BAB 13: Kau Mau Menjadi Kekasihku?

10.8K 1.1K 107
                                        


Bloger merupakan pelaku yang suka menulis blog. Media yang digunakan oleh bloger bermacam-macam, ada blogspot, wordpress, medium, dan media lainnya. Saat ini, bloger sudah setara dengan wartawan atau jurnalis. Bedanya, wartawan menulis untuk media orang lain; media daring maupun media cetak. Sedangkan bloger, menulis untuk media mereka sendiri, situs pribadi. Kelebihan bloger yakni tulisan yang mereka hasilkan lebih personal serta mengikutsertakan diri sendiri dalam tulisan tersebut.

Lentera sendiri memiliki blog untuk tulisan-tulisannya. Dia pun sering menerima tawaran menulis via e-mail untuk blog pribadinya. Tapi, dia jarang menerimanya, terutama ketika tema yang ditawarkan tidak sesuai dengan isi blognya. Dengan pengetahuannya itu, Lentera mengenal beberapa bloger Surabaya maupun bloger Bandung yang dikenalkan oleh Raka.

Berbicara mengenai Raka, lelaki itu sudah tak menghubungi Lentera lagi. Sudah tak ada pesan singkat yang memenuhi perpesanan WhatsApp maupun surel. Lentera sendiri sedang membiasakan diri tanpa pesan-pesan dari mantan kekasihnya itu.

Mantan kekasih. Lentera sama sekali tak pernah berpikir, dua kata itu akan menjadi status terbaru Raka untuk mereka.

Setelah pertemuannya dengan Nadin, Raka tidak ada kabar. Lentera pun tak berusaha menuntut penjelasan darinya, sehingga ia biarkan saja Raka mengambil waktu. Barulah tiga hari setelah itu, Raka menemuinya, di HaloNona. Kemudian, mereka keluar membeli makan siang tidak jauh dari kantor.

"Apa kabar Nadin?" tanya Lentera. Perempuan itu mengaduk es kopi susunya secara perlahan, sembari menunggu Raka bicara. Dua piring sisa makan siang mereka masih berada di atas meja. Sisa-sisa potongan ayam dan nasi bertebaran di atas piring porselen putih.

"Dia sudah kembali ke Bandung," jawab Raka. "Ra, maafkan aku."

Jantung Lentera berdebar, sudah lama ia tak pernah merasakan debaran menyesakkan ini. Raka sama sekali tak pernah membuatnya sakit hati, hubungan mereka berjalan sangat mulus. Pertengkaran kecil sering terjadi, tetapi tak pernah seserius ini.

"Kau tahu, aku tidak akan pernah menikah dengan seseorang yang sudah mengkhianatiku," ucap Lentera. "Sehingga, penjelasan apa pun, tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi."

"Ra..."

"Aku hanya penasaran," sahut Lentera. "Kenapa kau begitu ingin menikah denganku, kalau kau sendiri memiliki perempuan lain?"

"Aku dan Nadin bertemu lima bulan lalu, dia travel blogger, sama sepertiku," kali ini Raka kembali mengambil alih percakapan. "Kami terlibat pekerjaan bersama, selama satu minggu. Hubungan kami hanya sebatas itu. Dan, terjadi begitu saja." Raka terus berbicara, Lentera menahan hatinya yang sakit. "Aku akan memberimu penjelasan, meskipun tak akan mengubah apa pun."

"Hmmm."

"Aku mencintaimu, Ra, sangat," tukas Raka. Lentera mencibir. "Kau tak perlu meragukan itu. Kau tahu, kan?" Lentera hanya diam. Raka menarik napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya. Dia menatap Lentera. Keduanya membagi luka dari tatapan mata masing-masing. Lalu, Raka tersenyum kecut. "Sayangnya, kau sudah tidak mencintaiku."

"Apa alasanmu berkata demikian?" tanya Lentera gusar. "Kau ketahuan memiliki perempuan lain, lalu sekarang menuduhku seperti ini?"

"Dengarkan aku," potong Raka. "Hubunganku dengan Nadin, awalnya hanya sebatas teman."

"Nadin hamil," sahut Lentera. Raka melihat ke arahnya. Pundak Lentera merosot. Dugaannya, benar. Dia tertawa. "Aku benar."

"Maaf," ucap Raka, menyesal. "Kami melakukannya hanya karena suka sama suka. Aku tidak tahu, hal itu akan menjadi seperti sekarang."

Before Wedding [SUDAH DIBUKUKAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang