Setelah semalaman menginap di rumah milik winwin, kini—di pagi hari, yuta berada di ruang tamu dengan duduk di sofa single sembari menggoreskan pensilnya pada kertas putih yang ada di tangannya.
"Sibuk sekali."
Hampir saja yuta menjatuhkan pensil dan juga kertas putihnya ketika mendengar suara winwin yang telah berada di hadapannya seraya menyajikan sebuah cangkir yang berisi kopi hitam.
"Kenapa terkejut?" Winwin terkekeh seraya menghampiri yuta yang masih duduk di sofa. Ia berdiri disamping yuta seraya melirik gambaran yang ada di kertas putih tersebut.
"Aku terlalu fokus dengan kegiatan menggambarku. Hingga tak sadar dengan kehadiranmu." balas yuta seraya menaruh kertas putih tersebut di pangkuannya. Ia mengambil kopi hitam yang disajikan winwin lalu menyesapnya pelan.
Ucapan yuta membuat winwin menyentuh bahu kekasihnya; ia mencondongkan tubuhnya guna melihat lebih jelas objek yang yuta gambar. Sedetik kemudian sebuah senyum kecil terukir di bibir cherrynya ketika melihat gambaran tersebut—itu adalah gambaran dirinya.
"Oh! Bagaimana menurutmu? Ada yang kurang?" Yuta menolehkan wajahnya ke belakang ketika menyadari winwin yang telah melihat kertas yang ada di pangkuannya.
"Coba kau angkat. Aku ingin melihatnya lebih dekat." titah winwin.
Yuta mengangguk. Ia menaruh cangkir berisi kopi tersebut diatas meja, lalu mengangkat kertas putih yang ada di pangkuannya sejajar dengan wajahnya; agar winwin bisa melihat lebih dekat hasil gambarannya tersebut.
Tangan kanan winwin terulur untuk ikut menyentuh kertas putih berisi gambaran dirinya tersebut; ia menempelkan pipinya pada wajah yuta. Mengagumi betapa sempurnanya hasil goresan pensil yang dibuat kekasihnya.
"Bagus sekali. Terima kasih" puji winwin seraya menghadiahi yuta dengan kecupan lembut pada pipinya.
"Ini... Kau bisa memajangnya di kamarmu." yuta menghadapkan tubuhnya ke samping; guna menyerahkan kertas putih tersebut pada kekasihnya.
Winwin menerima kertas putih berisi gambaran dirinya dengan senyum yang semakin mengembang di wajahnya. Ini baru pertama kalinya yuta menggambar dirinya, karena biasanya—kekasihnya itu selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai pelukis.
"Melihat hasil gambarmu... Aku jadi ingat bagaimana aku mengganggumu saat kau melukis di hari itu." ucap winwin dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher milik yuta.
Yuta mengernyitkan alisnya. Perjalanannya di Spanyol selama seminggu membuat ia lupa dengan apa yang winwin ucapkan. Namun sedetik kemudian kedua alisnya terangkat, bersamaan dengan mulutnya yang setengah terbuka. Ya, yuta kembali mengingatnya; dimana winwin mengganggu kegiatan melukisnya, dan berakhir pria manis itu menjadi kekasihnya.
FLASHBACK
Deretan rumah kecil di sisi kanan dan kiri, serta beberapa anak kecil yang tengah bermain di sebuah lapangan luas membuat yuta tersenyum melihat pemandangan tersebut dari jendela mobilnya yang terbuka.
"Jauh jauh datang ke korea, dan kau memilih tempat ini sebagai objek melukismu?" Protes temannya—johnny ketika ia dan yuta turun dari mobil.
"Ayolah john! Jangan memanjakan matamu dengan gadis gadis berpakaian ketat terus. Sekali kali kau harus menyegarkan matamu dengan pemandangan desa." balas yuta tanpa melirik temannya. Ia fokus pada kertas yang ada di tangannya; yang berisi petunjuk tentang penginapan yang akan ia tempati selama berada di desa ini.
Yuta dan johnny tentu mempunyai tujuan yang berbeda. Jika yuta berkeliling dunia untuk melukis, johnny hanya mengikutinya dengan tujuan untuk bersenang senang sembari mencari seseorang untuk dijadikannya kekasih.
"Kau tidak mau mengubah pikiranmu? Masih ada banyak tempat bagus di negara ini yuta!" Johnny melayangkan protesnya lagi. Ia tidak nyaman jika harus berlama lama di tempat terpencil.
"Bisakah kau tutup mulutmu? Aku sedang berkonsentrasi membaca petunjuknya!" Yuta menatap johnny dengan kesal, gara gara ocehan temannya itu ia jadi sulit berkonsentrasi membaca alamat pada kertas yang dibawanya. Jujur saja, yuta sedikit bingung mengartikan tulisan korea yang tertulis pada kertas tersebut.
"Hah!... Aku menyerah. Lebih baik kita tanyakan saja pada anak kecil disana." yuta menyimpan kertas itu di saku celananya, lalu mendekati beberapa anak kecil yang tengah bermain bola di lapangan luas tersebut.
Sementara johnny hanya mengikutinya dengan mendengus kesal. Ia masih tidak menerima jika yuta memilih desa ini sebagai objek melukisnya. Ya, menguntungkan bagi yuta, tapi tidak dengan dirinya.
"Permisi.." Ucap yuta kepada anak anak itu dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Anak anak kecil itu menghentikkan kegiatan mereka bermain bola. Salah satu dari mereka mendekati yuta; memasang raut wajah penuh tanya kepada pelukis itu.
"Bisakah kau mengantarkan kami pada alamat yang tertulis di kertas ini?" Tanya yuta sembari memperlihatkan kertas yang dibawanya kepada anak kecil tersebut.
"Tentu." Anak kecil itu mengangguk.
Setelah mendapat respon dari anak kecil itu, yuta dan juga johnny pergi menemui rumah dari pemilik penginapan yang akan mereka tempati nanti.
---
Dan disinilah yuta dan johnny berada, di kediaman si pemilik penginapan—jongdae, sembari membicarakan tujuan mereka berada di desa ini.
"Berapa lama kalian akan menginap?" Tanya jongdae seraya melepas kacamata yang melingkar di kedua matanya.
"Mungkin selama lima hari." balas yuta. Ia pikir mencari objek untuk melukis nanti tak akan lebih dari seminggu. Karena sebelum ia tiba di kediaman jongdae, yuta melihat banyak sekali hal menarik di desa ini.
"Apa kamarnya cukup luas?" Johnny menanyakannya dengan ragu. Ia takut jika kamar yang akan ditempatinya mempunyai ruang yang sempit.
Yuta memalingkan wajahnya sembari mendengus pelan. Sialan! Pertanyaan johnny membuatnya merasa tak enak dengan si pemilik rumah, takut jika jongdae merasa tersinggung dengan pertanyaan temannya.
"Sangat luas. Seperti ukuran tubuhmu." jawab jongdae dengan melontarkan sedikit candaan pada johnny.
"Nah! Syukurlah" balas johnny dengan menyenderkan punggungnya di sofa yang ia duduki.
Yuta hanya menggelengkan kepalanya berulang kali melihat tingkah temannya. Pandangannya kini teralih pada pria manis yang tengah menghampiri ruang tamu dengan sebuah nampan yang dibawanya. Matanya menatap pria manis yang tengah menyajikan tiga buah cangkir berisi minuman tersebut—hingga pria manis itu mendongakkan kepalanya; menatap balik yuta sembari tersenyum.
Otomatis membuat yuta ikut tersenyum. Bukan karena terpesona dengan wajah pria manis itu, namun itu adalah balasan agar tak terlihat angkuh didepan keluarga si pemilik rumah.
"Dia cantik kan?" Bisik johnny di telinga yuta.
"Siapa?"
"Ck!... Yang baru saja menyajikan minuman. Apa kau tak ada niat menjadikannya kekasihmu?" Tanya johnny pelan seraya menatap wajah yuta.
"Aku tidak tertarik. Untukmu saja." yuta menepuk pelan bahu johnny berulang kali.
Ya, sampai saat ini yuta belum ada keinginan untuk memiliki seorang kekasih.
.
.
.
TBC

KAMU SEDANG MEMBACA
Wish •yuwin•
FanfictionSebuah harapan yang diucapkan keduanya agar bisa kembali bersama. BXB CONTENT! Don't like? Then don't read it!