BAB 14: Sepucuk Cerita Masa Lalu

11.5K 1.2K 200
                                        

"Tidak."

Itulah kata yang dikatakan Lentera malam itu, ketika di Malang. Ketika Gilang meminta Lentera untuk menjadi kekasihnya. Tak ada alasan khusus kenapa Lentera menolak Gilang. Hanya saja, dia tak sedang ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Dia pun tak ingin menjadikan Gilang pelariannya saja. Lentera ingin memberikan hatinya waktu itu beristirahat, agar semua berjalan seperti sedia kala.

"Kau orang paling rumit yang pernah kukenal," komentar Deenar ketika dia bercerita mengenai Gilang. "Omong-omong, kau yakin tidak terjadi apa-apa malam itu?" selidiknya. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Lentera. Mereka sedang di pusat perbelanjaan, mampir ke sebuah butik batik, memilih-milih sesuatu. Deenar ingin memberikan hadiah untuk kenalannya. Tugas Lentera menemani dan memberi saran.

Lentera mendelik. Deenar tertawa. "Aku hanya tidur di ranjangnya, tidak lebih." Malam itu, Lentera memang menginap di kamar Gilang. Dia tidur di atas ranjang, sedangkan Gilang di sofa yang ada di kamar tersebut. Sebenarnya, Lentera sudah memaksa Gilang untuk membiarkannya kembali ke kamar dan akan meminta Deenar untuk menemaninya, tetapi lelaki itu menolak. Saat itu, tenaga Lentera terkuras, sehingga ia tak membantah Gilang.

"Aku hanya mengkonfirmasi saja," Deenar masih tertawa. "Raka sudah tak memberimu kabar sama sekali?"

"Tidak."

"Dasar lelaki berengsek!" umpat Deenar. Mata Lentera membulat, sedikit terkejut dengan ucapan Deenar. "Maaf, lepas kontrol."

"Aku tidak menyalahkan Raka sepenuhnya, kita sama-sama bersalah," timpal Lentera. "Kau tahu, aku juga mengkhianatinya."

"Semestinya, kalian jadi pasangan yang serasi," sahut Deenar. Dia memilih dress batik berwarna merah muda, lalu ditunjukkan pada Lentera. "Bagaimana menurutmu?"

"Lumayan."

Sebenarnya, keberadaan Lentera sama sekali tidak membantu Deenar, selain Deenar ada teman untuk mengelilingi pusat perbelanjaan. Lagi pula, Lentera baru saja menerima gaji dua kali lipat daripada biasanya. Tentu saja, karena kerja kerasnya mengurusi acara di Malang. Dia sampai pingsan karena acara itu. Meskipun Lentera hanya berkomentar "lumayan", Deenar tetap membeli gaun tersebut dan membawanya ke kasir.

"Kau mau makan apa? Biar aku traktir," tanya Lentera.

"Ah, senang sekali! Baru kali ini dalam sejarah anak buah mentraktir bosnya!" ledek Deenar.

"Iya. Kapan lagi, kan?"

"Baiklah, aku sedang ingin makan ramen," tukas Deenar. "Aku yang pilih tempatnya, ya."

"Terserah kau saja," sahut Lentera.

Deenar masuk ke dalam sebuah restoran ramen udon. Mereka mengambil nampan, memesan ramen, topping, serta minuman. Lalu, keduanya duduk di salah satu meja, menikmati ramen panas yang gurih.

"Berbicara mengenai Gilang," Deenar membuka percakapan, di sela-sela dia menyeruput kuah ramen. Matanya berbinar ketika kuah gurih dan manis itu dicecapnya. Layaknya balita yang melihat setumpuk buku, yang dianggapnya sebagai zona permainan baru. "Dia baru saja mengirimiku pesan."

Lentera tidak terkejut dengan kalimat Deenar, tetapi dia hanya penasaran apa kira-kira pesan apa yang dikirimkan Gilang pada atasannya itu. Kerja sama mereka telah usai, penyerahan hadiah, serta urusan pembagian sisa dana acara juga sudah selesai. Intinya, sudah tak ada lagi urusan antara HaloNona dan Lentera Media.

"Bukan hal penting, sih, dia tanya aku di mana. Kujawab, aku di Tunjungan Plaza makan ramen," cerita Deenar. Dia tersenyum ke arah Lentera. "Memangnya kalian tidak saling bertukar kabar?"

"Kenapa harus begitu?"

"Kukira kalian dekat."

Kukira kalian dekat.

Before Wedding [SUDAH DIBUKUKAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang