"Assalamu alaikum, Bang!" sapa Dira sambil mencium tangan Bagas sepulang sekolah. Bagas memperhatikan wajah Dira yang cemberut .
"Waalaikum salam, lah muka lu kok gitu amat? Kenapa, Ra? Ayo cerita sama abang!" ucap Bagas mencoba menanyakan dan mencoba membuat Dira terbuka padanya. Dira pun duduk di sofa ruang tamu di samping Bagas duduk.
"Dira lagi bete aja kok, Bang. Uang jajan Dira masih ada kok," jawab Dira.
"Iya, abang tahu kali kamu lagi bete dan yang abang maksud bukan uang loh. Abang tahu lu masih punya. Jadi betenya kenapa nih? 5D? atau Rey?"
"Hm, Rey. Tapi Dira mungkin yang salah trus Dira juga yang bete, aneh kan, Bang?" Dira mulai berbicara.
"Akhirnya adik gua beneran udah mulai beranjak dewasa sekarang, jadi ada hal yang abang gak bisa jelasin ama lu tapi lu perlahan tahu sendiri dan ngalamin sendiri. Nah ini yang lagi nimpa lu saat ini, kenapa menjalin asmara itu rumit ya karena ini. Nyatuin kepala laki-laki dan perempuan itu yang bikin rumit. Beda halnya dengan 5D, karena kalian sahabatan." Bagas menjelaskan panjang.
"Lah trus apa bedanya kan 5D selain Dira kan semuanya laki-laki dan Rey juga laki-laki, jadi bukannya sama aja, Bang?" Dira mulai bingung menanggapi penjelasan Bagas.
"Bedalah, Ra. Lu ke 5D boys itu sayang sebatas sahabat, nah ke Rey itu ngelibatin perasaan lu yang lain. Sebut saja cinta. Kenapa abang bisa bilang itu cinta? Karena saat lu cemburu liat Rey ama perempuan lain, ya itu artinya lu gak ingin Rey ada yang miliki selain lu. Lu gak mau kalo Rey ngebagi perhatiannya pada perempuan lain, jangankan ngebagi perasaan. Bahkan Rey dekat aja ke perempuan lain lu gak nyaman dan gak suka, sampai sini paham gak maksud abang?" Bagas akhirnya memaparkan panjang lebar karena merasa bahwa Dira sudah waktunya tahu tentang hal seperti ini, ya sekali pun ia sebenarnya perlahan paham tentang hal seperti ini.
"Iya, Dira paham sekarang. Jadi maksud abang ini Dira lagi cemburu ama perempuan lain yang ngedekatin Rey gitu?
"Abang gak bilang gitu loh, abang cuman ngasih contoh doang biar lu paham."
"Ya udah deh, Dira ke kamar dulu ya," ucap Dira yang ingin melarikan diri.
"Tunggu, tunggu. Jadi masalahnya itu, Ra. Kenapa gak to the point aja dari tadi sih?" Bagas mulai mengejek Dira.
"Tuh kan malah ngejek, udah ah Dira mau ganti baju dulu," ucap Dira sambil sambil melangkah menuju ke tangga.
"Ya udah, abis itu sana ya makan. Tadi Tante Eliza bawain kita makanan dari restonya, jadi kemungkinan entar 5D ngumpul di sini. Soalnya Tante Eliza bilang sengaja bawa makanannya ke sini," Jelas bagas.
"Oke, Bang," kata Dira sambil menaiki anak tangga. Dalam hatinya yang kurang nyaman karena 5D boys akan datang di saat ia masih bingung dengan masalahnya dengan Rey. Tapi ia mencoba tenang dan rileks agar 5D boys tidak mengejeknya galau dan berbagai macam ejekan yang mungkin mereka tujukan untuk Dira.
***
Beberapa menit kemudian, telah terdengar suara berisik dari 5D boys yang berada di lantai bawah tepatnya di ruang tengah di depan sofa dimana Bagas duduk. Saat mereka sedang asyik bermain monopoli bersama, Bagas bergerak menuju ke tangga. Tiba-tiba Dayyan yang dari kamar kecil menawarkan diri untuk memanggil Dira. Dayyan pun menaiki tangga dan segera mengetok pintu kamar Dira saat ia telah berada tepat di depannya. Hanya sekali Dayyan mengetoknya, Dira langsung muncul di hadapannya.
"Gua baru aja mau turun," ucap Dira.
"Ya udah gua ama anak-anak tunggu di bawah ya," kata Dayyan sambil berlalu.
Dira tidak langsung menyusul Dayyan namun melihat-lihat kondisi di bawah, Dira melihat semuanya terlihat normal termasuk Dion yang sudah kembali seperti semula. Menurut Dira hubungannya dengan Rey membuat Dion tidak lagi menyudutkan Dayyan dan itu adalah hal baik karena Dira sangat tahu Dayyan tidak pernah sedikit pun menyimpan rasa padanya. Saat ke empat sahabatnya kembali utuh justru suasana hatinya sendirilah yang kurang baik, Dira sebisa mungkin menampakkan wajah yang ceria untuk menemui 5D boys.
KAMU SEDANG MEMBACA
5D
Teen FictionKopi itu seperti kebersamaan, selalu mampu merangkul perbedaan. (5D)
