Renja, Bintang, dan Haidar tidak menemukan Naresh di manapun. Anehnya, pihak sekolah tidak mempermasalahkan absensi Naresh. Biasanya, kalau sudah tiga hari tidak masuk, otomatis ada surat peringatan untuk teman sekamar. Tapi kali ini, nihil.
Tidak ada surat. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada apa-apa.
“Aneh,” gumam Bintang, kantung matanya sudah terlihat lebih gelap. Jelas tak bisa tidur karna Naresh menghilang.
Dia makin resah saat coba bertanya pada teman-teman sekelas Naresh, mereka berempat tak sekelas. Jawabannya sama, monoton, seperti sudah diatur: “Naresh datang kok hari ini.”
Padahal demi Tuhan, kamar Naresh kosong. Ponselnya mati. Jejaknya lenyap. Bahkan Naresh yang selalu di dekat Bintang sekarang tak nampak sehelai rambut di sisi Bintang.
Renja jadi ikut cemas, Haidar juga. Mereka tahu Naresh bukan tipe anak yang gampang menghilang begitu saja. Anak itu selalu bercerita tentang apa pun, bahkan hal-hal receh. Hilangnya tanpa jejak—tanpa sepatah kabar pun—tidak masuk akal.
Yang lebih bikin merinding, panti asuhan tempat Naresh berasal—panti yang dikelola keluarga Bintang—mengaku Naresh masih rutin berkirim pesan dengan pihak Panti.
Tapikan, nomor Naresh mati.
Lalu... siapa yang mengaku-ngaku sebagai Naresh? Atau apakah Naresh mengganti nomor ponselnya dan sengaja tak memberitahukan pada mereka? Tapi kenapa?
Pertanyaan itu terus muncul di pikiran mereka.
---
“Gue takut, kalo Naresh diculik penunggu kamar itu, Bin. Sumpah ini aneh banget. Naresh hilang tapi absensinya tetep hadir,” suara Haidar bergetar.
“Jangan asal ngomong, Dar. Nggak ada setan. Gue nggak percaya yang gituan,” sahut Bintang ketus seolah ingin menepis pemikiran yang sama dan sempat hadir di otaknya.
Renja menatap mereka berdua, bingung mau ikut sisi siapa.
Lalu tiba-tiba ada suara lain. Bukan suara mereka. “Jangan gitu.”
Mereka bertiga menoleh bersamaan.
Miguel. Si pendiam yang jarang buka mulut tiba-tiba mendekati mereka dan ikit menimpali obrolan. Anak yang lebih sering ditemui menunduk dengan buku di tangan, enggan berbaur bahkan dengan Haidar—teman sekamarnya sendiri.
Tapi hari ini, tatapan Miguel menusuk. “Lo nggak tahu aja, omongan barusan bisa ngundang mereka. Hati-hati, bisa-bisa mulut lo dirobek.”
“Ngaco lo,” Bintang mendengus, setengah jengkel.
Miguel tidak tersinggung. Ia hanya menutup bukunya pelan, lalu menatap mereka dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.
“Iya, gapapa kok kalo nggak percaya. Tapi Naresh nggak bakal ketemu, sebelum lo semua ditarik ke alam mereka.”
Ketiganya terdiam.
Miguel mengangkat dagunya sedikit. “Lo bertiga ke lantai lima kan, seminggu lalu?”
Renja, Bintang, Haidar—spontan mengangguk.
Miguel menghela nafas tapi kemudian senyum tipis terbentuk di wajahnya. Bukan senyum bahagia. Lebih mirip... pahit.
“Dia benci ada yang ganggu waktu mainnya sama Naresh. Dan lo bertiga...” suara Miguel melemah, “...udah ganggu dia.”
“Hah? Maksud lo apa deh?”tanya Bintang.
Haidar juga ikutan, “what? Dia siape buset, Mi? Jangan nakutin deh lo.”
Tanpa menjawab, Miguel memilih berjalan pergi. Punggungnya perlahan menghilang di balik pintu, meninggalkan mereka bertiga dalam diam yang mencekam.
•••
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.