapku menanggapi Rahaga.

“Gak ngerepotin kok, lagian kan masak khusus buat menantu” katanya sambil berlalu keluar dari kelas.
.

.

Sebenernya gk hobi nulis, cuma pengen tuangin apa yang ada di kepala jd bentuk tulisan.
Maafin ya kalau tulisannya mengecewakan😁

Please! Jangan Lari (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang