BAB 11: Nadin di Kala Kemarau

10.5K 1K 90
                                        


Lentera berjanji pada Raka untuk memikirkan mengenai pernikahan. Baginya, kata pernikahan dan dirinya tak pernah akur. Lentera menganggap pernikahan ada pembunuh mimpi-mimpi kedua bela pihak. Tak ada yang diuntungkan dari pernikahan.

Kita tak akan bisa memilih jalan sendiri, semua harus dibicarakan, tak bisa melakukan semua hal sesuai keinginan. Menikah mengenai menekan ego, mendengarkan pasangan, berpendapat, dan mengalah. Bagi Lentera itu adalah hal yang sulit. Selama ini, dia melakukan banyak hal untuk membahagiakan dirinya sendiri. Hidup seperti apa yang ia inginkan.

Rasa-rasanya, permintaan Raka terlalu berat untuknya. Dia belum tahu, apa alasan dia harus menikah. Hanya saja, dia berjanji pada Raka akan memikirkannya. Sebab, Lentera sendiri tak tahu mengenai perasaannya sendiri. Dia mencintai Raka. Dia ingin bersama lelaki itu. Tapi, sosok Gilang tiba-tiba muncul, mengacaukan segalanya.

Ah, tidak. Sebelum Gilang datang, Lentera pun belum ada keyakinan untuk Raka. Dia belum memiliki keinginan untuk bersama lelaki itu dalam waktu yang lama.

Lentera menghenyakkan dirinya di atas kursi, menaruh komputer jinjingnya ke atas meja, lalu membukanya. Secara otomatis, benda pipih itu menyala dan menampilkan layar dengan latar belakang tumpukan buku.

"Pukul sepuluh kita meeting, ya," tukas Deenar, yang baru saja masuk kantor. Lentera mengangguk, diikuti dengan karyawan lain dengan berkata, "Siap."

"Kerja sama kita dengan Lentera Media sudah hampir selesai," Deenar membuka percakapan. "Saya akui, kerja sama ini memberikan dampak baik untuk HaloNona. Selain trafik yang cukup meningkat, pun mempengaruhi kepercayaan investor. Sehingga, mereka menanamkan modal lebih."

"Pak Aldric?" tanya Lentera.

"Betul," sahut Deenar. "Pertemuan kita waktu itu membuahkan hasil. Mungkin juga karena permintaan istrinya," tambah Deenar.

Deenar pun membahas mengenai hotel yang akan dijadikan tempat menginap acara puncak nantinya. Lentera menjelaskan apa yang dia ketahui ketika ke Malang kemarin. Meskipun dia sudah bercerita ke Deenar, hanya saja agar karyawan yang lain pun tahu.

"Jadi, kita bakalan dapat kamar juga, sekamar berdua, ya," tutup Lentera. Avel dan Luki langsung bersorak. "Oh ya, Dee. Kita jadi mencari orang baru, tidak?" akhir bulan lalu, satu karyawan HaloNona mengundurkan diri. Sehingga, pekerjaan Lentera bertambah dan itu menyebalkan.

"Jadi. Kau urus ya," tukas Deenar. Lentera mengangguk, sebagai tanda kesanggupan. "Oke. Sekarang, kita bahas tema bulan ini."

***

Yang terdengar pertama kali ketika memasuki halaman HaloNona adalah musik klasik. Ini jam makan siang kantor, Gilang memutuskan untuk mampir ke kantor HaloNona. Dia sudah membuat janji dengan Deenar. Tentu, ini tanpa sepengetahuan Lentera. Sebab, memang dia datang bukan untuknya.

Gilang langsung masuk ke dalam kantor yang didominasi perempuan itu, tentu saja, kecuali Luki. Tak seperti kantor Lentera Media, kantor HaloNona berukuran kecil. Memang, media ini belum terlalu pesat berkembang. Meskipun, Lentera Media dan HaloNona berdiri di tahun yang sama. Sebab itulah, Gilang memiliki ide sedikit gila.

Itulah alasan dia datang menemui Deenar.

Pada ruangan utama, Gilang melihat kubikel-kubikel yang kira-kira terdapat sekitar tujuh meja dan kursi. Salah satu kubikel tersebut, ada meja Lentera. Perempuan itu tidak menyadari kehadiran Gilang, dia sibuk menatap layar komputer jinjingnya dengan dahi berkerut. Gilang menarik sudut bibirnya, berjalan ke arah perempuan itu.

Gilang mengetuk meja Lentera dua kali.

Perempuan itu mengarahkan pandangan ke arahnya, seketika kerutan di dahinya mengendur, bergantikan ekspresi bertanya-tanya. "Deenar di dalam?"

Before Wedding [SUDAH DIBUKUKAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang