5. LAKSMANA DAN SARPAKENAKA

3.5K 72 0
                                        

Setiap perempuan ingin punya wajah cantik dan tubuh yang molek, tapi nasib baik tidak berpihak kepada semua orang. Banyak yang tidak beruntung, wajah tidak menarik, tubuh porak poranda.
Itulah suratan takdir Sarpakenaka, adik perempuan Rahwana. Terlahir sebagai seorang raksesi yang cantik, banyak raksasa yang mengejarnya. Bingung dengan pilihannya, ia menikah dengan salah satu raksasa, tapi menjalin affair dengan banyak yang lain di belakang suaminya.
Masalahnya, si jalang Sarpakenaka tidak puas hanya dengan raksasa, ia juga menyukai manusia, yang di matanya lebih tampan dan lebih sedap dipandang. Kebetulan raksesi ini punya ilmu mengubah dirinya menyerupai wujud siapapun yang dia inginkan. Itu modalnya menjalin affair dengan manusia.
Iapun pergi dari negaranya, Alengkadirja, dan menetap di hutan Dandaka.

*

Rama dan Sinta diiringi Laksmana mengembara ke hutan Dandaka. Mereka mendirikan sebuah pondok untuk tempat tinggal. Rama dan Laksmana bergantian berburu atau mencari kebutuhan lainnya, misalnya buah-buahan, kayu bakar dan mengangkat air, sementara Sinta mengurus dapur dan beberes isi pondok.

Sarpakenaka cepat mengendus kehadiran para penghuni baru yang tampan dan gagah itu. Menguntitnya, mengamati dari jauh. Seketika ia menjadi tak enak makan dan tak nyenyak tidur. Ada rasa tertarik yang hebat kepada Rama, bercintapun selalu membayangkan sosok ksatria itu.

Setelah beberapa hari mengamati, ia mengubah diri menjadi seorang perempuan cantik. Diambilnya panah yang meleset di tanah dan sengaja ditancapkan di dadanya, berbaring di dekat seekor kijang yang dipanah Rama.
Pemuda itu kaget melihatnya, merasa menyesal panahnya salah sasaran, bermaksud membalut lukanya.

Dengan berani Sarpakenaka membuka pakaiannya, berharap Rama terpesona melihat payudaranya yang mengkal. Sayangnya pemuda itu seorang suami yang setia, dan yang dilihat dan disentuhnya saat membalut luka, tidak lebih indah dari milik istrinya. Ia tidak tergiur.
"Kanda Rama, sebagai ucapan terima kasih, ijinkan hamba melayanimu semalam ...," rayunya.
"Maaf, Sarpakenaka, aku sudah beristri," tolak Rama, "tapi aku punya seorang adik yang tidak kalah gagah dan tampan dariku, namanya Laksmana."
"Bagaimana aku bisa berkenalan dengannya?"
"Dimana rumahmu?" tanya Rama, "beberapa hari lagi akan kusuruh dia mengantar dendeng kijang ini."
Sarpakenaka menunjukkan rumahnya, sebuah pondok di dekat sungai.

Beberapa hari kemudian Laksmana mencari rumah Sarpakenaka. Gadis itu sedang mandi di sungai.
"Hamba Sarpakenaka, Kisanak." Mengetahui seorang pemuda tampan mencarinya, bukannya membenamkan diri di air, tanpa malu Sarpakenaka keluar dari sungai, mempertontonkan kemolekan tubuhnya. Pemuda itu membalikkan badan, merasa tidak sopan melihatnya, tapi ....

"TOLONG!"
Laksmana refleks membalikkan badan, ada dua ekor ular menggigit Sarpakenaka, di payudaranya, dan di bawah pusarnya, dekat kerimbunan semak-semak. Dicabutnya pedangnya, dengan beberapa sabetan, tubuh kedua ular itu terpotong-potong. Ularnya beracun, Sarpakenaka jatuh ke arah Laksmana dengan wajah membiru.

Membaringkan gadis jelmaan raksesi itu di tanah, tanpa ragu Laksmana mengisap luka gigitan ular di payudara Sarpakenaka. Setelah beberapa kali ia mengisap dan memuntahkannya, kulit di sekitar luka di payudara itu kembali normal. Gadis itu merintih-rintih menunjuk lukanya yang lain.
Agak ragu pemuda itu mengisap bisa di bekas gigitan ular. Titiknya terlalu dekat dengan area intim Sarpakenaka.

Setelah berhasil mengeluarkan semua racun, Laksmana membalikkan badan, tak mau memandang tubuh molek telanjang Sarpakenaka.
"Pakailah pakaianmu," katanya.
Namun gadis cantik jelmaan raksesi itu memeluk pemuda itu.
"Ijinkan hamba memberikan kesenangan kepadamu, Kisanak. Bukankah engkau tidak beristri?"
Laksmana mengurai pelukan Sarpakenaka.
"Maaf, Cantik, aku tak bisa melakukannya denganmu. Ada seorang gadis yang telah mencuri tubuh dan jiwaku. Aku tak ingin bersetubuh dengan perempuan manapun selain gadis yang kucintai itu."
Sarpakenaka mengernyitkan kening, raksesi itu tahu betul tak ada manusia perempuan di hutan Dandaka, selain Sinta. Iapun membuka mata lebar-lebar menyelidiki.

*

Sarpakenaka mengamati dan menyimpulkan pemuda tampan itu mencintai kakak iparnya, dan punya hubungan gelap di belakang kakaknya. Laksmana akan terjaga sampai tengah malam, menunggu kemungkinan Sinta masuk ke kamarnya. Jadwalnya tidak bisa dipastikan, karena mood Rama meniduri istrinya juga tidak menentu.

Raksesi itu mengubah diri menjadi Sinta dan masuk ke kamar Laksmana menjelang tengah malam, pergi menjelang dini hari.
Pemuda itu tak curiga, setiap malam bercinta dengan Sinta palsu, ia tak merasakan bedanya. Ada beberapa varian posisi baru, dikiranya sang kakak ipar mempelajari Kamasutra lebih lanjut.
Hidupnya terasa lebih berarti, tiap hari ingin malam segera tiba. Setiap senja ingin Rama segera menuntaskan hajatnya dan Sinta bisa menemuinya. Tak disadarinya kakak iparnya datang semakin sore, tidak menjelang tengah malam seperti dulu.
Sarpakenaka pun merasa puas, Laksmana lebih perkasa dari selingkuhannya yang manapun.

Rama yang melihat perubahan, adiknya setiap hari penuh semangat, dan di malam yang sunyi ada suara desah dan erangan di kamar sebelah. Pasangan Laksmana itu tak tahu malu, sangat berisik saat berolahasmara.
"Mana kekasihmu?" tanya Rama suatu hari menggoda, "mengapa tak kauperkenalkan?"
Laksmana gelagapan tak bisa menjawab, melirik Sinta yang menyimak penuh perhatian.
"Aku mendengar suaranya setiap malam," Rama tertawa, "tak mungkin kan gadis itu pemalu?"
Laksmana merasakan ada yang tidak beres. Bagaimana mungkin Rama mendengarnya? Bila tidak tidur, tak mungkin Sinta pindah ke kamarnya. Dan kakak iparnya, tadi tak terlihat salah tingkah.

Sebaliknya, ada cemburu di hati Sinta, ada rasa ingin tahu siapa kekasih adik iparnya. Ditunggunya kesempatan Rama tertidur pulas setelah menggaulinya, dan ia membuka pintu kamar Laksmana.

*

Laksmana menoleh dengan marah, merasa terganggu aktifitasnya oleh derit pintu kamar, lalu kaget melihat Sinta. Lah yang sedang dijelajahnya ini siapa?
Cepat ia keluar dari goa kenikmatan, bangkit mengambil pedang dan menodongkannya ke leher perempuan yang belum selesai digaulinya, "siapa kau sebenarnya?"
"Aku Sinta yang asli, Kanda."
Fix! Ini yang palsu! Yang asli memanggilnya Dinda.
"Tunjukkan wujud aslimu!" ancamnya berlagak menyabetkan pedang ke leher.
Sinta palsu mengelak, hidungnya tersambar. Menjerit kesakitan, ia berubah ke wujud aslinya, seorang raksasa perempuan. Laksmana murka, ia bermaksud membunuhnya, gesit raksesi itu berkelit, telinganya terpotong, iapun melarikan diri tanpa memperdulikan tubuhnya yang telanjang.

Laksmana menarik napas panjang, lega. Membuka lengannya, berjalan mendekati Sinta.
Kakak iparnya merajuk, pura-pura marah. Sudah dua bulanan Rama asyik menguping aktifitas seksual adiknya. Tidak sempat bercinta dengannya, karena suara erotis itu baru berakhir menjelang pagi.

"Tidakkah Kanda merindukanku?" tanya Laksmana mulai mencumbu.
"Untuk apa? Bukankah kebutuhan Dinda sudah terpenuhi oleh raksesi itu?"
"Kanda merasa jijik karena Dinda baru saja menyetubuhi seorang raksesi?" Pemuda itu tak mau undur, mulai membuka pakaian Sinta, "bukankah Kanda ke sini selalu setelah bercinta dengan Kanda Rama?"

Surabaya, 15 Juli 2020
#NWR

SINTA JALANGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang