BAB 15: Kopi Dingin dan Mi yang Mengembang

10.6K 1.1K 134
                                        


Jam di pergelangan tangan Lentera menunjukkan pukul sebelas malam. Dia diam-diam keluar rumah lagi, sebelum orang tuanya menyadari kehadirannya, kemudian keluar rumah. Di luar udara begitu dingin, memberikan efek gigil yang cukup kuat. Meskipun begitu, dia tetap keluar rumah dengan pakaian yang sama, tas yang sama, tetapi dengan hati yang kacau.

Seharusnya, dia tidak membuka amplop cokelat dari Raka. Seharusnya, dia biarkan saja benda itu tak terbuka, sampai esok hari. Atau biarkan saja sampai pesta pernikahan Raka terlewat, sehingga semua sudah terlambat. Dalam benaknya, sama sekali tak ada pikiran untuk kembali bersama Raka. Akan tetapi, terkadang kenangan mengenai lelaki itu menerkamnya diam-diam, lalu terciptalah perasaan rindu yang teramat.

Seringnya, Lentera memikirkan keadaan lelaki itu. Apakah dia makan dengan baik? Apa dia hidup dengan baik?

Melihat apa yang sudah dilakukan Raka, sudah jelas lelaki itu baik-baik saja. Selembar undangan pernikahan itu, seakan-akan menyatakan kemenangan bagi Raka, pada akhirnya dia menikah. Seakan-akan lelaki itu berkata pada Lentera bahwa dia mampu mendapatkan perempuan lain, selain dirinya.

Lentera membenci pemikirannya itu.

Perempuan itu memesan taksi daring. Kali ini, tak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan driver dan taksi tersebut cepat datang. Sebelumnya, Lentera sudah menanyakan alamat rumah Gilang kepada Deenar. Atasannya itu bertanya untuk apa mencari rumah Gilang. Lentera beralasan, dompet Gilang terbawa olehnya.

Tentu saja, itu kebohongan Lentera. Dia hanya mencari alasan agar Deenar tidak bertanya lebih lanjut. Sebab, dia sendiri tidak tahu kenapa dia mencari Gilang, bukannya Deenar yang pastinya siap sedia apabila dia butuh. Kenyataannya, saat ini satu-satunya orang yang dia inginkan adalah Gilang. Lelaki itu.

Taksi yang mengantar Lentera, berhenti pada sebuah gedung yang merupakan gedung apartemen cukup mewah di Surabaya. Setelah membayar taksi online dengan uang tunai, Lentera mengirim pesan pada Gilang. Lentera berharap, lelaki itu belum terlelap.

Kau di rumah?

Lentera menunggu Gilang membalas pesannya, tetapi setelah lima menit, lelaki itu tak juga membalas. Lalu, Lentera menghubungi nomor ponsel Gilang. Pada nada dering ketiga, teleponnya tersambung.

"Hai," sapa Lentera.

"Hai," balas Gilang. "Tumben?"

"Kau di rumah?"

"Ya, baru selesai mandi."

"Aku di depan gedung apartemenmu, kalau aku tidak salah alamat."

"Tunggu aku di sana," tukas Gilang, kemudian sambungan telepon terputus.

Lelaki itu tidak bertanya mengenai alasan kedatangan Lentera ke tempatnya, yang sebenarnya sangat tidak wajar. Tapi, Gilang langsung berkata tunggu aku di sana, yang membuat hati Lentera mendadak tenang. Kesedihannya beberapa menit lalu, tiada.

Setelah beberapa menit berlalu, Lentera melihat Gilang keluar dari gerbang apartemen. Lelaki itu terlihat kelelahan dan nampaknya, dia terburu-buru datang menemui Lentera. Rambutnya masih basah dan sedikit panjang itu dia kuncir seadanya dengan karet gelang. Mau tak mau, membuat Lentera tertawa kecil.

"Kenapa?" tanya Gilang.

"Rambutmu basah," sahut Lentera.

"Habis mandi, kubilang."

Lentera mengangguk, mengerti. Dia diam. Gilang masih melihat ke arahnya, hal itu membuat Lentera salah tingkah. "Apa?"

"Kenapa tidak masuk ke lobi?"

Before Wedding [SUDAH DIBUKUKAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang