#6. Bagal Pembawa Beban

19 1 0
                                    

Gerombolan tamak yang sombong itu bercengkerama dalam tawa
Mereka unik. Tak tergantikan. Layak menjadi cita-cita.

Sembunyi dari harapan dan ketakutanku, aku mendengarkan sajak mereka dalam keheningan dan ingin memahami mereka

Mereka memberitau makna warna-warna dan bilangan dari angka-angka
Mereka terdiri dari banyak kisah, maka mereka bercerita kepadaku

Saat marah, mereka seperti orang kelaparan yang memakan hatinya sendiri
Saat tertekan, mereka membakar diri dalam ambisi
Saat berduka, mereka menari mengikuti irama yang diciptakan dalam benak orang lain
Namun saat merayakan sukacita, mereka diam di rumah masing-masing

Bagi mereka cinta adalah celah antara hasrat dan pencapaiannya dalam ketiadaan, bukan dalam pemenuhannya

Mereka bicara tentang perang dan pertumpahan darah demi mewujudkan sebuah pencapaian,
Mereka mencuri kantuk melalui beberapa butir obat tidur,
Mereka merindukan cinta pertama dalam sepucuk surat cinta yang tak pernah sampai, sebaris doa dini hari, dan sebuah pertanyaan rutin :Apakah Anda pernah depresi?

Mereka bergerak seperti bagal pembawa beban di tengah ladang pertikaian
Pada siang hari, mereka ditembaki penembak gelap sementara malam harinya dihujani mortar

Tapi itu bukan perang
Itu hanya pergerakan yang tak pernah berakhir
Mereka bergerak hanya demi bergerak
Melakukan dan merasakan hal yang sama berulang kali
Berakumulasi menjadi kebosanan yang aneh
Jenis kebosanan yang mengalir seperti keran bocor, hanya saja yang menetes bukan air melainkan sesuatu yang terasa seperti asam dan tiap tetesnya merusak organ penting dalam tubuh.

Mereka meyakini waktu tidak menyembuhkan apapun, melainkan hanya bergerak dalam hening lalu pergi lagi

Sebab itulah mereka tak pernah lelah berpesta pora karena berpikir hidup akan berlangsung selamanya 🍁

easy endingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang