Annyeong yeorobun mianhae kalau cerita ini ngawur
Dan bahasanya susah di mengerti mungkin, author akan merevisi nya agar kalian mudah membacanya
Jangan lupa tunggu kelanjutan cerita author gaje:^
Bintangin dong gaes biar author semangat😭🤧
---------------------------
Author POV
Mentari mulai asik memancarkan sinar jingga indah nya yang menyebar keseluruh penjuru alam, burung kecil yg menari di dahan-dahan pepohonan yang hijau nan asri Dan suara gemericik air menjadi pemanis alunan indah sang angin, sungguh indah kekuasaanMu yaa ilahi robb
Hari ini adalah hari yang sangat penuh suka cita dan kegembiraan bagi semua santri dan santriyah. Karna ini masih pagi, mereka semua sedang sibuk menata diri masing-masing untuk merayakan kelulusan yang sudah mereka nantikan
Tak jauh berbeda dengan dzila yang sedang mempersiapkan dirinya dengan baju couple satu angkatannya dan tak lupa ia memakai sedikit lip balm Dan sedikit bedak yang ia minta dari sumiatun maklum sajalah karna, dzila memang type orang yang cuek soal wajah nya karna, sebenarnya dia memang tidak mahir Bermake up jadi untuk apa dia membelinya kalau tidak dipakai tapi, kalau urusan lip balm tentu saja ia punya karna bibirnya sering kering.
"Dzil sudah belum, kalau sudah ayo kita berkumpul dengan yang lainya" ajak sumiatun dan safira bersamaan.
Dan hanya dibalas anggukan imut dari dzila.
Sedangkan Kini aula yang dijadikan tempat berkumpul para santri pun sudah ramai dan para wali santri sudah mulai berdatangan menghampiri anaknya(termasuk bibi dzila pun datang) dengan tangis haru dan rindu karna sudah Lama tak bertemu
*info* kenapa jarang ketemu karna mayoritas Santri putri maupun santri putra tidak diperboleh pulang tanpa alasan penting dan waktu libur yang ditentukan pondok pesantren tersebut.
Next
Waktu terus berjalan begitu cepat tak terasa kini sudah ada di pengujung acara semua santri menangis haru ketika sang guru tercinta sedang memberi Nasihat dan penghargaan bagi santri yang berprestasi. Tangis haru yang tak bisa di bendung mulai menyelimuti tempat itu. bagaimana tidak karna, mereka yang tinggal di pesantren ini pasti sudah menganggap abah dan guru yang lainya adalah orang tua nya yang telah berbaik hati membimbing kita mempelajari imu agama maupun sosial yang sebelumnya kita tidak paham betul. Tapi, dengan kesabaran dan kasih sayangnya mereka menuntun kita untuk mengerti , teman-teman disana adalah saudara mereka yang siap membantu mereka ketika sakit, ketika kehabisan uang, sedang ada masalah ,apapun itu pasti teman lah yang selalu ada untuk mereka, Asrama adalah rumah mereka yang selalu menjadi tempat teduh yang menenangkan, dan besok pagi mereka akan meninggalkan tempat ini dengan berat hati.
Semua santri masih kalut dalam haru, isak tanggis pun mengiringi lafadz sholawat yang mereka lantunkan dengan khidmat untuk, mengiringi sang guru yang tengah mengumumkan siapa santri terpilih yang mendapatkan penghargaan
Suasana disana disana penuh haru dan bercambur ketegangan menunggu siapakah santri yang terpilih tersebut yang ternyata adalah
"Dzil, kayak'e kamu bakal kepilih wes yakin aku dzil"
Ucap sumiatun berbisik.
"Walahh yo ra mungkin tun, aku kan ndak bisa apa-apa" balas dzila terkekeh malu dengan semu merah yang terpampang nyata dipipinya.
"Halahh masa sih ndak bisa apa-apa, tapi kalau makan sama tidur tentu bisa kan dzil" goda sumiatun.
"Ssstttss jangan berisik pengumumannya nanti ndak terdengar" ucap safira sinis.
Tapi, sumiatun tetap saja tak membalas ucapan safira sama sekali meskipun perkataan nya benar tapi, sumiatun masih tetap pura-pura tak mendengarnya karna, dia tiba-tiba tak peduli dengat sahabatnya itu setelah kecurigaan nya waktu itu
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Cinta
Teen FictionHidup bagai puzzle yang masih direncanakan Sang penentu takdir yang membuat dzila bagai di ombang ambing Kan, oleh perasaanya sendiri. Lulus sma dzila melanjutkan kuliah melalui beasiswa yang ia dapat dari kecerdasan serta kerja kerasnya belajar sel...
