Suasana di ruangan ini tiba-tiba menjadi hening. Haneul menunduk menunggu respons dari teman-temannya. Ia merasa bersalah sekarang, terlebih kepada Hyunki.
"Aku tidak tahu akan begini." Haneul berkata pelan.
"Kapan kau akan berangkat?" Chan menghela napas panjang. Ia bingung harus sedih karena akan berpisah dengan Haneul lagi atau karena Hyunki belum menyelesaikan tugasnya.
"Lusa." Jawaban Haneul ini membuat Seungkwan tersedak.
"Kacau. Animasi Hyunki belum bisa selesai lusa sepertinya."
"Memangnya kau ke belum mengerjakannya sebelum ke sini?" Kali ini Chan bertanya pada Hyunki yang sekarang sedang kalut dalam pikirannya.
"Aku sudah mengerjakannya setengah. Tapi saat aku di sini, ada beberapa yang aku ubah lagi." Hyunki menundukkan kepalanya.
Beberapa saat yang lalu, ponsel Haneul berdering saat mereka sedang berkumpul di rumah Chan. Haneul bilang panggilan itu berasal dari temannya yang di Tokyo.
"Aku harus kembali. Ada hal yang mendesak di sekolahku." Saat kalimat itu diucapkan oleh Haneul, ketiga temannya itu sangat terkejut mendengarnya.
Demi apapun sekarang pikiran Hyunki sangat kusut. Satu persatu masalah datang dan menyerangnya. Semua pemikiran di benaknya dipenuhi oleh hal-hal negatif.
Dibanding dengan hal-hal lain, yang sangat dipikirkan Hyunki sekarang adalah Hansol. Ia tak tahu apa yang akan Hansol katakan nanti. Tujuan mereka datang ke sini demi tugasnya, itu yang sekarang terbayang di benak Hyunki.
'Rumit sekali keadaanku demi mengerjakan tugas ini.' Batin Hyunki sedang gelisah sekarang.
"Eum.. Bisakah kau mengisi suara setengah durasinya dulu? Yang sudah aku selesaikan. Untuk setengah terakhirnya biar aku pikirkan nanti." Hyunki berbicara sangat pelan, nyaris tidak didengar oleh teman-temannya.
Belum sempat mereka menanggapi, Hyunki lanjut berbicara.
"Tolong jangan beritahu Hansol, aku akan menghubunginya nanti."
Hyunki beranjak dan meninggalkan ketiga temannya yang sedang menatapnya tidak enak.
~~~
Hyunki mengambil laptopnya di meja belajarnya lalu kembali mengerjakan animasi itu.
"Aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan." Hyunki terus mencoba fokus dengan tangannya yang terus bergerak gemetar di atas buku catatannya.
Hyunki berbalik melihat Haneul yang saat ini membuka pintunya setelah mengetuknya beberapa saat.
"Bisa ku bantu?" Hyunki tersenyum melihat Haneul yang datang tanpa ia panggil.
"Kau akan pergi lusa, jadi sekarang bantu aku memikirkan ide untuk menyelesaikan tugas ini. Ah, rasanya aku sangat bodoh untuk bisa mengakui diri sebagai siswa animasi di universitas Amerika."
Haneul menonton video animasi buatan Hyunki. Itu sudah sangat bagus di mata Haneul.
Haneul terkikik saat melihat karakter-karakter dalam animasi itu.
"Aku yang menonton ini juga bisa menebak kisah karakternya sama dengan kisah kau dan Hansol, benarkan?" Haneul tertawa melihat wajah Hyunki yang memerah.
"Hei, kenapa malu? Bukannya pada akhirnya banyak yang akan menonton ini? Lihatlah, kau menggambarkan karakter Hansol dengan sangat tampan ya. Hahaha."
Hyunki ikut tertawa mendengar apa yang dikatakan Haneul. Benar kata Haneul, salah satu alasan mengapa Hyunki sangat lama menyelesaikan tugasnya itu karena ia sangat ingin membuat karakter utama pria dalam animasi itu sempurna.
"Aku berusaha membuat Hansol percaya pada kemampuanku." Hyunki menatap ponselnya yang nenampilkan salah satu penggalan lirik lagu yang ditulis Hansol untuknya.
"Nah, baiklah, kau berikan naskahnya nanti. Besok aku dan Chan akan menemui Soonyoung sunbae, kebetulan dia punya studio yang bisa aku gunakan untuk rekaman." Haneul mengalihkan perhatian Hyunki dengan memegang pundak sahabatnya itu.
"Sekarang, yang harus kau lakukan hanyalah memikirkan kisahmu bersama Hansol. Aku tahu, di pertengahan cerita ini tersendat karena kau sedang ada masalah dengannya. Nah sekarang kamu bayangkan apa yang kau inginkan untuk menjadi resolusi dalam kisahmu ini, anggap saja sebagai harapan." Haneul mendorong pelan tubuh Hyunki untuk menghadap ke arah monitornya lagi.
"Terima kasih, Haneul." Hyunki tersenyum penuh arti melihat segala kebaikan yang ia dapatkan dari teman-temannya.
"Tentu. Aku akan ke dapur membantu ibu menyiapkan makan malam."
Hyunki tertawa pelan mendengar Haneul menyebut ibu Chan hanya dengan sebutan 'ibu'.
~~~
Haneul melambaikan tangannya kepada teman-temannya yang mengantarnya ke bandara. Bahkan Hansol juga ada di sana.
Hansol sudah diberitahu oleh Hyunki kemarin, walaupun melalui pesan singkat.
Namun bukan seperti yang lainnya kira, hubungan mereka belum kembali seperti semula. Entah bagaimana akhirnya nanti, mereka masih sibuk dengan ego masing-masing.
---
"Aku akan pulang duluan, paman juga menjemputku. Kalian pergi saja." Hyunki pamit saat mereka akan pergi untuk makan siang.
"Hati-hati." Hanya itu yang Hansol katakan sebelum melihat Hyunki yang sudah pergi meninggalkan mereka.
"Hah. Akhirnya kita berkumpul bertiga lagi." Seungkwan merentangkan tangannya untuk merangkul kedua sahabatnya itu.
"Kau cepatlah berbaikan dengan Hyunki, rumahku seperti memiliki efek abu-abu di sekitarnya."
Hansol hanya berdeham menanggapinya. Mereka lalu tertawa bersama. Mereka tahu apa yang Chan maksud dengan 'efek abu-abu' itu.
Hansol kembali terdiam, lebih tepatnya kembali larut dalam pikirannya. Ia masih berharap semua hal akan baik-baik saja untuknya maupun Hyunki.
.
[ToBeContinued]
.Vote, dan komeeen 🧡🐿

KAMU SEDANG MEMBACA
Lagom•
Fanfiction"Just like my life. With you. It's not too little. Not too much. Just right." -Hansol Chwe. ~~~ Vernon SVT x OC cast hampir semua dari cast story "this feeling" -semacam kisah spinoff dari this feeling- Tapi bisa dibaca tersendiri kok.