Perjodohan yang membuat ku terjebak dalam pernikahan ini. Pernikahan yang seharusnya di isi oleh komitmen bukan penghianatan. Diisi denga kasih sayang bukan hanya sekedar abaian. Diisi dengan kebahagiaan bukan rasa sesak di dada yang begitu menyakit...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lu ikut kan Mo..."
Lagi-Lagi Monik menggelengkan kepala, susah sekali membujuknya ikut ke pesta reunian. Berbagai alasan terus saja keluar dari mulut cerewetnya itu.
"Ayolah mo..."
"Gua gak ikut Arielin..."
"Why....?"
"Gua udah bilang banyak urusan lebih penting dari Reunian itu. Emang lu, yang gak punya suami dan anak yang harus di urusin."
Lihatlah mulut pedasnya itu, ingin aku sumpal pakai kaos kaki yang gak di cuci selama satu tahun.
"Lagian ngapain lu dateng sih, itu acara gak penting El. Bukan fakultas kita, acara free buat satu angkatan kampus."
"Tapi Mo, mereka mengundang satu angkatan di atas kita."
"Terus..."
Benar-benar sangat menyebalkan mulutnya.
"Gila lu, lu lupa mas Gian? Dia akan datang dong. Gua denger sekarang dia jadi gitaris terkenal di Amerika."
Monik melotot, "Are you serious, yayang gua dateng?"
Dught..., kutendang kakinya.
"Auuuuwww... Sakit begok." maki Monik pada ku.
"Yayang pala lu peyang, lu punya mas Roni begok. Sadar..."
"Santai dong begok, gua kan cuma fansnya mas Gian. Tapi kalau mas Roni ngijinin gua buat poliandri ya gua oke oke aja hehe.."
Aku menggeleng mendengar ucapan konyolnya. Ya aku tahu Monik sangat menyukai Gian, kakak tingkat satu fakultas kami. Gian dulu memang salah satu pria popular karena ketampanan dan keahliaanya memainkan gitar, jadi banyak wanita yang mengagumi gitaris itu termasuk aku dan Monik.
"Jadi lu ikut atau gak?"
Monik mengangguk cepat, "Ya ikut dong, gua mau ketemu yayang gua."
"Lu Mo amit-amit deh lu. Lu istri orang, jangan gatel kenapa! Biarin Mas Gian buat gua..., lu gak kasihan apa, gua udah menjanda hampir 7 tahun tau.."
"Itumah derita lu begok." ia berdiri dari duduknya pergi setelah menoyor kepala ku.
"Awas lu mo...!"
"Hahaha..." ia tertawa puas setelah menjahili ku. Dengan tingkah gilanya ia terus tertawa hingga memasuki mobilnya dan pergi dari rumahku. Ingatkan aku untuk menimpuk kepalanya dengan batu saat bertemu lagi.
••••••
Disinilah kami di sebuah kafe terbesar di bali, kafe ini di sewa khusus untuk Reuni hari ini. Aku menggunakan dress mint tanpa lengan dengan hight hill putih. Entah kenapa awalnya aku bersemangat bertemu teman teman ku dan tentunya Gian tapi sekarang melihat teman-teman ku datang dengan pasanganya mebuatku menciut. Sekarang aku bagai kerupuk yang tenggelam dalam kuah lontong. Mlempen dan minder. Harus bagaimana lagi, aku terlanjur datang.