Resepsi (End)

195 8 1
                                    

"Duh nih penganten gugup banget ya? Sampe kaku banget tuh muka, ya gak Ra?" tanya Sarah kepada Rara -sang bodyguard wanita- Rara hanya menanggapi dengan senyum tipis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Duh nih penganten gugup banget ya? Sampe kaku banget tuh muka, ya gak Ra?" tanya Sarah kepada Rara -sang bodyguard wanita-
Rara hanya menanggapi dengan senyum tipis.

Saat ini Syaima, Sarah, Mama Syaima dan Rara sedang berada di kamar Syaima menunggu acara ijab qabul selesai.

Ya, hari ini Syaima memantapkan hatinya untuk menerima lamaran Rahaga, namun hati dan pikirannya masih kalut akan trauma yang terus mengahntuinya.

"Ra, sekali2 senyum gpp kali, klk gk senyum2 ntar gdk yg mau loh" ledek Sarah kepada Rara.

"kamu juga Sar, klk masih cerewet terus begini gimana Dimas mau tertarik sama kamu?" goda mama

"ih tante" rengek Sarah.

"mah?"

"hem?"

"yang jadi wali aku siapa? Adek? Trus Ayah di kabarin gk?"

"kok baru sekarang di tanyanya kak?"

"baru sempet ma, lagian sampe saat ini aku..."

Mama Syaima membelai lembut wajah anak Gadisnya, dan menggenggam lembut tangannya.

"kak, maafin mama karna selama ini jd org yang bikin kakak trauma, maafin mama karna gk bantu kamu sejak lama, maafin mama yang egois dan membuat anak2 mama jauh dari ayahnya, maafin mama kak.."

"ma.."

Ucapan Syaima terpotong suara seseorang dari bawah,

"saya nikahkan ananda Rahaga Putra Bin Hardi Suryo dengan Putri Saya Syaima Zahara binti Umeir Rahardi..."

"ma.. itu suara.."

Lama keempat orang di dalam kamar itu hanya diam, sampai suara2 dari bawah berhenti pun keempatnya masih terdiam, Sarah dan Rara tidak berniat mengusik keduanya.

Sampai suara ketukan pintu menyadarkan mereka.

Tok Tok Tok

"biar saya yang buka" ucap Rara sambil membuka pintu

Syaima menitikkan air matanya ketika wajah sang ayah terlihat begitu pintu terbuka.

"Anak Ayah..." Ayah Syaima berjalan masuk dan duduk di sebelah Putrinya.

"Mama tinggal kebawah ya sayang.." ucap mama Syaima meninggalkan Syaima berdua dengan sang Ayah.

"kak.."

"hem?"

"maafin Ayah ya.."

"hem"

"Ayah gk bisa balikin waktu yang berlalu, tapi setidaknya kita bisa mencoba memperbaiki masa depan jadi lebih indah"

"kakak rindu Ayah" ucap Syaima memeluk sang Ayah.

"Mama dan Ayah sering bertengkar kan?"

"he'em, kakak tau"

"tapi biar bagaimanapun, kita tetap keluarga. Ayah begitu emosional, keras kepala"

"kakak juga keras kepala"

"iya, sampai2 Rahaga mu pusing tujuh keliling. Tp kakak lebih pintar dan bijak dari Ayah. Maafkan Ayah sayang..."

"Ayah sangat menyesal meninggalkan kalian tanpa kabar selama bertahun tahun, maafkan segala salah Ayah sayang.."

"he'em, kakak maafin Ayah, kakak sayang sama Ayah"

Ayah Syaima mengelus puncak kepala putrinya dan membawanya menuju ke jendela.

"bukalah jendelanya,"

"udah" jawab Syaima.

"tengoklah keluar nak, lihat embun yang bertemu dengan mentari yang cerah, memberikan penampakan hari yang indah"

Syaima tersenyum.

"hal terakhir yang Ayah ingin dari kakak, jadilah permata yang berkilauan senyum dan tawa, jadilah seperti mentari di musim dingin, menyinari kegelapan dan menghangatkannya, jadilah bidadari surga untuk suamimu, jangan ulangi kesalahan yang Ayah lakukan, bahagiakan Mama dan adikmu juga keluarga suamimu"

Ayah Syaima mengecup lembut puncak kepala putrinya lalu membawa Syaima turun kelantai satu dimana resepi di lakukan.

Seluruh mata memandang kearah Syaima, Ratu untuk hari ini,

"Ratumu telah tiba, jaga dan bimbing dia" ucap Ayah Syaima sambil menyerahkan tangan putrinya untuk di genggam oleh Rahaga.

"Hai Istri" bisik Rahaga saat mereka berdua hendak duduk ke singgasana mereka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Hai Istri" bisik Rahaga saat mereka berdua hendak duduk ke singgasana mereka.

"Hai suami" balas Syaima tanpa menoleh kearah Rahaga.

Rahaga bahagia mendengar kalimat istrinya itu, "I love you istri" ucap Rahaga lagi.

"I love You more suami"

"I'll be everything what u need bidadariku" bisik Rahaga yang gemas melihat Syaima membalas ucapannya.

"Aku beruntung memilikimu sebagai suamiku" kali ini Syaima mengucapkannya sambil menatap lembut manik Rahaga.

"sama2 sayang"

Hari itu, seluruh kebahagiaan Syaima seakan2 menggunung, bahkan rasanya tidak ada orang lain yang sebahagia dirinya.

Walaupun Ayahnya langsung pulang setelah mengantarkannya kepelaminan tadi, tapi tak mengapa, ia tau Ayahnya itu tulus mencintainya.

Dan betapa beruntungnya dia mendapatkan Rahaga sebagai suaminya, yang walaupun tak pernah Syaima temui jika datang kerumahnya dan Syaima tolak saat dia pertama kali datang melamar dulu, juga betapa kerennya saat Rahaga menjaganya dari penguntit Psyiko, dan massih banyak lagi tenatang Rahaga ini, Rahaga itu.

Rahaga Putra, aku harap akan menjadi satu2nya nama dan selamanya.

Please! Jangan Lari (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang