3

524 108 19
                                        

Naresh baru saja keluar dari kelas, berkali-kali menguap karna semalam tidak bisa tidur akibat obrolan semalam. Saat hendak menguap lagi, matanya menangkap sosok yang familiar di koridor. Seorang siswa dengan wajah tenang, duduk santai di bangku kosong.

"Halo. Yandra, kan? Yang waktu itu ketemu di halte."

Sosok itu menoleh, tersenyum tipis. Yandra.
Dia tidak menyangka remaja berwajah manis itu masih mengingatnya.

"Iya, Naresh."

Naresh refleks membeku. Ekspresinya menunjukkan perkataan, Loh, kok dia tahu nama gue?
Belum sempat ia bertanya, Yandra mengarahkan jarinya untuk menunjuk ke nametag yang menempel rapi di dada kirinya.

"Oh? Hehe, iya juga." Naresh tertawa kecil, sedikit malu karena sempat berpikir aneh. Cepat-cepat ia mengalihkan topik. "Gue nggak pernah liat lo sebelumnya. Anak baru, ya?"

Yandra mengangguk ringan. "Iya. Besok baru masuk kelas. Hari ini cuma keliling dulu."

Naresh mengangguk paham. Bel masuk pelajaran hampir berbunyi, dan ia buru-buru pamit. Guru berikutnya terkenal galak—terlambat sedikit saja bisa langsung diusir dari kelas.

"Ya udah, gue cabut dulu. Sampai ketemu besok, Yan."

Yandra menatap punggung Naresh yang berlari kecil meninggalkan koridor. Senyumnya tidak pudar.

"Wah. Aku disapa lagi, kupikir dia bakal lupa."

Suara lain mendadak memotong lamunannya. Berat, datar, tanpa ekspresi.

"Yan. Ayo pergi, sebelum gerbang ketutup. Lo nekat banget dah. Bikin gue repot."

Yandra menoleh. Seorang pemuda berseragam serba hitam berdiri tak jauh darinya. Kulitnya pucat, tatapannya terlihat kesal. Pratama Benji.

"Aku tahu, Ben," sahut Yandra pelan. "Tapi... kayaknya aku bakal sekolah di sini deh."

Benji hanya diam sejenak, lalu menghela napas panjang. Ekspresi malasnya muncul, seolah sudah muak dengan keputusan temannya.

"Terserah lo. Tapi kalau kejebak, jangan minta tolong sama gue."

Tanpa menunggu jawaban, Benji berbalik pergi, meninggalkan Yandra sendiri di koridor. Yandra menatap kepergiannya, bibirnya mengerucut sebal.

"Dih, pelit banget jadi temen."

Dan yap, cerita ini bersambung.

Dan yap, cerita ini bersambung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pratama Benji

Sebenarnya dia adalah teman yang menyenangkan bagi Yandra. Dia setia kawan, sangat mengkhawatirkan Yandra, suka iseng, main puzzle dan selalu ada di sisi Yandra.

Kamar 302Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang