Mine

6 4 0
                                        

Terkadang sebuah 'kata' mempunya tujuan yang sama
Hanya caranya penyampaian saja yang beda
Antara salah dan benar, dialah yang menentukan
~ Reva Andita ~
.
.
.
.
.

" Maaf bal, gw gak sengaja." Gw gak tau ini kata maaf yang keberapa. Tapi gw gak mau ada di situasi kayak gini. Ya Tuhan bantu revaaa.

Dia menyeringai sambil memajukan kepalanya hingga bibirnya sampai di telinga gw.

" Lo bilang ini bercanda, oke. Gw bakalan ajarin Lo yang serius." Bisiknya lalu meniup telinga gw.

Author POV

" Bal, tolong jangan kayak gini. Gw risih!." Ucap Reva sedikit tegas.

" Kenapa sayang?." Iqbal sedikit menjauh dari wajah Reva dan cengkraman nya dilepaskan. Terlihat pergelangan tangan Reva yang memerah.

Reva yang mendengar itu langsung sangat syok lalu ia memalingkan wajahnya ke arah lain, ia yakin sekarang pipinya pasti seperti kepiting rebus. Ah reva benci ini.

" Gw suka liat lu kayak gini." Senyum Iqbal terlihat manis. Reva yang benar-benar sudah malu, berusaha untuk pergi. Namun pergelangan tangannya kembali ditahan.

" Lo harus ikutin kemauan gw!." Reva yang mendengar itu langsung berbalik.

" Siapa Lo sok ngatur-ngatur gw?." Tegas Reva yang menunjuk muka Iqbal.

" Gw pacar Lo." Tegas Iqbal.

" Mimpi apa gw semalem? Ditembak cowok gada romantis - romantisnya." Batin Reva.

" Apaan sih Lo? Seenak jidat ngeklaim gw jadi pacar Lo. Emang gw mau?." Katakan lah Reva munafik. Ntah kenapa hati dan mulutnya slalu bertolak belakang. Disisi lain ia tidak mau mengecewakan sahabatnya, untuk itu Reva harus mengorbankan perasaannya.

" Iya Rev, ini jalan terbaik. Lo harus ngorbanin perasaan Lo sendiri. Lo harus jaga perasaan sahabat Lo. Iqbal gak pantes buat Lo." Batin Reva menguatkan.

" Yakin? Gw tau Lo suka sama gw Rev. Gw tau Lo kayak gini karena Alletha kan? Dah lah Rev, lupain aja sahabat Lo itu. Dia gak guna, cuman nyusahin doang." Reva yang mendengarnya sangat marah. Baru pertama kali sahabatnya ini di hina.

" Lo! Ternyata mulut Lo kayak cewek ya, bisanya cuma nyinyir. Bahkan Lo lebih gak guna dibanding sahabat gw. Apa hak Lo ngomong kayak gitu? Siapa Lo? Sekali lagi Lo hina sahabat gw, Lo bakal dapet hadiah dari gw !." Ujar Reva penuh penekanan.

" Wah, mau dong hadiah. Sebelum gw dapet hadiah, Lo dulu yang gw kasih hadiah." Iqbal menunjukkan smiriknya.

Ia melangkah maju dan Reva terus mundur. Ntah sejauh mana Reva sudah mundur  hingga punggungnya terbentur dinding.

" Siapa sih yang naro dinding disini?." Batin Reva.

Kini jarak mereka sangat dekat, hanya dibatasi beberapa senti saja.
Iqbal memajukan wajahnya hingga bibirnya menyentuh telinga Reva.

" Lo harus jadi pacar gw sekarang, dan gw janji gw akan bahagiain letha.sahabat Lo. Tapi kalau Lo nolak gw, jangan harap letha masih bisa tersenyum. Inget! Turutin kemauan gw, sebelum semuanya terlambat Reva Andita. Keputusan ditangan Lo. Kalau Lo setuju, gw tunggu diparkiran sekolah! Dan Lo pulang bareng gw." Ucap nya penuh penekanan.

Setelah itu Iqbal pergi meninggalkan Reva yang menegang. Otak Reva kembali mencerna ucapan Iqbal tadi.

" Dia bercanda kan? Kok gw merinding ya." Gumam Reva

" Ah Reva bego, lu abis ini ulangan tolol. Ngapain lagi masih disini." Panik Reva dan meninggalkan tempat itu.

- kelas

She Is SpecialTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang