Air mengetuk-ngetuk pada kaca jendela, Lentera melihat ke luar sekilas. Dia mendesah, kemudian kembali menatap ke layar komputer jinjingnya yang berpendar. Jarum jam di atas mejanya menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit. Masih terlalu pagi untuk hujan.
Semoga segera reda.
Ia bukan membenci hujan, tetapi ia sama sekali tidak suka dengan hujan. Hujan turun membuat harinya berantakan, membuat pakaiannya basah, dan membuatnya terlambat ke kantor. Dan yang paling dibencinya adalah ketika ia harus bertemu klien untuk HaloNona, hujan turun dengan deras. Seringnya, Lentera datang terlambat untuk bertemu klien, sebab dia terjebak macet. Macet di jalanan Surabaya adalah hal lumrah, lalu ketika hujan macetnya semakin parah dan itu membuatnya kesal.
Memang, urusan bertemu klien adalah tugas Avel sebagai tim marketing HaloNona, tapi tak jarang Lentera turun sendiri apabila sudah membahas mengenai artikel yang akan tayang di media mereka. Bisa saja mereka berkomunikasi via online, namun ada beberapa hal yang mengusik Lentera apabila klien mereka ada di Surabaya dan bisa datang ke Surabaya.
Lebih enak bertemu langsung, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Lentera meraih cangkir berkelir kuning di sebelah komputer jinjingnya. Cangkir itu berisi kopi hitam tanpa gula, ia menyesapnya perlahan. Baginya, mengawali hari dengan kopi pahit adalah pilihan yang tepat. Sama seperti Raka, mereka berdua penyuka kopi. Bahkan, keduanya bertemu di kedai kopi.
Mengingat Raka, Lentera meraih ponselnya. Melupakan garis tegak lurus yang berkedip-kedip pada lembar Ms. Word yang ia biarkan terisi separuh.
Kau sudah di rumah?
Ia mengirim pesan kepada kekasihnya itu. Dua hari lalu, Raka sudah di Indonesia, tetapi kekasihnya itu masih di Bandung. Urusan pekerjaan. Dia bilang ada salah satu brand di Bandung yang mengundangnya untuk datang ke acara.
Masih di kereta. Dua jam lagi sampai Gubeng.
Kekasihnya membalas. Lentera segera mengetik pesan.
Bisa bertemu nanti malam? Aku rindu.
Butuh waktu beberapa menit, sampai Raka membalas.
Tentu, Sayang.
Lentera meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Ia kembali menekan tombol-tombol kibor dengan sesekali melihat ke arah buku catatan yang terbuka sejak tadi. Ia membolak-balik buku tersebut, mencari poin-poin artikel yang ia tulis sebelumnya.
Entah kenapa, melihat buku catatan tersebut mengingatkannya dengan Gilang, terutama kalimat Gilang yang diucapkan lelaki itu sebelum meninggalkan rumahnya kemarin lusa.
"Sinting," tanpa sadar, Lentera kembali mengumpat. Tapi, ada sedikit kehangat dalam dadanya.
Lentera kembali menekuni kalimat-kalimat dalam layar komputer jinjingnya, melupakan hujan di luar sana yang semakin deras.
***
"Pernikahan Syahrini dan Reino lagi hangat-hangatnya, nih, artikel di Lentera Media sudah naik duluan," tukas Deenar, pemilik HaloNona sekaligus sahabat Lentera.
Mereka berada dalam ruang rapat, Deenar melihat ke arah layar proyektor. Dalam layar tersebut membuka situs Lentera Media, pada bagian Life Today. "Saya sudah sering berkata, kita harus bisa lebih cepat daripada orang lain. Dalam kasus kita, media lain," tutur Deenar. Dia beralih kepada Lentera. "Kau sudah paham soal ini, kan?"
"Ya, aku sudah kasih tugas ke Yola semalam, tepat setelah Syahrini mengunggah foto pernikahannya," jawab Lentera. Yola adalah penulis entertainment di HaloNona. "Seperti yang kita lihat sekarang, Yola tidak hadir. Tanpa keterangan. Sudah ku hubungi, tapi tak ada hasil."
KAMU SEDANG MEMBACA
Before Wedding [SUDAH DIBUKUKAN]
Romansa[SEBAGIAN CERITA DIHAPUS - SUDAH DITERBITKAN] Lentera selalu ragu akan pernikahan, ajakan untuk menikah berkali-kali dari sang pacar-Raka-tidak mampu mengubah pendiriannya. Ketika sang ibu menjodohkannya dengan Gilang-meski gadis itu menolak karena...
![Before Wedding [SUDAH DIBUKUKAN]](https://img.wattpad.com/cover/204094849-64-k948789.jpg)